KJ 21 : Together We Care

“Cinta kepada hidup, Memberikan senyuman abadi, Walau hidup kadang tak adil, Tapi cinta lengkapi kita.. Menarilah dan terus tertawa, Walau dunia tak seindah surge, Bersyukurlah pada Yang Kuasa, Cinta kita di dunia selamanya” Laskar Pelangi – Nidji

Setiap anak pasti memiliki mimpi akan masa depannya. Mimpi ini biasa kita kenal dengan nama cita-cita. Pendidikan merupakan pijakan utama untuk menggapai impian dan cita-cita mereka. Namun sayangnya, bagi sebagian anak, terutama di Indonesia, hal ini menjadi sangat sulit untuk didapatkan karena mahalnya biaya pendidikan.

Dana sebesar 20% dari APBN bahkan tidak cukup untuk memberikan pendidikan yang merata dan layak untuk seluruh anak Indonesia. Miris bukan? Tapi memang itulah faktanya, sekitar 13 juta anak diseluruh Indonesia tidak dapat mengenyam pendidikan dasar karena masalah biaya.

Keadaan menyedihkan ini sudah menjadi masalah yang tidak pernah terpecahkan. Jumlah anak putus sekolah terus meningkat setiap tahunnya. Inilah yang menggerakkan sekelompok mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran untuk membentuk unit sosial yang bertujuan membantu mengurangi jumlah anak putus sekolah khususnya di kawasan Jatinangor, Sumedang.

Kelompok Jatinangor 21 atau biasa disingkat dengan KJ 21 merupakan nama dari salah satu unit kegiatan mahasiswa (UKM) di Fikom Unpad.KJ 21 bergerak dibidang sosial untuk membantu anak-anak putus sekolah meraih kembali hak dasar mereka. Sejak dibentuk pada tahun 1998, KJ 21 hingga kini masih menjadi satu-satunya UKM yang bergerak dibidang sosial.

Pada awal pembentukannya, KJ 21 hanya beranggotakan tidak lebih dari lima orang mahasiswa yang mengasuh lima sampai sepuluh adik asuh. Kini pengurus KJ 21 periode 2010/2011 ada 12 orang dengan sukarelawan dan donatur tetap lebih dari 50 orang. Mereka bertanggung jawab atas biaya pendidikan dari 31 orang anak kurang beruntung di kawasan Jatinangor, Sumedang. Pada prakteknya apa yang dilakukan oleh KJ 21 bukanlah hal mudah. Dibutuhkan biaya yang cukup besar untuk membiayai ke 31 orang anak asuh tersebut. Dana itu mereka dapatkan dari iuran tetap pengurus KJ 21 juga sumbangan dari para donatur dan sukarelawan. Selain itu, kini KJ 21 sudah bekerja sama dengan Darma Wanita Fikom Unpad yang sedang mengusung program 5 untuk 1. Ini adalah program dimana lima orang tua asuh membiayai pendidikan satu orang anak secara keseluruhan, mulai dari biaya sekolah hingga uang saku.

“Kita baru bekerjasama dengan Darma Wanita Fikom Unpad itu satu tahun kebelakang ini.” ujar Lulu selaku ketua KJ 21 Periode 2010/2011 “Dan saya sangat berharap tidak hanya Darma Wanita Fikom Unpad saja yang mau membantu anak-anak kurang beruntung ini melalui kami” lanjutnya.

Selain membiayai pendidikan adik asuhnya, KJ 21 juga memiliki program Minggu Ceria (Mince) setiap 3 bulan sekali. Mince ditujukan untuk pembinaan secara moral dan merupakan media pendekatkan adik asuh dengan pengurus juga donatur KJ 21. Acara minggu ceria ini bisa berbentuk permainan yang mendidik dan sesekali mereka melakukan kegiatan bersenang-senang. Menonton film di bioskop pernah mereka lakukan untuk memenuhi impian kecil adik-adik asuhnya yang belum pernah merasakannya.

Mince terakhir di masa kepengurusan 2010/2011 dilaksanakan pada hari minggu 27 Februari 2011. Acara ini dihadiri oleh hampir seluruh keluarga KJ 21. Adik asuh dimanjakan dengan berbagai macam permainan yang sudah disiapkan oleh panitia diantaranya menangkap ikan, bernyanyi bersama dan permainan lainnya.

“Saya sangat senang mince kali ini begitu meriah. Bisa berkumpul dengan keluarga KJ 21 dan saya ingin berterima kasih atas bantuannya.” ujar Komala, salah satu adik asuh KJ 21.

Apa yang coba dilakukan oleh KJ 21 adalah mencoba untuk mengajak kita untuk lebih peka terhadap mereka yang tidak beruntung dalam hal pendidikan. Jiwa sosial para mahasiswa ini patut diacungi jempol. Tidak sedikit mereka yang sebenarnya mampu tapi menutup mata dan telinga dari realita yang menyedihkan ini.

“Saya merasa terpanggil dengan apa yang dilakukan oleh KJ 21. Saya merasa sudah diberikan kecukupan kini saatnya saya membantu mereka yang membutuhkan” kata Ibu Dessy ketua Darma Wanita Fikom Unpad.

Jika saja ada KJ 21 lainnya bukan tidak mungkin angka 13 juta anak putus sekolah tersebut bisa terkikis hingga habis.

oleh :

Meissa Putri

Editha Apriyanti

M. Khadafi

Leave a Reply