Mira: Kuliah Itu Nomor Tiga

IMapres Fikom

Baliho ucapan selamat kepada Almira Ditrya Kartikatantri di halaman depan Fikom Unpad

 

Baliho fotonya itu terpampang megah di halaman depan kampus Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran (Fikom Unpad). Bagi semua orang yang akan memasuki area kampus Fikom pasti akan berpapasan dan melihat fotonya itu. Adalah foto Almira Ditrya Kartikatantri yang beberapa minggu terakhir ini selalu mencuri perhatian mereka yang memasuki area kampus. Mahasiswi yang akrabb disapa Mira ini merupakan mahasiswi jurusan Hubungan Masyarakat (Humas) angkatan 2010 yang terpilih sebagai mahasiswa berprestasi (mapres) tingkat Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran 2013. Meski tidak menjadi juara di tingkat universitas, namun dirinya tetap bangga terhadap prestasi ini.

Siang itu, Rabu (1/5), ditemui di selasar Gedung 2 Fikom Unpad, Mira menceritakan kisah suksesnya sebagai mapres. Syarat untuk mengajukan diri menjadi mapres salah satunya adalah membuat karya ilmiah. Mira mengaku ini adalah pertama kalinya ia menulis karya ilmiah karena ia sebenarnya tidak suka dengan hal-hal yang berbau akademik. Ia adalah orang yang visioner dan lebih senang membuat konsep ketimbang melakukan penelitian. “Makanya kemarin sempat kewalahan dan bingung bikinnya, apalagi waktu yang dikasih sama fakultas untuk revisi (karya ilmiah-red) buat maju ke tingkat universitas itu cuma sehari,” ujarnya.

Pengalaman selama seleksi di tingkat universitas baginya merupakan pengalaman yang seru. Ia bertemu orang-orang baru dari 15 bidang ilmu yang berbeda yang kemudian saling berbagi pikiran mengenai suatu masalah. “Kompetitornya bagus-bagus, asik banget bergaul sama kompetitor. Sharing sudut pandang itu paling asyik,” katanya sambil tersenyum. Menurutnya, esensi dari program mapres ini adalah bertemu dengan orang-orang yang berbeda kepala yang punya beda pandangan.

Almira Ditrya

Almira Ditrya Kartikatantri

Menentukan Skala Prioritas

Persyaratan lain dalam seleksi mapres ini tentu saja juga mempertimbangkan keaktifan peserta dalam organisasi. Mira termasuk orang yang sangat aktif di organisasi. Hingga kini, ia aktif di divisi media Himpunan Mahasiswa Hubungan Masyarakat Fikom Unpad, relawan di Greenpeace, kader di salah satu organisasi gizi dan kesehatan, serta anggota di Lingkung Seni Sunda (Lises) Unpad. Ia aktif menari di Lises Unpad. Ia mengaku, sejak usia 3 tahun ia sudah belajar menari dan sampai sekarang ia sudah menguasai banyak tarian mulai dari tarian klasik tradisional hingga tarian modern. Selain itu ia juga tengah menjalankan bisnis keluarga.

Namun, aktif di organisasi tak lantas membuatnya keterusan dan melupakan kuliah. Mira ini sangat disiplin soal perkuliahan. “Kalau punya tugas langsung kerjain pada satu hari supaya bisa menikmati minggu dengan bebas,” katanya ketika ditanya bagaimana ia mengatur waktu antara kegiatan organisasi dengan perkuliahan. Ia juga mengaku jarang berbincang dengan kawan sekelasnya ketika dosen sedang menjelaskan materi di dalam kelas. Ia benar-benar memperhatikan materi dan memanfaatkan waktu secara maksimal untuk belajar di kelas karena baginya belajar yang benar-benar belajar itu hanya dilakukan di kelas. Ia pun mengaku disiplin waktu itu sulit. Maka dari itu apabila kita memang benar-benar sibuk kuliah dan berorganisasi, agar keduanya berjalan seimbang lihat saja kapasitas diri sendiri. “Sampai sejauh mana kita bisa bernapas. Jangan dipaksakan kalau memang nggak bisa,” jelasnya tegas.

Masa-masa sebagai mahasiswa memang menjadi masa untuk melatih jiwa organisasi dan memperluas jaringan komunikasi. Di sini mahasiswa benar-benar dituntut untuk dapat menumbuhkan kemampuannya untuk mengelola suatu kelompok dan sistem. Tak heran apabila para mahasiswa berlomba-lomba untuk bergabung dalam suatu organisasi dan aktif di dalamnya. Namun, tak sedikit pula yang kemudian tiba-tiba melupakan kuliah sebagai tugas utamanya di kampus dan lebih memilih untuk aktif di organisasi.

Mira juga sering mendapati hal ini. Menurutnya, mahasiswa itu harus tahu tujuannya kuliah itu untuk apa. Bila ujung-ujungnya memang hanya untuk berorganisasi lebih baik tinggalkan kuliahnya.

Untuk menentukan skala prioritas, ia memasang mindset ke diri sendiri bahwa dirinya ke kampus ini benar-benar untuk belajar, tidak hanya secara akademis tapi juga organisasi. Namun, ia mengaku, kuliah baginya adalah prioritas nomor tiga. Sedangkan yang pertama dan ke dua adalah orang tua dan keluarga. Ia bahkan pernah meninggalkan kuliah selama beberapa hari karena Opanya meninggal. “Aku tahu aku pasti ketinggalan kuliah, tapi itulah konsekuensinya. Di saat aku harus mementingkan keluarga, aku juga akan ketinggalan kuliah, jadi aku harus bisa mengejar ketertinggalan itu,” katanya.

Mapres Fikom 2013

Delegasi Mapres Fikom Unpad (sumber: http://www.facebook.com/miramiracle?fref=ts)

 

Mobil dan Game

Seorang mahasiswa berprestasi umumnya adalah mahasiswa dengan IP tinggi, aktif berorganisasi, dan juga memiliki banyak prestasi. Sejak semester pertama hingga semester lima lalu nilainya memang turun, tetapi masih di atas 3,7. “Waktu semester satu IP aku empat, sekarang turun jadi 3,8,” jelasnya.

Ketika diminta menceritakan mengenai dirinya, ia mengaku dirinya adalah pendengar yang baik meski memiliki memori jangka pendeknya tidak bagus. Ia juga mengaku jujur dan tidak naïf, tidak suka cari perhatian, dan sangat menikmati privasi diri sendiri. Jarang ia melakukan curhat kepada kawannya bila memiliki masalah karena biasanya ia akan terlebih dulu introspeksi diri.

Namun, siapa sangka mahasiswa berprestasi Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad ini memiliki kebiasaan yang tidak biasa dilakukan oleh perempuan.

Sebagai perempuan ia memang juga menyukai fashion dan urusan keluarga. Namun,  ternyata perempuan satu ini juga senang mengurus mobil. Bila ada yang tidak beres dengan mobilnya ia akan berusaha memperbaikinya sendiri. Tak hanya itu, ia juga seorang gamers. Ia memainkan segala macam game, termasuk game online. “Bahkan pernah juga sampai nginep di warnet semalaman Cuma buat main game,” ups, ia pun membuka rahasia itu sambil tertawa. Ia juga mengaku sangat jarang membaca buku yang tebal. “Makanya, sebenarnya aku nggak pernah bermimpi akan ada fotoku sebesar baliho itu terpampang di halaman depan sana,” ujarnya.

Di awal ia sudah menyebutkan bahwa dirinya adalah seorang visioner. Ia sudah membuat jalan hidup dan memiliki cita-cita yang harus dicapainya. Bahkan dari sekarang ia sudah membuat target untuk lima tahun ke depan. Ia pun berharap nanti ketika usianya sudah menginjak tiga puluhan tahun sudah bebas dari pekerjaan dan bisa total di rumah, bila ia sudah memiliki bisnis pun ia tak perlu lagi mengelolanya secara langsung. Ketika ditanya apa cita-citanya, ia menjawab: “Lima tahun dari sekarang kalian kalau ketemu sama aku, aku bakal udah jadi PR Mavent,” katanya dengan senyum semangat.

Tim: Arifina Budi A, Perantami Putri P, Holdani Rahmansaib

 

One Comment

  1. Thank you for this article 🙂 I'm so honored 😀

Leave a Reply