Merintis Bisnis Fashion Untuk Semua Kalangan

Di tengah cuaca Jatinangor yang mendung, sebuah rumah kost di daerah Perumahan Puri Indah, Sayang, Jatinangor, tampak sepi. Kedatangan kami disambut Kevin, salah satu penghuni kost yang sedang duduk-duduk di ruang tamu sambil bermain bersama anjing Siberian Husky barunya. “Halo,” sapanya kepada kami saat masuk.

 

Mahasiswa jurusan Manajemen Komunikasi Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Universitas Padjadjaran ini mungkin terlihat seperti layaknya mahasiswa pada umumnya. Bersantai bersama teman dan peliharaannya di rumah kostnya di sore hari usai seharian menjalani rutinitas kuliahnya.  Tak ada yang terlihat spesial darinya hingga kami mengetahui apa yang telah ia capai di umurnya yang masih muda.

 

Pemilik Kevas.co

Kevin Naftali (19) pemilik Kevas.co

 

Berawal dari kekesalannya akan banyaknya brand fashion yang dianggap terlalu mahal, pemuda yang memiliki nama panjang Kevin Naftali yang lahir di Jakarta, 7 September 1993 akhirnya memutuskan untuk membuat sebuah bisnis fashion dengan harga yang terjangkau. Di bawah nama Kevas.co, Kevin membuat berbagai macam knitwear dengan desain berpola Navajo, Nordic, dan Aztec.

 

Sebelumnya, Kevin sama sekali tidak mempunyai niat untuk membuat clothing line. “Awalnya teman gue yang mau bikin clothing line. Dia mengajak gue ke acara fashion  untuk kalangan tertentu di Jakarta,” akunya saat ditemui, Rabu (1/5). Saat menemukan bahwa saat itu banyak produk fashion yang dijual dengan harga terlalu tinggi dari harga produksi, timbullah niat untuk membuat sebuah lini pakaian dengan harga terjangkau tetapi dengan design yang unik dan memiliki nilai jual tinggi di pasaran.

 

Kevas.co awalnya hanya diproduksi 50 potong. Distribusi penjualan hanya dilakukan melalu sosial media seperti Facebook, Twitter, Forum Jual Beli di Kaskus dan Instagram. Seiring berjalannya waktu, peminat Kevas.co semakin bertambah. Saat ini, produk ini memiliki 155 reseller.

 

Dalam bisnis ini ia mengaku tidak perlu mengeluarkan modal sama sekali. “Gue bikin, lalu ngutang ke pabrik. Setelah itu, gue nunggu pembeli baru membayar hutangnya ke pabrik,” jelas Kevin. Saat ini, Kevin sudah bisa memproduksi 2.800 potong perbulan. Walaupun jumlah produksi sudah meningkat drastis dalam kurun waktu yang cepat, Kevin tetap tidak mau menaikan harga jualnya.

 

Barang yang siap dikirimkan

Tumpukan barang yang akan dikirimkan ke pelanggan

 

Kevin sengaja tidak mau menaikkan harga jualnya. “Emangnya orang kaya doang yang bisa gaya? Orang menengah ke bawah juga bisa,” ujarnya. Knitwear buatannya ini memang memiliki harga yang terjangkau. Harga ini sesuai dengan kantong mahasiswa yang memang kebanyakan menjadi pelanggannya.

 

Dalam menjalani bisnisnya ini ia tidak memiliki partner. Akan tetapi dalam proses produksi dan distribusi penjualan, ia dibantu oleh tenaga produksi dan admin sosial media yang digunakan. Pada dasarnya Kevin tidak ingin memiliki toko karena menurutnya keuntungan yang terbesar itu didapat dari penjualan online. ” Hanya 30% keuntungan yang didapat dari penjualan di toko, selebihnya itu keuntungan didapat dari penjualan online,” ujar Kevin.

 

Memulai bisnis bukanlah hal baru bagi Kevin. Ia sudah memulai bisnis sejak ia masih duduk di bangku SMA. Awalnya, ia memulai dengan membuka sistem pre-order untuk berbagai macam kaos di Forum Jual Beli Kaskus. Keinginannya untuk bisa memiliki penghasilan sendiri menjadi motivasi baginya untuk terus mengembangkan bisnis knitwear  yang kini ia geluti.

 

Dalam mempromosikan produk yang namanya diambil dari panggilan akrabnya ketika di bangku SMA, Kevin hanya menggunakan media sosial, mulai dari Forum Jual Beli Kaskus, Twitter, Facebook, hingga Instagram. Ia juga pernah sekali menjadi sponsor sebuah acara musik.

 

Selain Kevas.co, ada pula Throw Off company yang memproduksi print shirt, chinnos dengan harga premium dan segmentasi yang berbeda. Kegiatan bisnis yang ia geluti sama sekali tidak mengganggu jadwal kuliahnya, Kevin merasa kuliah tidak harus menjadi penghalang untuknya berbisnis. “Kuliah gak masalah sih, kayaknya agak lebay kalo gara-gara Kevas kuliah terbengkalai,” jelas Kevin. Dukungan dari orang tua pun mengalir penuh terhadap bisnis yang ia geluti, kecenderungan Kevin yang menyukai dunia bisnis sudah terlihat semenjak SMA.

 

Proses produksi

Proses pencetakan desain pada bahan 100% katun knitwear

 

Kelebihan Kevas.co dibanding lini sweater knitwear lain adalah bahan baku yang menggunakan katun knitwear 100% tanpa adanya tambahan polyester. Selain itu, design unisex yang dapat digunakan pria maupun wanita menjadi nilai tambah untuk produk Kevas.co. Kevin sealu berusaha untuk memperbarui desain dan kualitas Kevas.co sehingga tetap bisa bersaing. Hingga saat ini produk Kevas.co distribusinya telah mencapai Papua, Australia, Jerman, Cina, dan bahkan Amerika Serikat.

 

Kevin menyadari bahwa dengan semakin banyaknya saingan bisnis yang menggeluti sweater knitwear, ia harus terus melakukan branding untuk produknya. Berbagai strategi pun diterapkan, seperti endorsement, sponsor dan lainnya. Menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bagi Kevin ketika melihat produknya dapat diterima di semua kalangan hingga selebritis seperti XO IX, Derby Romero, Blink, Tantri Kotak.

 

Sebelum mencapai kesuksesan seperti sekarang,  cukup banyak juga hambatan yang harus dialami Kevin. Minimnya pilihan warna dan bahan yang dimiliki oleh vendor di Kota Bandung cukup menyulitkan, untuk itu ia menggunakan alternatif untuk mencari bahan produksi di luar Kota Bandung. Kualitas pekerja pun menjadi masalah utama, terkadang hasil akhir produk Kevas.co tidak sesuai ekspektasi karena tenaga kerja yang belum tetap. Begitu juga dalam membidik selera pasar yang terus berubah.

 

Ke depannya, Kevin berharap Kevas.co bisa menjadi brand yang semakin dikenal masyarakat. Dan hasil yang saat ini ia terima dapat menjadi modal untuk bisnis-bisnis yang ia ingin geluti ke depannya, seperti investasi tanah, kelapa sawit, properti dan bisnis besar lainnya. Selain menjadi modal awal, ini juga menjadi masa pembelajaran bagi Kevin dalam berbisnis.

Leave a Reply