Jurnalisme Rasa, Bukan Sekedar Jurnalime Biasa

Oleh Zahidah Zulfa Zahira, Widya Citra Andini, dan Deden Rochman Saputro

 

DSC_9250

Alvin Adam sedang mengisi acara diskusi bertema “Jurnalisme Rasa” di Ruang Oemi Abdurrahman Fikom Unpad pada Selasa (14/5).
(Foto: Widya Citra Andini)

 

Belum banyak yang mengetahui jurnalisme rasa. Kata ini diciptakan dan dipraktekkan oleh Alvin Adam dalam acaranya, Just Alvin yang disiarkan di Metro TV. Jurnalisme rasa adalah jurnalisme yang memakai rasa empati dan menaruh diri seolah-olah sedang diwawancarai. Acara ini juga menyuguhkan rasa persahabatan yang membuat kenyamanan dengan adanya untold story. Apa itu untold story?

Menurut Alvin, untold story adalah sesuatu yang belum pernah di share dan akan keluar apa adanya saat orang tersebut benar-benar merasa nyaman dengan kita. Kalau orang tidak nyaman, maka ia tidak akan mau banyak cerita dan tidak percaya dengan orang lain untuk menceritakan rahasianya. Jangan membuka rahasia orang, kecuali di situ ada kepentingan baru kita buka, kalau tidak ada ya tidak apa-apa dan untuk apa?

Just Alvin muncul karena Alvin merasa cape dengan talkshow yang pembawa acaranya lebih ingin tampil dari bintang tamunya, dan seringkali mengintimidasi bintang tamunya. Pada akhirnya pria yang beralih haluan profesi dari artis ke jurnalis ini membuat acara talkshow dengan menggunakan rasa. Rasa, sesuatu yang orang punya tapi nyaris dilupakan. Dalam tayangan Just Alvin tidak pernah ada penonton yang melihat langsung program bersifat news entertainment ini di studio.

“Alasannya, tidak ada a touchment antara penonton dengan narasumber. Justru yang ingin dimunculkan itu kedalaman informasi untuk menggalinya lebih dalam dan ekslusif. Saya juga tidak pernah membuat daftar pertanyaan, cukup semuanya disimpan disini (red: otak), dan semua orang ingin didengarkan dengan baik,” tutur pria berkacamata ini dalam diskusi “Jurnalisme Rasa” di Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Universitas Padjadjaran (Unpad) pada Selasa (14/5).

“Hidup boleh terinspirasi dari orang, tapi jangan copy paste. Jadilah pendengar yang baik, pemerhati yang baik, ketika kita telah menjadi pemerhati yang baik, dari situlah akan timbul pertanyaan yang tak terpikirkan,” Ujar lelaki kelahiran tahun 1971 ini.

Alvin juga menyarankan jika ingin melakukan wawancara atau membuat  talkshow atau program jurnalistik lainnya buatlah dengan jurnalisme rasa, melalui pendekatan hati, karena hati hanya bisa disentuh dengan hati.

“Bila kita sebagai manusia mampu menyikapi pemaknaan yang ada di alam seperti burung-burung terbang dan mencari makan, kita akan mampu menangisinya sebagai ciptaan Sang Maha Kuasa. Itulah kita menggunakan ‘rasa’ kita dengan empati terhadap pencipataan-Nya. Begitu pula dengan jurnalisme dan ilmu komunikasi,” ungkap Dekan Fikom Unpad, Prof. Deddy Mulayana.

Acara Just Alvin ini adalah acara talkshow yang banyak berkaitan dengan entertainment atau disebut dengan dunia showbiz. Namun yang diangkat dari orang-orang tersebut adalah segala hal yang bersifat positif dan sebagai sarana juga untuk menyampaikan pendapatnya.

Untold story itu bukan masalah pribadi. Bagi saya, masalah pribadi yang diungkapkan kepada banyak orang tidak ada manfaatnya untuk orang lain. Tapi kalau di dalamnya masalah publik, itu ada sesuatu. Karena itu untuk program Just Alvin segmentasinya untuk orang-orang yang menyukai masalah privat. Bagaimana menyelesaikan masalah privat bukan sekedar mengungkapkan masalah privat”, ujar Herlina Agustin (44), Ketua Jurusan Jurnalistik Fikom Unpad sekaligus moderator diskusi ini.

Selain itu pula, saat ditanya mengenai acara Just Alvin bukan masuk ke produk jurnalistik, dia pun berpandangan acara tersebut mempunyai kepentingan lain. “Loyalitas warga adalah kewajiban jurnalis. Mungkin ini merupakan jurnalis yang menyelesaikan masalah pribadi. Jurnalis yang benar-benar mengangkat masalah-masalah publik bukan sekedar masalah pribadi tapi bisa menyelesaikan masalah sosial”, ujar perempuan yang akrab disapa Bu Titin.

 

Antusiasme Mahasiswa Tinggi

Sejumlah Mahasiswa Fikom Unpad memadati ruangan tampak antusias dalam acara ini.  (Foto: Widya Citra Andini)

Sejumlah Mahasiswa Fikom Unpad memadati ruangan tampak antusias dalam acara ini.
(Foto: Widya Citra Andini)

 

Mahasiswa Fikom Unpad memadati Ruang Oemi Abdurrahman di Gedung 1 kampus Fikom Unpad pada Selasa siang (14/5). Mereka menyambangi Ruang oemi untuk mengikuti diskusi ‘Jurnalime Rasa bersama Alvin Adam’. Kendati menjadi kuliah bersama, namun tak mengurangi antusiasme mahasiswa yang hadir dalam acara tersebut untuk menyimak dengan seksama pandangan Alvin Adam mengenai jurnalisme rasa.

Ruang Oemi yang berkapasitas 40 orang ini tidak cukup karena begitu banyaknya mahasiswa yang tertarik dengan acara ini, sampai rela duduk dibawah supaya tetap dapat mengikuti diskusi bersama Alvin. Para mahasiswa memperhatikan Alvin dengan seksama untuk menangkap apa maksud dari jurnalisme rasa yang diciptakan oleh Alvin dalam tayangan Just Alvin Metro TV.

Diskusi  ini dibuka oleh Herlina Agustin yang bertindak sebagai moderator. Kemudian diawali dengan sambutan khusus dari Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, Prof Deddy Mulyana, Ph.D dalam menyambut Alvin Adam yang menjadi pembicara pada kuliah bersama tersebut. Lalu, Pembantu Dekan Fikom Unpad, Aceng Abdullah juga memberikan sambutannya.

“Diskusi mengenai jurnalisme rasa ini bertujuan untuk menjembatani antara teori komunikasi dengan praktek komunikasi khususnya melalui tayangan program Just Alvin. Walaupun Alvin Adam bukan lulusan komunikasi, tetapi dia adalah praktisi komunikasi di bidang program televisi entertainment yang menggunakan jurnalisme rasa yakni jurnalisme yang menggunakan empati,” ujar Dekan Fikom Unpad.

 

Penyerahana Plakat dan Buku dari Dekan Fikom Unpad, Prof. Deddy Mulyana dan Pembantu Dekan Fikom Unpad III, Drs. Aceng Abdullah, M.Si kepada Alvin Adam. (Foto: Widya Citra Andini)

Penyerahana Plakat dan Buku dari Dekan Fikom Unpad, Prof. Deddy Mulyana dan Pembantu Dekan Fikom Unpad III, Drs. Aceng Abdullah, M.Si kepada Alvin Adam.
(Foto: Widya Citra Andini)

One Comment

  1. Jurnalisme atau karya jurnalistik pasti berdampak. Takut, panik, sedih, waspada, empati, simpati, marah dan lain lain adalah respon yang muncul ketika melihat atau mendengar berita. Dan semuanya itu adalah rasa. Jadi jurnalisme rasa itu apa? 🙂

    Bertanya (wawancara) adalah cara jurnalis untuk mengungkap sesuatu demi kepentingan publik. Wawancara dapat dilakukan dalam berbagai macam kesempatan dan situasi. Termasuk dalam sebuah acara yang kemasannya dialog di studio seperti yang Alvin lakukan.
    Presenter itu mewakili publik. Artinya presenter tidak boleh menunjukan bahwa dia dekat atau berpihak pada narasumber, hal ini akan mengurangi kredibilitas presenter dan kualitas wawancara. Jadi jurnalisme rasa itu apa?

    Ibu Titin berkata, "Mungkin ini merupakan jurnalis yang menyelesaikan masalah pribadi". Jurnalis atau wartawan tugasnya mengungkap dan mengirfomasikan apapun untuk kepentingan publik. Tak pernah ada jurnalis yang yang bekerja untuk pribadi apalagi menyelesaikan masalah pribadi. Jadi jurnalisme rasa itu apa?

    What you see is news, what you know is background, what you feel is opinion by Lester Markel, American journalist
    Jadi jurnalisme rasa adalah opini Alvin Adam, boleh ditiru jika suka. Tapi menurut saya apa yang dilakukan Alvin tidak masuk dalam lingkup jurnalistik.

    salam

Leave a Reply