Enton Supriyatna, Jurnalis Adalah Pilihannya

Tim liputan : Ani Dwi Utami, Indah Afif Khairunnisa

Pekerjaan wartawan tidaklah mudah. Banyak tantangan yang harus dihadapi. Dimaki narasumber, komplain dengan pemberitaan sampai disidang oleh anggota dewan sudah menjadi hal yang biasa bagi wartawan. Seperti halnya yang dialami oleh Enton Supriyatna Sind, Pemimpin Redaksi HU Galamedia.

Enton merupakan lulusan sarjana Jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran angkatan tahun 1985. Dia lahir di Tasikmalaya, 7 September 1965 dan sekarang bersama keluarga kecilnya menetap di Vikayakusuma B15 No. 9 Kelurahan Cipadung Kecamatan Cibiru Kota Bandung.
Ketertarikannya pada dunia jurnalistik sudah terlihat sejak masih di bangku sekolah, yang getol dalam urusan majalah sekolah. Pengalamannya di bidang jurnalistik patut diperhitungkan, sebab ia telah loncat dari satu isntitusi media ke institusi media lain, meskipun sama-sama di media cetak, hingga saat ini menduduki jabatan pemimpin redaksi di Harian Umum Galamedia.
Sejak SMP hingga SMA memang kegemarannya menulis dan kebetulan tersalurkan lewat kegiatan di sekolah dengan mengelola majalah sekolah. Waktu daftar UMPTN tahun 1985, memilih Jurnalistik Unpad. Jadi, dia sudah menyenangi kegiatan seperti itu sejak sekolah dan terus fokus ke jurnalistik.

Indah (kiri) dan Enton (kanan), Foto : Ani D. U

Indah (kiri) dan Enton (kanan),
Foto : Ani D. U

Enton pernah meliput kasus Samanta-Deborah pada tahun 90-an. Ini merupakan kasus perselisihan seorang istri WNI dan suami berkewarganegaraan Belanda yang penuh nilai human interest-nya. Menjadi wartawan, baginya bisa bergaul dengan banyak orang dari berbagai kalangan sosial yang berbeda, juga bisa mengatasi sekat-sekat psikologis dan sekat-sekat sosial. “Kadang-kadang kan orang itu susah untuk bergaul, tapi ketika kita menjadi wartawan, kita dituntut untuk mampu bergaul dengan orang dari berbagai strata dengan waktu yang cepat,”tuturnya.
Menjadi wartawan pula, jenuh pasti dialami. Akan tetapi, menurutnya semua kembali pada pilihan kita. Setiap hari memang wartawan menemukan persoalan-persoalan yang berbeda, setiap hari stress, karena wartawan dikejar batas waktu (deadline). “Kenapa harus disesali? Kan sudah menjadi pilihan masing-masing. Pekerjaan wartawan itu memang sebuah dunia yang terbalik, yang berbeda dari kebanyakan orang dan kita sudah tahu itu sebelum terjun ke dunia itu,” kata Enton yang sudah menjadi wartawan 28 tahun ini.

Tika (kiri) dan Enton (kanan).  Foto : Ani D.U

Tika (kiri) dan Enton (kanan).
Foto : Ani D.U

Alumni Jurnalistik Fikom Unpad ini mempunyai tips untuk wartawan pemula ketika mewawancarai orang. Pertama, perhatikan latar belakang narasumber. Ini penting agar kita kenal dengan orang yang kita hadapi. Kedua, bicaralah dengan bahasa mereka. Tidak mungkin berbicara bahasa yang istilah-istilahnya tidak dimengerti oleh kalangan dari mereka sebagai narasumber.
Dia pun berpesan agar seorang jurnalis tetap memegang idealisme dan tetap setia pada perspektif apapun, ujian, beratnya beban yang dirasakan. Dan semoga tetap menjaga martabat sebagai seorang jurnalis.

Leave a Reply