Mahasiswa Entrepreneur: Bukan Mahasiswa Biasa

Saat mahasiswa lain cenderung diam dan memikirkan nilai akademik semata, mulailah bermunculan mahasiswa-mahasiswa yang penuh inovasi dan menghasilkan sesuatu yang kreatif. Sekarang banyak mahasiswa yang mulai terjun ke dunia bisnis. Selain mendapatkan keuntungan finansial, mereka juga mendapatkan kepuasan batin atas usaha yang mereka rintis.

Di Jawa Barat sendiri, khususnya daerah Jatinangor, Sumedang,  tidak sedikit mahasiswa yang berkecimpung ke dunia bisnis. Dimulai dari kafe-kafe kecil hingga tempat usaha yang cukup besar mulai memadati daerah ini. Jatinangor dijadikan sebagai tempat membuka usaha mereka, karena wilayah ini memiliki pasar yang potensial. Banyaknya institusi pendidikan tinggi di wilayah ini, menjadikan mahasiswa sebagai target utama para pengusaha muda ini.

Terjunnya mahasiswa ke dunia bisnis juga mendapatkan dukungan pemerintah. Hal tersebut terlihat dari mulai digalakkannya entrepeneur state di Indonesia. Entrepreneur state merupakan tahapan diamana negara yang dikelola secara entrepreneurial yang semua hal tidak didominasi pemerintah. Pemerintah hanya berfungsi sebagai fasilitator, pendorong, dan pengatur.

Untuk memulai sesuatu hal tentu bukanlah perkara yang mudah. Hal tersebut diungkapkan oleh Kiki, manajer Jams Cafe. “It’s Hard to beat a big name,” ucapnya di tengah-tengah wawancara. Kiki mengaku harus mempersiapkan segala sesuatunya selama setahun sebelum Jams Cafe benar-benar resmi diperkenalkan untuk umum. Konsep kafenya dipikirkan begitu matang sehingga diharapkan mampu menyaingi pesaing-pesaing yang sudah ada.

 

Suasana didalam Jams Cafe yag dipenuhi oleh interior berbahan kayu.

Suasana didalam Jams Cafe yag dipenuhi oleh interior berbahan kayu.

Konsep yang ditawarkan Jams Cafe sangat jelas. Pertama kali memasuki kafe ini, suasana sunyi dan tenanglah yang pertama kali dirasakan. Benda-benda yang berbahan kayu menjadi hal yang menjadi penarik perhatian kafe ini.  “Eat – Drink – Sing” merupakan tagline yang diusung. Adanya live music setiap hari menjadi andalan yang membedakan kafe ini dengan kafe yag lain.  Konsep yang ditawarkan sangatlah cocok bagi para mahasiswa yang memang menjadi sasaran utama kafe ini. Konsep yang ditawarkan tadi merupakan hal yang dirasa mampu membuat kafe ini bertahan diantara lautan kafe di Jatinangor.

Berbeda lagi dengan konsep yang ditawarkan oleh College Coffee. Fatur, pemilik College Coffee ini mengaku menawarkan sesuatu yang baru kepada para penikmat kopi di Jatinangor. Kafe kopi yang baru dibuka sekitar dua bulan ini memang memiliki pesaing yang sudah memiliki banyak peminat. “Yang berbeda dari kafe kami ya ada di taste. Kopi kami punya taste buah,” Ucap Fatur saat ditanya apakah dia yakin bertahan di antara banyaknya kafe yang juga ikut berkembang. Berbeda dengan kafe kopi lainnya yang setiap itemnya dibandrol dengan harga yang cukup mahal, kafe ini menawarkan harga yang dapat ditoleransi oleh mahasiswa.

Fatur, pemilik College Coffee berpose saat difoto.

Fatur, pemilik College Coffee berpose saat difoto.

Surga dunia merupakan rumah makan yang juga merupakan buah hasil pemikiran dari Rai, yang dikembangkan atas bantuan teman-temannya.  “Saya hanya mengeluarkan 300ribu untuk memulai kafe ini, sisanya saya cari dari sponsor,” begitulah yang disampaikan oleh Rai, ketika ditanya mengenai modal awal untuk membuka usahanya tersebut. Pemilihan nama yang unik juga merupakan salah satu usaha yang diharapkan dapat menarik perhatian para pengungjungnya. Disiapkan meja-meja yang dapat digunakan sebagai lesehan yang bertujuan untuk mempertemukan setiap orang yang ada disini.

Rumah Makan Surga Dunia

Rumah Makan Surga Dunia.

Konsep awal yang ditawarkan oleh Rumah Makan Surga Dunia adalah setiap orang bebas menentukan berapa harga makanan yang dimakan. Ternyata lama-kelamaan hal tersebut justru semakin dimanfaatkan oleh pengunjung. Untuk menghindari tutupnya rumah makan ini, akhirnya Rai mengubah konsep dengan menetapkan harga pada setiap makannanya, tetapi tetap dapat dijangkau oleh mahasiswa.

Banyaknya masyarakat yang membuka usaha di Jatinangor, tidak membuat pengusaha-pengusaha muda ini cepat menyerah. Hal tersebut justru dijadikan sebagai tantangan dan motivasi untuk menjadikan tempat usahanya menjadi semakin lebih baik. “Saya justru senang kalau semakin banyak saingan di Jatinangor. Hal ini semakin membuat saya bersemangat untuk mengembangkan usaha saya,” ucap Rai.

 

Rai, mahasiswa entrepreneur pemilik Rumah Makan Surga Dunia.

Rai, mahasiswa entrepreneur pemilik Rumah Makan Surga Dunia.

Usaha yang dijalankan oleh para mahasiswa ini ternyata tidak terlalu berdampak terhadap masalah akademis mereka. Usaha yang sedang dijalankan justru sering membantu mereka dalam dunia pendidikan maupun dalam kehidupan sehari-hari.  Dengan membuka usaha seperti ini, mereka justru semakin terlatih dalam memanejemen waktu atau melatih mereka dalam bekerja sama dengan orang lain.

Tidak selamanya jalan para pengusaha muda ini mulus. Banyak tantangan yang harus dihadapi terutama untuk mempertahankan usaha yang dimilikinya. Ada saja tantangan yang harus dihadapi yang terkadang membuat mereka berpikir untuk mengakhiri usaha mereka. Akan tetapi pemikiran yang tetap optimis membuat mereka tetap bertahan dengan segala rintangan yang ada.

“Mulailah dari apa yang kamu suka,” begitulah yang diucapkan oleh Rai ketika dimintai sarannya untuk para mahasiswa yang berniat untuk membuka usaha. “Bekerja sama jugalah dengan teman-teman kamu. Bekerja sama dengan teman yang memiliki satu visi akan semakin mempermudah usaha yang sedang kamu buat,” tambahnya lagi.

Editor: Lidya Y. Panjaitan

Photographer: Dinda Prasetyawati

Writer: Rinaldi M. Azka

Leave a Reply