Pulihkan Iket Sunda

Komunitas Iket Sunda sedang melakukan sosialisasi di kp.adat Sinaresmi, 19/4. Foto: Dedy (dokumentasi Komunitas Iket Sunda)

Komunitas Iket Sunda sedang melakukan sosialisasi di kp.adat Sinaresmi, 19/4.
Foto: Dedy (dokumentasi Komunitas Iket Sunda)

Sebenarnya terdapat banyak sekali jenis-jenis Iket Sunda. Namun, kita dapat membaginya menjadi empat, yakni Iket Barangbang Semplak, Iket Paros, Iket Kuda Ngencar, Iket Porteng.

Iket Barangbang Semplak biasanya digunakan oleh para pekerja. Ciri iket ini ialah bentuk segitiga yang dibiarkan menjuntai di bagian belakang, seperti ikat kepala yang sering digunakan Wiro Sableng. Pengguna iket ini umumnya berprofesi sebagai petani, kusir, dan pedagang ayam.

Yang kedua ialah Iket Paros. Jenis ini biasanya digunakan bagi mereka yang akan pergi sekolah atau pergi ke acara resmi. Bentuknya hampir sama dengan Iket Barangbang Semplak, hanya saja bagian segitiga yang dibiarkan terjuntai kini ditarik untuk menutupi kepala bagian atas.

Yang ketia ialah Iket Kuda Ngencar. Iket ini biasanya digunakan untuk orang-orang yang akan merantau. Cara menggunakannya dengan menggulung kain hingga persegi, kemudian mengikatnya di bagian belakan.

Terakhir, Iket Porteng. Jenis iket ini digunakan seperti mengenakan sorban. Hanya saja bedanya, pada bagian atas, tetap dibiarkan terbuka.

Iket Kuda Ngencar (kiri), Iket Porteng (kedua dari kanan), dan Iket Paros (kanan). Foto: Dedy, (dokumentasi komunitas iket sunda.)

Iket Kuda Ngencar (kiri), Iket Porteng (kedua dari kanan), dan Iket Paros (kanan).
Foto: Dedy, (dokumentasi komunitas iket sunda.)

Dikutip dari kisunda.mypangandaran.com, iket Sunda memiliki filosofi tersendiri. Foilosofi tersebut disebut sebagai Makutawangsa.

Makutawangsa berbunyi sing saha bae anu make iket ieu, maka dirina kudu ngalakonkeun Pancadharma atau yang artinya barang siapa yang menggunakan iket ini, harus menjalankan Pancadharma.

 

Dalam hukum Pancadharma terdapat bebeara anjuran yang harus ditaati, antara lain; Apal jeung hormat ka Purwadaksi Diri (Menyadari dan menghormat kepada asal usul diri);Tunduk kana Hukum jeung Aturan (Tunduk akan hukum dan tata tertib/aturan);Berilmu (Dilarang Bodoh), Ngagungkeun Sang Hyang Tunggal (Sang pencipta, Tuhan yang Maha Esa). Babakti ka Nagara (Berbakti kepada bangsa dan negara).

 

Kini, Iket Sunda sudah tak banyak dikenal. Fungsinya sebagai menentu status sosial juga sudah mulai pudar. Orang menggunakan iket di kepalanya sesuai keinginan mereka. Iket Sunda bukan lagi sebagai penanda status.

Tapi, tak perlu kuatir. Beberapa masyarakat telah mencoba untuk mengangkat kembali Iket Sunda. Beberapa diantaranya bergabung dalam Komunitas Iket Sunda. Komunitas iket sunda adalah sebuah komunitas yang melestarikan budaya iket sunda yang sudah hampirdilupakan oleh masyarakat.

Pengukuhan Komunitas Iket Sunda aera Pangandaran (6/2). Foto: Budi Anggara (okumentasi Komunitas Iket Sunda).

Pengukuhan Komunitas Iket Sunda aera Pangandaran (6/2).
Foto: Budi Anggara (dokumentasi Komunitas Iket Sunda).

Komunitas ini bertujuan untuk melestarikan budaya Sunda melalui iket kepala. Budayakan Nyuda Dengan Iket Kepala. Dikutip dari radarskabumi.com, sesepuh Iket Sunda Sukabumi mengatakan bahwa sebagai orang Sunda asli, tentunya memiliki kewajiban untuk melestarikan budaya. Dengan mendirikan komunitas ini, diharapkan budaya yang sudah dilupakan oleh anak muda mulai bisa dilestarikan kembali.

“ini merupakan kewajiban kita sebagai orang Sunda asli. Untuk tetap mempertahankan nilai-nilai kesundaan. Menyebarluaskan komunitas budaya Sunda bisa menjadi salah satu langkah untuk tetap melestarikan nilai kesundaan,” kata Dedi.

Komunitas Iket Sunda ini juga sudah berkembang pesat di berbagai daerah. Tidak hanya di bandung, tetapi sudah banyak dibentuk komunitas-komunitas di luar Bandung, seperti di Sukabumi, Pangandaran, dan berbagai tempat lainya.

Leave a Reply