Baksil: Tersembunyi di Jantung kota

Hutan selalu digambarkan sebagai tempat yang jauh dari peradaban, terpencil, dan menyeramkan. Hal ini tidak berlaku bagi Bandung. Bandung memiliki hutan yang terletak di tengah kota dan menyimpan beragam objek menarik untuk ditelusuri. Saat ini, wajah kota pada umumnya, didominasi oleh mall, apartement, rumah dan bangunan perkantoran. Sebagian diantaranya masih memiliki taman sebagai ruang terbuka hijau. Namun, hanya sedikit kota yang memiliki hutan sebagai ruang terbuka hijau dan daerah resapan air seperti yang dimiliki Bandung.

Credit: Faisal Fikri S

Babakan Siliwangi sebagai hutan kota dunia yang menyimpan potensi wisata.
Credit: Faisal Fikri S

Babakan Siliwangi (Baksil) sebagai hutan kota di Bandung dapat menjadi alternatif hiburan disaat kita merasa bosan dengan suasana kota yang sumpek dan sibuk. Hutan ini cocok dijadikan wisata alam ringan karena posisinya yang berada di tengah kota yakni di Jalan Siliwangi, Bandung. Tidak hanya dapat bersentuhan langsung dengan pepohonan besar, semak belukar, dan suasana hutan alami, kita juga dapat menggali cerita sejarah, budaya dan kesenian yang tersimpan di Baksil.

Menurut sejarah yang diceritakan Kang Taher salah seorang penggiat Baksil, hutan kota ini dulunya bernama Lebak siliwangi. Nama Babakan Siliwangi kemudian kian populer dan melekat pada hutan tersebut semenjak rumah makan dengan nama  Babakan Siliwangi  beroperasi di sekitar areal hutan itu. Baksil juga berkontribusi dalam catatan sejarah dengan penobatannya sebagai hutan kota pertama di Indonesia pada tahun 2011. Sayangnya, Baksil kerap terancam keberadanya dengan usulan-usulan proyek pembangunan pada wilayah hutan tersebut.

Credit: Faisal Fikri S

Hutan Baksil- Rimbunnya pohon-pohon yang ada di Baksil sangat bermanfaat sebagai paru-paru Kota Bandung.
Credit: Faisal Fikri S

Saat mengunjungi Baksil, kita akan disuguhkan dengan pemandangan yang hijau. Pepohonan berjejer memberikan rasa tenang dan relax bagi pengunjungnya. Udara segar membuat hutan ini juga cocok untuk dijadikan tempat jogging.  Suasana di dalam hutan sangat natural, walaupun saup-sayup masih terdengar suara kendaraan, mengingat posisi hutan yang sangat dekat dengan jalan raya.Sembari menyusuri jalanan tanah yang berumput, kita dapat melihat dan mengenali beberapa jenis pohon dan tumbuhan di sisi kiri dan kanan. Beberapa jenis serangga dan burung juga dapat ditemukan dalam hutan ini. Tidak ada satupun binatang buas sehingga hutan ini menjadi tempat yang aman untuk dikunjungi terlebih bagi anak-anak. Hutan ini sangat cocok untuk kegiatan outbond sambil mengenalkan flora dan fauna kepada anak-anak. Jika ingin melakukan kegiatan camping yang relatif aman, hutan ini dapat menjadi pilihan. Tidak perlu khawatir kekurangan air saat menginap karena hutan ini juga menyimpan mata air.

Credit: Faisal Fikri S

Tempat Adu Domba- Pada pekan pertama setiap bulannya, tempat ini menjadi arena para peternak domba untuk “adu jago” dombanya.
Credit: Faisal Fikri S

Tidak butuh waktu lama menyusuri jalan setapak untuk mencapai bagian tengah hutan. Pada bagian tersebut terdapat sebuah lapangan peraduan domba. Menurut Bang Otong yang sudah lama menjaga dan tinggal di Baksil, lapangan adu domba ini sudah ada sejak tahun 1970-an. Sampai sekarang lapangan ini masih sering digunakan sesuai dengan fungsinya oleh Himpunan Peternak Domba dan Kambing Indonesia (HPDKI). Biasanya adu domba dilakukan sebulan sekali pada minggu pertama awal bulan. Bagi pengunjung yang penasaran, dapat mengunjungi Baksil pada waktu yang telah ditentukan tersebut. Jika tidak sedang digunakan untuk mengadu domba, tempat ini sering juga dimanfaatkan untuk areal camping atau sekedar mengadakan acara outdoor salah satunya adalah layar tancap.

Di bagian luar hutan terdapat sebuah tugu batu. Tugu ini biasa disebut kaum adat Kasundaan dengan Batu Satangtung.  Konon spot ini menjadi tempat berdoa bagi beberapa kaum adat. Bukan hanya dari Jawa Barat, tapi juga dari kaum adat lainnya yang tersebar di seluruh Indonesia. Om Tomy, tetua Baksil sekaligus ketua sanggar seni yang ada di Baksil mengisahkan bahwa Batu Satangtung diresmikan pada 21 Desember 2011 bertepatan dengan 500 tahun usia wangsit siliwangi. Peresmian tugu ini dihadiri oleh 42 kepala suku adat, termasuk dari luar negeri seperti Tibet. Peresmian Batu Satangtung ini disusul dengan peresmian Saung Badui yang dihadiri oleh perwakilan kerajaan Belgia.

Credit: Faisal Fikri S

Batu Satangtung- Disebut juga Batu Linggaweni, yang melambangkan puseur (pusat-red).
Credit: Faisal Fikri S

Tugu batu ini dibuat menyerupai alat kelamin pria dan wanita yang menyatu. Hal ini sesuai dengan keyakinan para pemangku kepercayaan wiwitan, bahwa segala sesuatu di alam ini dibuat berpasangan salah satu simbolnya adalah pria dan wanita. Batu Satangtung di kawal oleh dua patung lainnya yakni patung Ganesha dari Bali dan patung Semar dari Jawa.

Credit: Faisal Fikri S

Patung semar sebagai rajanya wayang, lokasinya berdekatan dengan batu linggaweni sebagai hiasan. Patung ini pemberian dari kraton Yogyakarta.
Credit: Faisal Fikri S

Credit: Faisal Fikri S

Patung Ganesha, Hibah dari Bali berlokasi sama dengan letak patung semar.
Credit: Faisal Fikri S

Adanya Tugu Batu Satangtung ini menyiratkan nilai magis dari Babakan Siliwangi. Tidak seperti hutan pada umumnya, Baksil dipercaya oleh para pemangku adat sebagai titik ‘nol’ atau pusat dari kebudayaan. Hal ini juga ditunjukkan oleh menyatunya berbagai elemen prasyarat kabuyutan oleh adat kasundaan dalam area Baksil. Prasyarat itu adalah mata air, hutan, Satangtung, dan saung.

Berangkat dari sejarah magis dan kebudayaan yang tersimpan di Baksil. Ternyata hutan ini juga menjadi rumah bagi para seniman. Di kawasan Baksil ini terdapat sebuah sanggar seni yang bernama Sanggar Olah Seni Bandung. Disanggar seni inilah para seniman biasanya berkumpul dan menuangkan kreatifitas. Banyak kegiatan di Baksil bersumber dari sanggar ini. Tidak hanya kegiatan seni seperti melukis, menari, dan bermusik, sanggar ini juga biasa mengadakan layar tancap di areal hutan.Sanggar ini juga sangat terbuka bagi pengunjung yang sekedar melihat karya seni atau bahkan yang tertarik untuk sekaligus belajar kesenian.

Credit: Faisal Fikri S

Sanggar Olah Seni sering dijadikan tempat bagi para penggiat seni dan lingkungan untuk berkegiatan.
Credit: Faisal Fikri S

Jika belum puas menelusuri hutan dan bersentuhan langsung dengan objek alam, seni, dan budaya di dalamnya,pengunjung juga dapat menikmati pemandangan hutan dari ketinggian. Baksil memiliki forest walk  di sisi samping hutan yang dapat dimasuki dari sisi luar hutan. Forest walk ini biasa dijadikan tongkrongan oleh pengunjung.

Menjadi tempat bagi pengunjung untuk menikmati hutan kota babakan siliwangi. Sayangnya, kurang terawat dan banyak pengunjung yang membuang sampah sembarangan. Credit: Faisal Fikri S

Forest Walk- Tempat bagi pengunjung untuk menikmati hutan kota babakan siliwangi. Sayangnya, kurang terawat dan banyak pengunjung yang membuang sampah sembarangan.
Credit: Faisal Fikri S

Babakan Siliwangi merupakan pilihan tempat yang tepat bagi anda yang tertarik untuk menikmati  wisata alam dengan akses mudah, menyenangkan, menenangkan, dan sarat pengetahuan. Siapkan diri anda sebelum menjelajah di hutan Babakan Siliwangi. Gunakan pakaian tertutup untuk menghindari gigitan serangga, jagalah kebersihan hutan selama anda mengunjunginya dan hindari kegiatan yang merusak kelestarian Babakan Siliwangi.

(Editor: Dinar Safa Anggraeni, Writer: Nisa Dwiresya Putri, Photographer: Faisal Fikri S)

Leave a Reply