Mencari Ketenangan di Kampoeng Ladang

Bermula pada tahun 2007, seorang pria bernama Zulfiadi Burhan (49) berinisiatif mengolah lahan kritis di Kampung Pasir Peti, Desa Margalaksana, Kab. Sumedang menjadi daerah konservasi. Berlatar pendidikan Geografi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI), Buyung, sapaannya, menyulap fungsi daerah konservasi lahan menjadi tempat wisata bernama Kampoeng Ladang. Berkonsep wisata keluarga, Kampoeng Ladang menawarkan kebudayaan Sunda dan panorama alam indah.

Pengunjung tidak perlu merogoh kocek ketika berkunjung ke sini, kecuali jika pengunjung ingin menikmati kuliner khas Jawa Barat dan fasilitas outbond. Semua makanan tersaji selagi segar. Kangkung ditumis sehabis dipetik, ayam yang dipilih langsung dari kandang, dan minuman khas Sunda seperti bandrek dan bajigur yang hangat. “Ini tanah orang Sumedang, untuk apa mereka bayar?” tutur Buyung memberi alasan mengapa para pengunjung tidak dipunguti biaya. Atas pengabdian Buyung, Pemerintah Daerah Sumedang mengganjar dirinya dengan penghargaan sebagai Tokoh Masyarakat Pelopor Kearifan Lokal Bidang Konservasi dan Rehabilitasi Hutan pada 15 April 2014.

Ketenangan begitu terasa di Kampoeng Ladang. Letaknya yang jauh dari akses jalan raya dan hiruk pikuk suasana kota membuat pengunjung melepas penat di tempat ini. “Ya di Jakarta kan enggak ada tempat seperti ini,” kata Filman yang datang bersama keluarga dari Jakarta.

Reporter: Dhio Faiz Syarahil, Rahman Fauzi, Nisa Ummu Rumaisha

Dari Jalan Raya Pangeran Kornel, pengunjung masuk ke jalan sempit melewati SMPN 7 Sumedang. Jalan itu hanya bisa dilalui satu kendaraan beroda empat. Setelah menempuh jarak sekitar satu kilometer, pengunjung menjumpai plang Kampoeng Ladang. (Foto: Rahman Fauzi)

Kampoeng Ladang pernah menjadi tempat shooting beberapa acara televisi, seperti Bocah Petualang (Trans 7) dan A La Chef (Trans Tv).

Kampoeng Ladang pernah menjadi tempat shooting beberapa acara televisi, seperti Bocah Petualang (Trans 7) dan A La Chef (Trans Tv). (Foto: Dhio Faiz Syarahil)

Kampoeng Ladang memiliki luas lahan sekitar 5 hektare.
Kampoeng Ladang memiliki luas lahan sekitar 5 hektare. (Foto: Rahman Fauzi)
    Buyung sejak mahasiswa telah mencintai alam. Saat menjadi mahasiswa, ia mengikuti komunitas pecinta alam, Mapala UI.

Buyung sejak mahasiswa telah mencintai alam. Saat menjadi mahasiswa, ia mengikuti komunitas pecinta alam, Mapala UI. (Foto: Rahman Fauzi)

05

Suasana pedesaan begitu terasa di Kampoeng Lada. (Foto: Dhio Faiz Syarahil)

06     Kampoeng Ladang menyediakan outbond sebagai wahana bermain anak-anak.

Kampoeng Ladang menyediakan outbond sebagai wahana bermain anak-anak. (Foto: Rahman Fauzi)

07     Jembatan Bambu dipilih anak-anak untuk bermain. Merka siap basah kalau terjatuh dari jembatan bambu,

Jembatan Bambu dipilih anak-anak untuk bermain. Merka siap basah kalau terjatuh dari jembatan bambu, (Foto: Dhio Faiz Syarahil)

Permainan tradisional Enggrang juga tersedia di Kampoeng Ladang.

Permainan tradisional Enggrang juga tersedia di Kampoeng Ladang. (Foto: Rahman Fauzi)

Makanan di Kampoeng Lada dimasak secara tradisonal di Dapur Hawu. Kata "hawu" diadaptasi dari kebiasaan masyarakat ketika menyalakan api tungku dengan meniup-niup bara api menggunakan bambu. Tiupan itu berbunyi "hawu... hawu...".

Makanan di Kampoeng Lada dimasak secara tradisonal di Dapur Hawu. Kata “hawu” diadaptasi dari kebiasaan masyarakat ketika menyalakan api tungku dengan meniup-niup bara api menggunakan bambu. Tiupan itu berbunyi “hawu… hawu…”. (Foto: Nisa Ummu Rumaisha)

Pengunjung dapat menikmati makanan secara lesehan di saung-saung yang tersedia.

Pengunjung dapat menikmati makanan secara lesehan di saung-saung yang tersedia. (Foto: Nisa Ummu Rumaisha)

Semua makanan dan minuman yang disajikan di Kampoeng Ladang diolah di Dapur Hawu.

Semua makanan dan minuman yang disajikan di Kampoeng Ladang diolah di Dapur Hawu. (Foto: Nisa Ummu Rumaisha)

    Pengunjung di Kampoeng Ladang harus menunggu sekitar 30-60 menit untuk setiap makanan dan minuman yang mereka pesan.

Pengunjung di Kampoeng Ladang harus menunggu sekitar 30-60 menit untuk setiap makanan dan minuman yang mereka pesan. (Foto: Dhio Faiz Syarahil)

Bentuk atap segitiga Saung Ngupuk bertujuan untuk menghasilkan sirkulasi udara yang baik dan membuat hewan tidak bisa menyerang petani yang berlindung.

Bentuk atap segitiga Saung Ngupuk bertujuan untuk menghasilkan sirkulasi udara yang baik dan membuat hewan tidak bisa menyerang petani yang berlindung. (Foto: Dhio Faiz Syarahil)

14

Saung Ngupuk menjadi tempat istirahat pengunjung. Saung Ngupuk sebenarnya biasa dipakai beristirahat para petani ketika bersawah. (Foto: Rahman Fauzi)

15     Tutup kepala ini bernama caping. Pengunjung bisa memakai caping supaya kesan berladang terasa.

Tutup kepala ini bernama caping. Pengunjung bisa memakai caping supaya kesan berladang terasa. (Foto: Rahman Fauzi)

Leave a Reply