Rudy Aru: “Awalnya Dipaksa Ayah Main Bass”

Rudy saat bermain di "prime time jazz bandung" Desember lalu.

Rudy saat bermain di “prime time jazz bandung” Desember lalu.

Siapa yang tidak kenal dengan Rieka Ruslan, Tulus, Afgan,  Vidi Aldiano? Lagu-lagu yang fenomenal, dan berkelas ini disukai dan dikenal banyak orang. Dibalik lagu yang terkenal ini, tentu ada banyak elemen yang tergabung menjadi sebuah kesatuan yang indah. Dengan kata lain, disana terdapat pondasi-pondasi musik yang disatukan menjadi harmoni yang pas.

Salah satu ‘pemeran’ dibalik kesuksesan band dan penyanyi papan atas tersebut adalah Rudy. Ia adalah pemain bass yang sudah memulai karirnya sejak tahun 90an. Bukan sekedar pemain bass, ia juga dosen seni musik di dua perguruan tinggi swasta, di Bandung.

Laki-laki berzodiak aries ini adalah salah satu pemain bass Bandung yang berperan dalam membentuk komunitas bass di Bandung yakni Paguyuban Bass Bandung dan Bass Bandung Spirits (Bass Bandits) Indonesia. Komunitas yang ia bangun bersama teman-temannya ini bukan sekedar tempat berkumpul tetapi juga memberikan pelajaran yang berharga seperti mengadakan acara ‘klinik bass’ dan sekolah bass gratis bagi anggotanya.

Rudy sedang mengajar murid-murid SD.

Rudy sedang mengajar murid-murid SD.

Selain membangun komunitas bass, ia juga pernah merintis Lab Jazz sebagai ajang latihan pemain jazz Bandung. Ia juga mengikuti kelas inspirasi yang memperkenalkan profesi bassist atau musisi dengan anak-anak sekolah dasar di pelosok Bandung.

Rudy Zulkarnaen atau yang lebih kenal dengan nama Rudy Aru mulai mengenal bass sejak tahun 1985. Pada awalnya, Rudy tak pernah menyangka bahwa ia akan menjadi bassist ternama (sebutan untuk pemain bass) karena sewaktu ia kecil, ia hanya dipaksa oleh ayahnya untuk memainkan bass.

“Dulu suka main band sama keluarga. Ayah saya megang keyboard. Karena di keluarga gak ada yang bisa megang bass, saya dipaksa untuk mainin itu, awalnya sih ingin jadi gitaris,” ungkap laki-laki yang lahir 41 tahun silam ini.

Memang terpaksa, pada awalnya. Namun, seiring dengan berjalannya waktu Rudy menjadi ‘jatuh cinta’ pada alat musik ini. Rudy menjelaskan bahwa jika diibaratkan, bass adalah sebuah fondasi dari sebuah rumah.

“Kalau rumah sudah jadi, kita tak bisa melihat pondasinya. Tetapi pondasi mempunyai peran penting dalam membangun rumah,” jelas Rudy saat ditanya tentang salah satu alasan mengapa ia menyukai bass.

Laki-laki yang gemar makan sate padang ini rupanya belajar bass semi otodidak. Ia tidak sekolah musik secara resmi tetapi banyak belajar teori dengan  guru musik ternama seperti Erkadius, Anggi Lubis, Brian Batie, Rudy Christian, Venche Manahutu, Indra Lesmana,  Benny Likumahuwa, dan masih banyak lagi.

Kegiatan Rudy baru-baru ini adalah membantu rekaman lagu dari gitaris jazz Bandung yakni Venche Manahutu. Tak hanya Venche, Rudy juga membantu rekaman lagu dari penyanyi Sherina dan Vidi Aldiano. Kehebatan Rudy tak hanya terbukti sampai disana, ia juga selalu membuka sharing dan bertukar pikiran dengan para pemain bass lainnya, tentunya ini tidak komersil.

“Siapapun yang nanya, kalau saya bisa jawab pasti saya jawab. Untuk sharing gak terpatok waktu, kapanpun,” jawab laki-laki yang senang dengan sejarah ini.

Keramahan Rudy kian melengkapi kesempurnaan suami dari drummer SHE, Adisty Zulkarnaen. Tidak hanya terpancar dari kesediaannya menjawab pertanyaan, tetapi terbukti dari beberapa musisi Bandung saat ditanya opininya mengenai Rudy Aru.

“Kalau belum deket mungkin dia terlihat pendiam, tetapi kalau sudah deket orangnya sangat humoris dan gak pelit ilmu. Dia juga sayang sama anak dan istrinya,” ungkap pianis dari Jazzy Juice Band, Dyah Sekar saat diminta opini tentang Rudy Aru.

 

 

Oleh:

Anglia Wiyasa 210110110446

Fildzah Fitriannissa 210110110453

Tri Marliani 210110110466

Leave a Reply