Tato, Seni Mempercantik Diri

IMG_9979

Studio Tato, Lucky Tattoo, di Jl. Cihampelas, No. 300, Bandung

Kala seorang pemuda dengan tato yang tergambar di lengannya menaiki sebuah angkutan umum di Bandung, Jawa Barat,  ia tak pernah menyangka akan mendapatkan reaksi tak terduga dari penumpang lainnya. Seorang siswa SD yang menaiki kendaraan serupa langsung memeluk tas sekolahnya rapat-rapat sebelum memberanikan diri untuk  bertanya, “Mas, pernah maling ya?”

Sekelumit cerita di atas adalah pengalaman dari Andre Cahyo (22), seorang mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran yang mengaku telah memiliki tato sejak 2 tahun lalu. Cerita tersebut menunjukan bagaiman stigma orang bertato masih melekat di masyarakat Bandung. Bahkan seorang anak SD ,yang notabene belum lahir pada masa Penembak Misterius (Petrus) di jaman Orde Baru, telah memiliki pandangan negatif terhadap tato.

Ternyata pandangan buruk tentang tato dari masyarakat, tidak membuat Andre menyesal telah memiliki beberapa tato di badannya. “Omongan orang sih nggak terlalu gue pikirin. Mau omongan jelek atau nggak, terserah mereka. Mereka kan nggak tahu apa alasan gue untuk bertato dan bagaimana hidup gue. Jadi, have fun aja,” tutur Andre.

“Seru rasanya bisa mengekspresikan sesuatu dengan gambar dan tulisan ke badan. Gue awalnya berpikir kalau ditato itu keren aja. Tapi ternyata tato itu seperti sejarah, jadi jejak hidup. Nggak asal keren-kerenan, bukan buat gaya-gayaan.”

Setelah mendapatkan sejumlah pengalaman, entah baik atau buruk, Andre sama sekali tak mau mengurungkan niat untuk menambah jumlah tato. “Sekali maju, lo nggak bisa mundur lagi. Sekali bikin, bukan untuk dihapus. Orang yang ditato karena latah dan ujung-ujungnya dihapus itu bodoh. Makanya, pengambilan keputusan untuk bertato itu harus mateng banget, jangan setengah-setengah,” tutup Andre.

IMG_9941

Lambang Paguyuban Tattoo Bandung di pintu depan Lucky Tattoo

Di Bandung, Andre  bukan satu-satunya orang yang mencintai tato. Hal ini dibuktikan dengan hadirnya sebuah organisasi bernama Paguyuban Tattoo Bandung (PTB) yang resmi berdiri pada tahun 2010. PTB sendiri adalah sebuah organisasi yang menaungi para pencinta tato di Bandung. Mulai dari pemilik tato, tattoo artist, tattoo apprentice, hingga para pemilik studio tato. PTB juga aktif membuat berbagai acara untuk mempromosikan tato di Bandung.

IMG_9980

Untung Hartowo (39)

“Kita baru berdiri sekitar 2 tahun tapi sudah mampu membuat 2 acara dalam skala yang cukup besar. Bahkan mampu mengundang tattoo artist dari luar negri,” ujar Untung Hartowo (39) sebagai ketua dari PTB. Di wawancarai di studio tatonya yang terletak di Jl. Cihampelas, No. 300-A, Untung menjelaskan tentang besarnya minat masyarakat Bandung terhadap tato, hal ini ditunjukan dengan selalu ramainya acara yang diadakan oleh PTB.

Harga tato yang tidak bisa dibilang murah pun tidak menghalangi minta masyarakat Bandung untuk memiliki tato. Hal ini menunjukan perubahan sikap masyarakat Bandung yang mulai menganggap tato sebagai karya seni yang memiliki nilai tinggi. Para pemilik tato pun tidak lagi didominasi oleh kaum pria, kaum wanita pun sekarang mulai berdatangan ke studio milik Untung untuk menghiasi kulitnya dengan tato.

Bagi Untung sendiri tato bukan sekedar gambar permanen di kulit. Sejak behenti dari pekerjaannya yang lama, Untung yang memiliki tato sejak duduk di bangku SMP ini memutuskan menjadi tattoo artist  sebagai pekerjaan tetapnya. Sempat membuka studio di Solo dan Yogyakarta, Untung memutuskan untuk membuka studio tato di Bandung sejak tahun 2000. Kaya akan pengalaman membuat nama Untung sebagai seorang tattoo artist terus menanjak. Bahkan Untung sempat beberapa kali diundang ke luar negeri untuk menato. Dari tatolah Untung menghidupi dirinya.Hal yang senada diungkapkan oleh Garry Walli Sorrn (30). Gary merupakan tattoo apprentice yang sedang belajar di bawah bimbingan Untung. Ia telah memutuskan tato sebagai gaya hidupnya. Garry yang kedua tangannya telah penuh dengan tato, mulai tertarik dengan tato sejak masih SMP. “Gue punya latar belakang sebagai korban bully dan pelaku bullying. Awalnya gue mau bikin tato supaya orang takut sama gue,” cerita Garry tentang awal tujuannya bertato.

IMG_9962

Garry Walli Sorrn (30)

Setelah memikirkan untuk memiliki tato sejak SMP, ketika awal kuliah akhirnya Garry memiliki tato pertamanya. Istilah “Once you go black, you never go back” yang terkenal dalam dunia tato pun berlaku bagi Garry. Sejak tato pertamanya, Garry terus menambah tato baru di sekujur badannya. Setiap tato pun memiliki filosofi tersendiri bagi Garry. “Bagi gue tato itu bukan sekedar gambar di kulit. Tato itu hampir sama kaya doa untuk masa depan. Jadi harus dibuat sebagus mungkin.”

Saat ditanya tentang pilihannya untuk menjadikan tato sebagai sebuah gaya hidup, Garry menjawab, “Sebelum ini gue nggak bisa apa-apa, cuma bisa ditato. Sampe akhirnya gue bisa nato. Buat gue ini salah satu gaya hidup. Dengan tato inilah gue mempercantik diri.”

Semua paradigma “cap nakal” pada seorang penikmat ukiran tato di tubuh tidak sepenuhnya benar. Garry bahkan punya kalimat menarik untuk mewakili hal ini, “Nggak ada patokannya orang jahat harus bertato. Lo liat Edy Tansil? Punya tato nggak dia?”

IMG_9950

Desain-desain tato Lucky Tattoo

(Tim Liputan: Rizky Nawan Putra Lubis, Abiandi Widyadhana, dan Reza Rahmandito)

Leave a Reply