Yusuf Ismail: Berkarya dalam Kegencaran Media Sosial

 

Foto identitas dari akun fluxcup.

Foto identitas dari akun fluxcup.

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah memacu suatu cara baru dalam kehidupan. Apalagi untuk generasi Y, turunan dari generasi X. Generasi Y adalah generasi yang dilahirkan dari inovasi teknologi dan industri komersial. Generasi yang begitu nyaman dengan teknologi bahkan menjadikannya bagian dari identitas diri. Ada yang harus dimengerti dalam kemudahan mendapatkan informasi dan komunikasi: Menjadi konsumen yang pandai.

Yusuf Ismail, pria lulusan Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung, adalah salah satu orang yang memanfaatkan celah dalam lalu-lintas kemajuan zaman. Berprofesi sebagai seniman visual, Yusuf menjelaskan, “Dari kecil saya menyukai sesuatu yang bergerak, dari remote control lalu melihat gambar yang bergerak, di situ saya bercita-cita untuk membuat film.” Walaupun sampai sekarang pria kelahiran Bogor ini mengaku belum pernah membuat film, tetapi karyanya dalam bentuk video sudah menjadi sesuatu yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat.

Meski terlempar dalam Jurusan Seni Patung di FSRD ITB, pria penyuka film-film eksperimental ini tetap mengeksplorasi hal-hal yang berkaitan dengan video. Salah satunya adalah ikut dalam televisi kampus, Ganesha TV. “Tugas akhir saya juga tetap membuat karya video sculpture,” tutur Yusuf. Video sculpture adalah karya seni di mana video dan patung tidak bisa dipisahkan.

Ikut ambil bagian dalam pemutaran video mapping perdana di Indonesia di Museum Fatahillah, Jakarta, Yusuf juga menjadi artis kolaborator dengan Sembilan Matahari untuk Gedung Sate video mapping, dua tahun lalu, di Bandung Super Mall, Bandung. Tahun lalu juga, Yusuf, yang biasa dipanggil Ucup, menjadi pemenang pertama di Bandung Contemporary Art Awards #2 dengan karya videonya Eat Like Andy. Video ini berisikan tentang Yusuf menyandingkan dan mengikuti tingkah laku video Andy Warhol, tokoh seni dari Amerika Serikat, yang sedang memakan hamburger selama empat menit. “I just eat like Andy,” kata Yusuf di akhir video.

Karya Yusuf Ismail meniru tingkah laku Andy Warhol saat memakan Hamburger. Karya ini memenangkan Bandung Contemporary Art Awards #2.

Karya Yusuf Ismail meniru tingkah laku Andy Warhol saat memakan Hamburger. Karya ini memenangkan Bandung Contemporary Art Awards #2.

Video tersebut merupakan salah satu dari lima videonya yang tampil dalam pameran tunggal berjudul “Like”, di Galeri Plarform 3, Cigadung, Bandung, tahun lalu. “Metode pengadaptasian atau bahkan meniru, saya dorong ke permukaan dan saya jadikan sebagai bentuk kritik terhadap seni kontemporer itu sendiri,” jelasnya. Hukum hak cipta dalam dunia digital semakin rancu dan orisinalitas semakin kabur. Pameran tersebut merupakan sentilan terhadap realitas yang sering ditutupi tersebut.

Menanggapi video Arya Wiguna yang sedang marak dalam media sosial, pria penyuka Noah ini membuat video jack and dub dari video Arya Wiguna tersebut. Suara Arya diredam lalu diisi dengan kalimat lain yang lucu tetapi masih sesuai dengan gerakan mulut Arya. Seminggu diunggah, total penontonnya sudah mencapai hampir 250.000. Video-video lain yang terdapat dalam channel Youtube-nya, fluxcup, merupakan karya-karya yang menyenangkan karena nilai humornya yang sangat tinggi. “Di Indonesia, peristiwa-peristiwa serius sangat menonjol, makanya saya kasih alternatif untuk tertawa,” tandasnya. Hal utama di balik video-video black comedy yang ingin disampaikan adalah saat menertawai orang, secara tidak sadar kita juga menertawai diri sendiri.

Memilih untuk tidak didokumentasikan saat wawancara berlangsung, Yusuf memiliki pesan kepada generasi Y, “Selagi kebebasan untuk bermedia sedang gencar-gencarnya, buat karya apapun sebanyak mungkin dan unggah di media sosial lewat internet.” Pria berambut gondrong ini mengaku bahwa media sosial, dalam hal ini Youtube, merupakan galeri atau ruang pameran yang mudah diakses oleh banyak orang sehingga hasil karya seniman bisa lebih dekat dengan masyarakat. Sedikit bocoran untuk orang-orang yang menunggu karya Yusuf, Goban Episode 3, mungkin itu hanya mitos.

United Comedian Under Paradox

Oleh: Michael Reily Praditya, Nur Imam Mohamad, Abdul Basith Bardan

Leave a Reply