Nyoman Anjani: Hidup Tentang Berkorban dan Memberi Manfaat Bagi Sesama

Nyoman Anjani, satu dari ratusan mahasiswa yang baru saja menyandang gelar baru di belakang namanya. Gadis berdarah campuran Bali dan Bandung ini resmi menjadi alumni Fakultas Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung (ITB) pada hari Sabtu, 12 April 2014. Dua hari sebelum ia diwisuda, ia baru saja turun jabatan dari jabatan lamanya, Ketua Keluarga Mahasiswa (KM) ITB. Menjabat sebagai ketua di tengah kehidupan perkualiahannya sebagai mahasiswa teknik mesin tentu bukanlah hal yang mudah, tapi kegemarannya berkecimpung di dunia organisasi membuat ia rela mengorbankan waktu, tenaga, dan uang untuk mengabdikan diri bagi almamaternya.

Nyoman Anjani, bersama rekan-rekan himpunan, berjalan menuju jalur parade di lapangan Sasana Budaya Ganesha (Sabuga).

Ditanya tentang rencananya ke depan, ia mantap menjawab sedang mempersiapkan diri untuk bekerja dan menekuni hobinya berkegiatan di alam bebas. Bungsu dari tiga bersaudara ini mengaku sebagian besar anggota keluarganya memang senang berkegiatan di alam bebas bahkan ia pernah mengikuti kontes pemilihan Putri Indonesia hingga tahap semifinal pada tahun 2011. Alasannya, ia ingin menjadi Duta Lingkungan Hidup dan mengabdikan diri bagi Indonesia.

Apa yang jadi alasan Anda masuk ke jurusan teknik mesin?

Waktu kelas 2 SMA, saya terinspirasi oleh senior saya yang merupakan seorang drilling operator di sebuah perusahaan oil and gas. Dia lulusan teknik mesin yang menginspirasi saya menjadi seorang engineer. Menurut saya, di dunia ini, pekerjaan apa yang tidak membutuhkan mesin? Pada akhirnya, saya berpendapat bahwa lapangan pekerjaan lulusan ini (teknik mesin) akan mencakup segala bidang. Menurut saya, masih jarang perempuan yang memilih jurusan mechanical engineer dan tentunya perusahaan akan membutuhkan tenaga perempuan beserta skill-nya dalam engineering.

Salah satu mahasiswa teknik mesin ITB membantu rekannya mempersiapkan diri untuk mengikuti parade.

Salah satu mahasiswa teknik mesin ITB membantu rekannya mempersiapkan diri untuk mengikuti parade.

Mahasiswa teknik mesin ITB berbaris dengan atribut menyambut wisudawan dan wisudawati.

Mahasiswa teknik mesin ITB berbaris dengan atribut menyambut wisudawan dan wisudawati.

Dua hari sebelum hari Anda di wisuda, Anda baru saja menyerahkan jabatan sebagai ketua KM ITB periode 2013 – 2014 kepada presiden kabinet yang baru, apa kesan Anda selama menjadi ketua KM?

Saya mendapatkan pelajaran bahwa menjadi seorang presiden KM itu harus benar-benar berkorban, baik waktu maupun energi. KM ITB ‘kan sebuah non-profit organization, jelas tidak ada yang menggaji kami. Jadi, memang harus benar-benar berkorban. Kita harus tetap memberi manfaat kepada orang lain. Hal yang paling saya bangga adalah kepuasan saat kami bisa memberikan solusi terhadap masalah-masalah yang ada di kampus, seperti membuat program-program yang dapat membuka pemikiran mahasiswa ITB dan memberikan solusi konkrit kepada massa kampus yang dimana kabinet-kabinet sebelumnya belum dapat menjalankan hal tersebut.

Bagaimana Anda mengatur waktu antara organisasi dan kuliah?

Intinya adalah bagaimana membagi fokus. Misalnya saya membagi hari ini untuk mengurus akademik saya. Keesokan harinya, saya fokus dalam mengurus organisasi. Tentunya waktu pribadi akan semakin berkurang seiring dengan seberapa sibuknya Anda.

Apa Anda pernah merasa kesibukan Anda di organisasi mengganggu nilai akademik Anda?

Alhamdulillah, tidak pernah bermasalah. Dari dulu, jika waktunya belajar, maka saya belajar. Saat waktunya bermain, saya bermain. Saat waktunya berorganisasi, ya, saya berorganisasi. Saya juga merupakan orang yang perfeksionis, saya all-out dalam segala hal.

Adakah program yang belum berhasil dijalankan saat Anda menjabat di KM ITB?

Menurut saya, hampir seluruh program sudah dijalankan. Hanya saja, sistem bottom-up (yang ingin saya terapkan antara kabinet KM ITB dengan himpunan-himpunan dan unit-unit di bawahnya belum dapat terlaksanakan dengan baik.

Nyoman Anjani dan rekan-rekan himpunan jurusan teknik mesin ITB mengucapkan jargon khas jurusannya.

Nyoman Anjani dan rekan-rekan himpunan jurusan teknik mesin ITB mengucapkan jargon khas jurusannya.

Apa harapan Anda untuk kabinet selanjutnya?

Saya harap, mereka bisa meneruskan, menjalankan, dan mengoptimalkan standard operating procedure (SOP) yang dibuat oleh kabinet saya. Jangan disia-siakan. Program-program yang sudah berjalan baik tentunya harus dilanjutkan. Intinya, saya harap, kepengurusan selanjutnya bisa open-minded terhadap program-program yang telah dibuat kabinet saya, agar nantinya mereka tidak memulai kerja dari nol lagi.

Apa kendala terbesar Anda dalam memimpin di KM ITB?

Partisipasi dari masing-masing himpunan masih kurang. Meskipun ada yang berpartisipasi, namun terlihat bahwa mereka sibuk dengan urusan internal himpunannya masing-masing.

Bagaimana Anda bisa ikut ajang pemilihan Putri Indonesia 2011?

Itu sih iseng saja, iseng-iseng berhadiah. Kemudian, karena saya orang yang suka menekuni hal-hal yang berbau alam, tentunya ingin berpartisipasi di lingkungan hidup yang terfokus di Indonesia. Intinya, ingin menjadi ambasador. Saya lolos hingga ke babak semifinal.

Apa yang sedang Anda sibuk lakukan selama pascakelulusan?

Saya sedang apply kerjaan ke beberapa perusahaan. Lalu, beberapa waktu ke depan, saya punya rencana untuk mendaki Gunung Kerinci. Saya juga masih bantu-bantu di laboratorium sebagai asisten.

Nyoman Anjani tersenyum simpul ke arah wartawan di lapangan Sabuga.

Nyoman Anjani tersenyum simpul ke arah wartawan di lapangan Sabuga.

Apa motto hidup Anda?

Saya suka quotes-nya Pramoedya Ananta Toer yang berisi: “Carilah ilmu sebanyak-banyaknya dan curilah ilmu sebanyak-banyaknya dari bangsa lain yang pernah menjajah kita. Lalu, bawa keluar bangsa ini dari kegelapan.”

Seperti apa pemimpin yang hebat menurut Anda?

Menurut saya, seorang pemimpin yang hebat adalah bukan dia yang bisa mengerjakan semuanya sendirian, namun dia yang mampu menempatkan potensi-potensi yang hebat pada posisi yang tepat.

Salah satu anggota himpunan mahasiswa ITB  bersiap untuk mengikuti parade di lapangan Sabuga.

Salah satu anggota himpunan mahasiswa ITB bersiap untuk mengikuti parade di lapangan Sabuga.

Dinatalia R. Gurning (writer & photographer)

Dipna Videlia (editor & reporter)

Faris Husnayain (writer)

Leave a Reply