Satu Vespa Sejuta Derita

“Krontang! Krontang!”

Suara skuter Itali tersebut lebih mirip kaleng rongsokan yang memekakkan telinga. Barang-barang bekas bertengger di besi berkarat yang penuh tambalan las. Kendaraan tersebut didorong oleh tujuh belas ban. Tak ada spion yang dapat membantu pengendara untuk melihat ke belakang. Tak ada pula lampu untuk membantu pencahayaan di malam hari. Jarak antara badan vespa dan tanah hanya setinggi tiga senti meter. Tak heran, kendaraan tersebut dipenuhi oleh bercak-bercak tanah.

Jajaran vespa gembel yang berwarna-warni itu memenuhi tepian stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) Jatinangor. Tak ada kegiatan khusus yang mereka rencanakan di tempat itu, hanya kumpul dan bercengkrama dengan satu sama lain. Beberapa dari mereka duduk sambil merokok, minum kopi, dan makan kacang. Ada pula yang sibuk memperbaiki vespanya. Mereka semua tergabung dalam komunitas Scooterist, sebuah komunitas vespa yang mencakup seluruh pengguna vespa di seluruh Indonesia. Mereka tampak tidak memiliki beban. Namun, ada cerita di balik itu semua. Satu vespa sejuta derita.

Mereka berkumpul di pom bensin Jatinangor untuk berkumpul sambil mempererat tali silaturahmi

Mereka berkumpul di pom bensin Jatinangor untuk berkumpul sambil mempererat tali silaturahmi

Indahnya warna-warni vespa tak sebanding dengan duka yang mereka terima di jalanan. “Mogok mah udah biasa. Mulai dari masalah pengapian yang terendam, patah mesin, sampai mesin meledak, sudah jadi makanan sehari-hari kami,” kata Arif, salah satu anggota Scooterist yang sering berkumpul di Jatinangor. Hal tersebut sering terjadi karena modifikasi yang mereka lakukan terhadap vespa kesayangan mereka. Masalah mesin akhirnya berpengaruh pada estimasi waktu yang mereka perlukan pada saat berkendara.

Menurut Arif yang akrab disapa Benjo, jarak yang biasanya ditempuh dalam 45 menit harus molor menjadi 2 jam. Mereka harus berjalan lebih lamban dari kendaraan lainnya. Meskipun lamban, tidak menutup kemungkinan mereka mengalami kecelakaan fatal, seperti yang dialami salah satu teman Benjo. Temannya harus kehilangan nyawa karena tidak hati-hati.

Benjo dan kawan-kawan juga sering dipandang negatif oleh masyarakat sekitar. Didin, salah satu warga Jatinangor, merasa cukup terganggu dengan keberadaan vespa gembel tersebut di jalanan. “Bentuknya itu loh, tidak enak dilihat. Selain itu, keberadaannya juga cukup mengganggu pengendara lain,” tungkasnya.

Badan besar motor dengan ornamen pendukung yang cukup banyak, membuat mobilitas kendaraan lain di jalan terhambat. Selain itu, kondisi motor yang buruk dan terkesan “rongsokan” juga kurang enak dipandang. Tak hanya masyarakat, orang terdekat mereka pun memandang negatif perkumpulan vespa gembel tersebut. Kegiatan nongkrong mereka dianggap tidak jelas dan tidak membawa manfaat bagi anggotanya. “Orang rumah selalu khawatir dan takut terjadi apa-apa dengan diri saya. Makanya, saya selalu hati-hati kalau berkendara agar orang rumah tidak kepikiran,” kata Benjo.

Persiapan untuk turun ke jalan. Mereka saling bergotong royong untuk menyiapkan vespa tersebut.

Persiapan untuk turun ke jalan. Mereka saling bergotong royong untuk menyiapkan vespa tersebut.

Benjo juga mengatakan, mereka acap kali disebut geng motor. Padahal, stigma geng motor yang beredar di masyarakat sangat negatif dan tidak merefleksikan perkumpulan vespa gembel ini. Menurut Benjo, mereka sangat jauh dari dunia kriminalitas dan tidak pernah mencari masalah dengan siapapun. “Kegiatan kami hanya seputar nongkrong, sharing informasi mengenai vespa dan bertukar pikiran. Kami juga nggak pernah buat onar,” ungkapnya.

Bagi Benjo dan kawan-kawan, Scooterist merupakan komunitas yang menjadi wadah mereka menuangkan kreatifitas. Di sana mereka belajar satu sama lain tentang berbagai hal mengenai vespa, mulai dari trik modifikasi, tips mengatasi segala permasalahan vespa, atau sekadar sharing informasi. Komunitas ini pun tidak menutup diri dari siapapun yang ingin bergabung. Tak ada persyaratan khusus untuk gabung bersama kelompok ini. Apapun latar belakangnya dan berapapun usianya tak menjadi penghalang untuk bisa menjadi bagian dari Scooterist vespa gembel yang sering berkumpul di Jatinangor ini.

“Kami di sini kalau nongkrong bisa sampai empat puluh orang. Pernah sampai hampir memenuhi pom bensin yang jadi basecamp kami ini. Anak-anaknya pun nggak cuma dari sini aja, ada yang dari Tanjungsari, Cicaheum, bahkan dari Klaten,” ujar Benjo. Dia juga menjelaskan bahwa pertemuan antaranggota komunitas ini biasanya diawali dari ketidaksengajaan saat sedang berjalan-jalan. Solidaritas yang tinggi di antara para pemilik vespa sering kali menjadi ajang saling bantu yang akhirnya mempertemukan mereka, misalnya ketika mogok.

“Siapa pun orangnya, dari mana pun asalnya, sebagai sesama pengemudi vespa pasti akan saling bantu kalau ada yang sedang kesulitan di jalan,” ujar Benjo. “Saya pernah patah mesin di Tegal, tiba-tiba aja ditolong orang sampai vespa saya bisa jalan lagi. Padahal saya nggak kenal, tapi kami sama-sama pengendara vespa,” cerita Benjo. Hal semacam itulah yang membuatnya semakin yakin untuk terus bergabung dengan komunitas vespa. Banyak hal yang bisa ia dapat di keluarga vespa, yang tak bisa ia dapatkan dari komunitas sepeda motor lainnya.

Kekeluargaan dan persaudaraan merupakan asas komunitas vespa yang terjalin di seluruh Indonesia. Untuk semakin mempererat hubungan tersebut, acara semacam gathering secara rutin di adakan di berbagai wilayah. Perkumpulan terakhir diadakan di Medan. Di situ, semua pecinta vespa dari berbagai daerah dengan berbagai latar belakang berkumpul untuk mempererat jalinan silaturahmi.

Beberapa anggota komunitas Scooterist yang berkumpul di Jatinangor.

Beberapa anggota komunitas Scooterist yang berkumpul di Jatinangor.

Meskipun mereka jauh dari kriminalitas, polisi lalu lintas tetap menganggap vespa gembel merupakan salah satu gangguan di jalan. “Vespa tersebut mengganggu lalu lintas. Pertama, bentuknya lebar dan jalannya lamban, sehingga membuat macet. Kedua, knalpotnya berisik, sehingga membuat polusi suara,” jelas Ipda Kiki Hartaki, K. Kanit Turjawali Satuan Lalu Lintas Polisi Resort Bandung. Menurutnya, vespa itu bebas digunakan jika memang sesuai dengan standarnya. Namun kenyataannya, mereka sudah banyak menambahkan elemen dan merubah bentuk. Maka, polisi berkewajiban untuk menindak mereka dengan cara menilang dan menyita vespa gembel tersebut.

Polisi pun mengakui, belum ada laporan tentang kriminalitas para pengendara vespa gembel. Namun, secara etika berkendara, tetap saja cara mereka berkendara itu bisa menimbulkan keluhan masyarakat. Kiki menyatakan, masyarakat kurang nyaman dengan kehadiran mereka yang menggerombol saat di jalan. SIM, STNK, dan surat-surat kelengkapan lainnya memang lengkap, tapi tidak bisa diperuntukkan bagi kendaraan yang sudah berubah bentuk tersebut.

Sesuai dengan UU No. 22/2009, “Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor beroda empat atau lebih di jalan yang tidak memenuhi persyaratan teknis yang meliputi kaca spion, klakson, lampu utama, lampu mundur, lampu tanda batas dimensi badan kendaraan, lampu gandengan, lampu rem, lampu penunjuk arah, alat pemantul cahaya, alat pengukur kecepatan, kedalaman alur ban, kaca depan, spakbor, bumper, penggandengan, penempelan, atau penghapus kaca sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (3) juncto Pasal 48 ayat (2) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 2 (dua) bulan atau denda paling banyak Rp500.000,00 (lima ratus ribu rupiah).” Dengan demikian, jelaslah bahwa vespa gembel memang melanggar aturan.

Bagi mereka, vespa adalah kendaraan bagi semua orang.

Bagi mereka, vespa adalah kendaraan bagi semua orang.

Anggota komunitas vespa gembel sendiri sebenarnya memahami bahwa mereka memang melanggar aturan dan bisa mencelakakan diri mereka. Mereka juga tidak membela diri jika ditindak oleh polisi lalu lintas. “Tapi mau gimana, namanya juga sudah hobi. Selain itu, motor ini sudah dianggap seperti adik sendiri. Dia doang yang nganter kemana-mana,” kata Benjo. Oleh karena itu, mereka selalu berusaha untuk menjaga diri mereka dan berhati-hati ketika berlalulintas.

Benjo, sebagai perwakilan dari komunitas Scooterist berharap, komunitas ini tidak lagi disamakan dengan geng motor yang berandal. “Kami bukan untuk ditakuti dan dianggap buruk.  Hal yang kami lakukan positif dan kami tidak berniat merugikan orang lain. Jangan pandang kami sebelah mata hanya karena penampilan kami,” kata Benjo.

 

Tim Liputan:

Editor: Chiquita Olivia Riama Hutauruk

Fotografer: Nadia Araditya

Reporter: Nila Kusumasari

Leave a Reply