Sabar, Konsentrasi dan Tembak!

Mendengar kata menembak, mungkin bagi sebagian orang adalah hal yang negatif. Tapi tidak bagi para pecinta olahraga menembak. Mereka beranggapan bahwa olahraga menembak adalah olahraga tanpa musuh. “Musuh terbesar dalam hidup ini adalah diri sendiri. Olaharaga menembak adalah olahraga melawan diri sendiri.”, ungkap Ani Farida (40) salah seorang atlet AIR RAFLE Match dan Sport Prone saat ditemui di Lapangan Lodaya, Bandung (10/4).

Ani Farida, salah seorang atlet AIR RAFLE Match dan Sport Prone sedang memberikan pengarahan.

Ani Farida, salah seorang atlet AIR RAFLE Match dan Sport Prone sedang memberikan pengarahan.

Olahraga ini berkembang di Badung berawal dari kekurangan atlet menembak yang dimiliki daerah Bandung. Semenjak itu dibentuklah sekolah menembak di Lapangan lodaya ini. Dibentuk oleh Perbakin semenjak lima tahun yang lalu. Dalam olahraga ini terbagi menjadi tiga bidang, yaitu bidang berburu, tembak sasaran dan tembak reaksi. “disini juga sudah menghasilkan banyak atlet nasional.”, ujar Ari Setiatmoko (60), pelatih nasional untuk olahraga menembak. Pensiunan PNS ini juga mengatakan bahwa sekolah ini bukan hanya untuk atlet-atlet tapi juga para penghobi menembak. Diantaranya ada dari kalangan TNI, pelajar dan masyarakat umum lainnya

Setiap hari Senin dan Rabu para pencinta dan atlet menembak ini latihan bersama di komplek Lapangan Lodaya. Mulai dari pukul 16.00 hingga 19.00, mereka melatih teknik, fisik dan mental agar mampu melepaskan peluru tepat ke sasarannya.

Para atlet dan siswa sekolah menembak sedang berlatih.

Para atlet dan siswa sekolah menembak sedang berlatih.

Namun olahraga menembak ini termasuk olahraga mahal. Ari mengatakan hal tersebut menjadi salah satu yang menghambat sosialisasi olahraga menembak ini. Untuk satu senapan angin laras panjang bisa menguras dana sekitar Rp 40.000.000. Sementara senapan angin laras pendek sekitar Rp. 26.500.000. “Namun jika ikut dalam sekolah menembak akan dipinjamkan senjata, paling beli peluru aja.”, ungkap Ari Setiatmoko. Untuk harga peluru sendiri, berkisaran Rp.6000 sampai Rp. 8000 perbutirnya. Belum lagi untuk peralatan tambahan lainnya.

Namun mahalnya olahraga ini tidak menyurutkan minat para atlet dan penghobi menembak. Mereka mengaku mendapatkan banyak manfaat dari olahraga ini. “Bayangkan saja sekali menembak kita membuang duit  Rp 6000, kami tidak mungkin buang-buang uang. Jadi harus fokus.”, kata Ani Farida. Wanita berusia 40 tahun itu mengaku mendapatkan banyak manfaat dari olahraga ini. Anggota aktif TNI-AD ini menyatakan bahwa ia lebih bisa mengatur dan menguasai emosinya. Ani menambahkan inti dari olahraga menembak tersebut adalah berpikiran positif.

Sependapat dengan Ani, Muhammad Ridho(14) yang awalnya seorang penggemar Airsoft Gun beralih ke olahraga menembak ini juga menyampaikan hal yang sama. Pelajar SMP ini merasa mendapat lebih banyak manfaat dari olahraga ini. Menurutnya olahraga ini membuat hidupnya lebih disiplin dari biasanya.

DIbutuhkan kesabaran dan konsentrasi lebih agar menguasai olah raga menembak.

DIbutuhkan kesabaran dan konsentrasi lebih agar menguasai olah raga menembak.

Leave a Reply