Growbox, Kotak Kecil dengan Sejuta Manfaat

“Kita namain Growbox, because jamur yang tumbuh ini keluar dari box, seperti ide-ide kita yang out of the box.” –Ronaldiaz, pencetus Growbox

Hujan yang turun rintik-rintik di sore itu menjadi backsound saat tiga pria muda dalam naungan IDEAS menggeluti pekerjaannya. Ruangan yang mereka gunakan dikelilingi jamur dalam kemasan. Hanya bermodalkan sepetak ruang yang disebut kantor, berbagai inovasi baru ala anak muda IDEAS dilahirkan di sana.

IDEAS merupakan singkatan dari Inovation, Desain, Engineering, Art, and Science. Dari berbagai cabang ilmu tersebut, para pemuda yang aktif di dalam IDEAS menginginkan kolaborasi dalam multi disiplin ilmu. Terletak di Jalan Cijagra 48, Buah Batu, Bandung, kantor IDEAS  menempati  lantai ketiga dari bangunan sebuah apotek. Dalam kantor berukuran kecil dan remang-remang itu, muncul gagasan-gagasan besar dan cemerlang. Salah satunya adalah Growbox.

Growbox, inovasi hasil karya pemuda kreatif Bandung dalam naungan IDEAS. Citizenmagz/Jannisha

Growbox adalah salah satu gagasan yang dikembangkan sejak tahun 2012 oleh empat orang, yaitu Ronaldiaz Hartantyo, Adi Reza Nugroho, Robbi Zidna Ilman, dan Annisa Wibi. Growbox lahir dengan tajuk grow your own food, di mana kita dibiarkan untuk menumbuhkan makanan kita sendiri dalam kotak-kotak kecil, untuk nantinya kita olah sendiri.

Tiga anggota IDEAS yang ditemui di kantornya di Jalan Cijagra, Bandung, pada Senin (21/4). Dari kiri ke kanan: Ronaldiaz, Adi, dan Adi Reza. Citizenmagz/Adzhani

Menurut Ronaldiaz, Indonesia merupakan negara agriculture yang dalam penerapannya tidak optimal. Itulah alasan kuat yang membuat gagasan Growbox ini muncul. Ditambah dengan fakta bahwa kebanyakan masyarakat tidak mengetahui dari mana asal makanan mereka, Growbox mengaplikasikan gerakan dengan mengajak masyarakat untuk menanam makanannya sendiri. Hal tersebut dimaksudkan agar masyarakat dapat memastikan kesegaran makanan yang mereka makan.

Jamur tiram dipilih IDEAS sebagai objek utama yang dikembangkan dalam Growbox. Jamur tiram merupakan unsur yang adaptif, bisa tumbuh di mana saja, dan merupakan salah satu dari tujuh super food yang ada di dunia. Jamur tiram mengandung empat sehat dari lima sempurna dalam susunan bahannya, sangat bergizi, dan merupakan the future protein. Selain itu, fakta bahwa jamur juga merupakan spesies terbesar kedua yang ada di alam dan di dunia memperkuat keyakinan para penggagas Growbox untuk mengembangkannya.

Growbox terdiri dari sebuah kotak yang berisikan limbah kayu, dicampur dengan dedak dan kapur dalam kemasan plastik. Plastik ini disebut baglog atau medium tanam jamur. Baglog ini kemudian disterilisasi dengan uap air bertekanan untuk mengurangi kontaminasi dengan jamur atau mikroba lainnya. Setelah disematkan bibit jamur, baglog masuk ke dalam tahap inkubasi selama 1 bulan. Baglog kemudian akan berubah warna menjadi putih, pertanda bahwa waktunya sudah cukup untuk dimasukkan ke dalam dus dan dibudidayakan oleh konsumen.

Growbox dalam kemasan yang menunggu untuk siap dijual. Citizenmagz/Adzhani

Plastik yang membungkus baglog menahan jamur-jamur itu tumbuh berkembang, sampai sang pemilik (pembeli Growbox) membukanya. Dalam setiap kemasannya, disertakan spray penyemprot yang dapat diisi ulang oleh air biasa. Dengan menggunakan spray tersebut, jamur yang ada di dalam Growbox dapat dipanen sebanyak 3-4 kali dan tumbuh subur selama kurang lebih 4 bulan.

Spray sebagai pelengkap untuk menyemprot jamur ketika sudah sampai ke tangan pelanggan. Citizenmagz/Jannisha

Kotak yang diterapkan dalam gagasan ini dimaksudkan agar para jamur memiliki rumah dan terjaga kelembabannya. “Si Jamur tuh pemalu banget. Dia bentuknya kaya tumbuhan, tapi lebih ke hewan. Dia masuk kingdom Fungi. Dia punya perasaan sendiri,” ujar Ronaldiaz, pencetus utama Growbox. Si jamur pun disarankan untuk diberi nama, agar pemilik dapat memanggil jamur tersebut layaknya peliharaan kesayangan.

 

Si Kotak Berjamur yang Mengobati

Objek yang digunakan dalam gagasan Growbox ini adalah jamur tiram dengan beberapa warna yaitu, putih (pleurotus ostreatus), biru (pleurotus columbinus), kuning (pleurotus citrinopileatus), dan merah muda (pleurotus djamoer). Warna-warna jamur tiram yang tumbuh dalam growbox didasari oleh spesies yang berbeda dari masing-masing jamur. Jamur tiram putih memiliki keunggulan untuk menghindarkan anemia dan bergizi baik, sedangkan jamur merah muda memiliki anti-oksidan tinggi. Adapula jamur biru yang dapat menurunkan tekanan darah dan anti-glikemik. Terakhir yaitu jamur kuning yang dapat menurunkan kolesterol dalam darah dan mencegah kanker.

Tiga dari empat jenis jamur Growbox. Sumber: Dokumentasi pribadi

Demi mengembangkan bisnisnya, IDEAS sedang menyasar growbox sebagai hadiah dalam berbagai acara, seperti wisuda, pernikahan, dan lain-lain. Selain itu, growbox juga bisa dijadikan hadiah alternatif saat menjenguk orang sakit. Growbox dinilai bisa memberi semangat sembuh kepada mereka yang sedang sakit. Growbox is a growing thing, berbeda dengan bunga yang merupakan dying thing.

 

Strategi Penjualan

Walaupun Growbox baru membuka retail yang berpusat hanya di Bandung dan Jakarta, tetapi Growbox sudah diperjual-belikan di seluruh Indonesia melalui penjualan online. Bahkan, produk Growbox sudah melambung jauh sampai ke Hungaria dan London. Target terbesar pemasaran mereka sebanyak 56% perempuan berumur 20-39 tahun dan tinggal di kota. Ronaldiaz mengaku, 3 dari 5 orang yang pernah membeli Growbox selalu membeli produk mereka lagi.

Cara lain yang IDEAS lakukan untuk menyebarkan penjualan kotak berjamur ini adalah dengan menyelenggarakan acara bernama Meet and Grow. Mereka mengajak para konsumennya untuk berkumpul dan melakukan kegiatan seperti Mushroom Hunting, Mushroom Art, dan Education Lab. “Sebenarnya ini ngga khusus untuk konsumen, tapi juga mereka yang menjadi target pemasaran kita,” tambah Ronaldiaz.

Mushroom Hunting adalah suatu cara baru belajar mengenal berbagai jenis jamur yang menarik untuk diikuti bagi siapa saja, seperti yang bisa kita lihat di video dari IDEAS berikut ini.

Meet and Grow: Mushroom Hunting

Jamur memiliki kebiasaan yang unik ketika mereka dipanen. Mereka akan mengeluarkan spora (sel berpelindung) berukuran kecil yang memiliki ciri khas sesuai dengan jenis jamurnya. Spora-spora yang mereka keluarkan dapat dicetak pada media hitam. Kegiatan pencetakan tersebut merupakan salah satu kegiatan yang diterapkan dalam acara Meet and Grow yang diselenggarakan oleh IDEAS, terutama dalam kegiatan Education Lab bagi anak-anak Sekolah Dasar (SD).

Karena anak-anak SD dinilai terlalu sering menanam pohon tauge saat pelajaran biologi, IDEAS merasa sudah saatnya jamur juga diperkenalkan kepada mereka. IDEAS membawa jamurnya sendiri dan mempresentasikan pengetahuan seputar jamur kepada para siswa. Selain itu, para siswa juga diajak untuk mencetak spora dari jamur yang telah disediakan. Tak lupa, diakhir acara mereka memberikan growbox kepada para siswa peserta Education Lab. Berikut cuplikan kegiatan Education Lab dari IDEAS.

Kegiatan IDEAS, Meet and Grow di SD Pardomuan

 

Memberi Manfaat Hingga Akhir

Kegunaan Growbox tidak hanya berakhir sampai jamur selesai dipanen saja. Ternyata, sampah media bekas tumbuh jamur pun masih dapat dipergunakan ulang. IDEAS sedang melakukan riset untuk menciptakan bahan pengganti styrofoam dari “sampah” Growbox. Tak seperti Styrofoam biasa yang dicap sebagai perusak lingkungan, styrofoam ala Growbox ini masih tetap bisa ditumbuhi tanaman seperti rumput. Untuk daya tahannya, IDEAS mengaku bahwa Styrofoam yang sedang dikembangkannya ini anti api, dan kekuatannya hampir mirip dengan  beton. Ronaldiaz memberi julukan styrofoam ini sebagai “sampah dari sampah yang disulap menjadi material sustainable baru”.

Limbah bekas Growbox yang sedang dikembangkan oleh IDEAS menjadi bahan pengganti styrofoam. Citizenmagz/Jannisha

 

Tim Liputan:

Jannisha Rosmana Dewi (Editor, Fotografer)

Amalia Qisthyana Amsha (Reporter, Editor)

Adzhani Fatimah Az-Zahrah. (Reporter, Fotografer)

Leave a Reply