Di Balik Wisata Alam Tahura Ir. Juanda: Sisi Lain Asal Mula Gua Belanda

Berbicara tentang daerah wisata, Bandung yang dijuluki Paris van Java selalu memiki warna. Meskipun belakangan marak dengan berkembangnya wisata kuliner dan wisata belanja, Bandung juga memiliki wisata alam yang tak kalah menarik. Wisata alam yang ada di kota Bandung mematahkan anggapan bahwa kota besar identik dengan udara panas. Salah satu pilihan wisata alam tersebut adalah Taman Hutan Raya (Tahura)  Ir. Juanda.

DSC_0012

Suasana dan pemandangan di Tahura Ir. Juanda. Jalanan setapak ini adalah jalur yang dapat dilalui untuk mencapai Curug Omas. (Foto: M.Henri Laksono)

Umumnya, wisatawan Taman Hutan Raya (Tahura) Ir. Juanda mengenal kawasan ini sebagai area konservasi alam. Cagar yang membentang dari Dago Pakar hingga Maribaya, Lembang ini memang menawarkan pemandangan dan kesejukan alam dengan perpaduan alam sekunder dengan hutan tanaman. Udara panas yang menyengat sontak tergantikan dengan dingin dan segarnya alam niscaya dapat dirasakan siapa saja yang memasuki kawasan Tahura Ir. Juanda.

Di area konservasi ini, ada beberapa objek menarik yang dapat dikunjungi wisatawan, selain hanya menikmati segarnya alam dan udara yang berasal dari pepohonan. Objek-objek yang ada yaitu Curug Dago, Curug Omas, Gua Belanda, Gua Jepang, hingga Patahan Lembang. Wisatawan dapat memilih satu dari beberapa jalur yang ada dan menentukan bagian mana yang akan dikunjungi terlebih dahulu.

 

DSC_2080

Air terjun “Curug Omas” dengan alirannya yang deras. (Foto: Billy Fadhila)

Kebanyakan wisatawan memulai dengan mengunjungi Gua Jepang, yang terletak paling dekat dari pintu masuk atau area parkir, kemudian baru ke objek lain yang lebih jauh. Namun, bagi wisatawan yang mengendarai motor, ada alternatif lain yang dapat ditempuh, yaitu mengunjungi objek yang paling jauh terlebih dahulu disusul dengan objek yang paling dekat dengan pintu masuk. Jadi, perjalanan pulang tidak terasa memakan waktu yang lama.

Selain segarnya alam, Tahura Ir. Juanda juga memiliki peninggalan budaya, yaitu terdapatnya dua buah gua peninggalan zaman kolonial di Indonesia. Sebuah gua dikenal dengan sebutan Gua Belanda, karena memang merupakan peninggalan bangsa tersebut, dan lainnya Gua Jepang. Sekilas mengingat zaman kolonial, menguak pula kisah sejarah bangsa Indonesia. Namun, sayang sekali catatan sejarah yang menjelaskan kisah tersebut masih sangat sedikit, bahkan terkesan masih sebatas permukaan.

Yanti (65) seorang wisatawan yang datang dari Jakarta berpendapat, sebaiknya ada catatan tertulis yang dicantumkan di sekitar Gua Belanda dan Gua Jepang agar lebih memberikan informasi pada wisatawan.

“Kurang informasi, seharusnya ada sejarahnya yang bisa kita baca di sini, jadi bukan dari mulut ke mulut,” ujar Yanti.

Wisatawan yang datang sekeluarga dari Jakarta ini mengatakan, kunjungan pada Minggu (20/4) tersebut merupakan kali kedua ia datang ke Tahura Ir. Juanda. Ia menambahkan, kawasan Tahura memang menjadi pilihan wisata alam bagi keluarganya. Secara pengelolaan, Tahura Ir. Juanda sudah bersih dan bagus, hanya akan lebih baik jika literatur sejarah peninggalan budaya tidak hanya terdapat di Pusat Informasi, tetapi di spot Gua Jepang dan Gua Belanda.

DSC_2128

Suasana di depan pintu Gua Jepang pada Minggu (20/4). (Foto: Billy Fadhila)

Salah satu batuan yang ada di kawasan Tahura. Batu besar yang konturnya menyerupai wajah ini dapat ditemui di sekitar Curug Omas. (Foto: Billy Fadhila)

Salah satu batuan yang ada di kawasan Tahura. Batu besar yang konturnya menyerupai wajah ini dapat ditemui di sekitar Curug Omas. (Foto: Billy Fadhila)

Berkaitan dengan minimnya literatur yang ada di Tahura Ir. Juanda tentang Gua Belanda dan Gua Jepang, ahli sejarah dan manajemen pariwisata Universitas Padjadjaran (Unpad), Miftahul Falah, M.Hum berpendapat, hal ini disebabkan penelitian yang lebih banyak berfokus pada zoologi dan botani.

DSC_0047

Pepohonan di area Tahura sekitar Curug Omas. (Foto: M. Henri Laksono)

“Peninggalan sejarah sangat sedikit, wajar kalau cuma sebatas permukaan. Kecuali, kalau penelitian kemudian dikaitkan dengan PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air-red.) Bengkok, nanti terkait juga dengan penggunaan listrik pertama di Kota Bandung,” ujar Mifta.

Dosen Fakultas Ilmu Budaya Unpad yang berasal dari Dago, Bandung ini mengemukakan, pihak pengelola Tahura Ir. Juanda lebih menonjolkan wisata alam daripada wisata budaya yang ada di kawasan tersebut. “Meskipun ada tinggalan budaya, tetapi orang lebih senang dengan ciptaan alam,” kata Mifta.

 

Asal Mula Gua Belanda                                                                              

Pada umumnya, masyarakat mengenal sejarah Gua Belanda sebagai tempat pertahanan zaman perang. Padahal, gua yang lebih tepat disebut terowongan tersebut adalah saluran air.

DSC_2109

Suasana di depan pintu Gua Belanda pada Minggu (20/4). Terdapat beberapa warga lokal yang menawarkan jasa penyewaan senter karena di dalam gua tidak terdapat penerangan sama sekali. (Foto: Billy Fadhila)

“Sebenarnya gua Belanda itu adalah tempat aliran air untuk keperluan PLTA Bengkok. Hanya Jepang yang membuat gua pertahanan di situ. Baru dijadikan tempat pertahanan ketika fungsi PLTA Bengkok berhenti,” papar Mifta.

Disampaikan oleh Mifta, Gua Belanda ini jika dikemas dengan beberapa objek wisata budaya lain yang ada di kota Bandung, dibumbui dengan sejarah serta mitos, akan menjadi satu kesatuan wisata sejarah yang menarik. Disebut sebagai wisata sejarah ketika ada keterkaitan antara objek satu dengan objek yang lain, sehingga dari sebuah perjalanan wisata, terkumpullah suatu jalinan kisah yang utuh. Kisah yang utuh yang dapat terbentuk dari Gua Belanda dan objek wisata yang lain adalah peran daerah Dago dalam memasok keperluan listrik di Kota Bandung pada zaman dahulu. Dalam hal ini, Gua Belanda harus dikemas dalam satu paket wisata dengan Kantor Pusat PLN dan sumur Bandung, kemudian PLTA Bengkok. Jika wisatawan hanya mengunjungi Gua Belanda, atau lebih luasnya Tahura Ir. Juanda, itulah yang disebut dengan wisata budaya, karena tidak terkait dengan objek manapun.

 

Keberhasilan Pariwisata

Di kawasan Curug Omas, angin seakan menerbangkan partikel air terjun ke udara dan mendinginkan kulit siapapun yang terkena semburannya. Dua orang wisatawan tengah asyik berfoto di jembatan yang terletak di atas Curug Omas, Minggu (20/4). “Saya baru pertama kali ke sini. Kesan saya, tempat ini indah, view-nya dapet,” ujar Dewi (22).

Selain wisatawan lokal, ada pula wisatawan asing yang datang ke Tahura Ir. Juanda. Salmeen (25) dan Hussam (25), warga negara Saudi Arabia ini sengaja datang untuk berwisata. Ada pula Palmer, warga asal Amerika Serikat yang berdomisili di Bandung yang menyatakan, dirinya sudah sering datang ke Tahura Ir. Juanda.

“Saya suka sekali, alamnya indah. It’s good,” ujarnya.

DSC_2103

Palmer, wisatawan yang berkunjung ke Tahura Ir. Juanda ketika diwawancarai pada Minggu (20/4). (Foto: Billy Fadhila)

Kawasan Tahura Ir. Juanda memang sangat indah dan tergolong bersih. Area yang terlihat kotor hanya di sekitar Curug Omas. Hal ini dapat dimaklumi karena wilayah jangkauan yang jauh, meskipun seharusnya pihak pengelola Tahura dapat memaksimalkan program outsourcing yang mengoptimalkan peran masyarakat sekitar.

Pariwisata memang merupakan sektor yang penting dalam suatu bangsa. Majunya pariwisata menjadi bukti majunya peradaban suatu bangsa. Dalam hal ini, Miftahul Falah kembali mengemukakan pendapatnya tentang bagaimana lebih memajukan Tahura Ir. Juanda. Menurutnya, pihak pengelola dapat menyelenggarakan atraksi wisata seperti tersedianya sarana flying fox, pain ball, dan lain-lain.

“Parameter keberhasilan pariwisata adalah ketika wisatawan ingin kembali ke situ,” ujar Miftahul Falah menutup pembicaraan.

 

Fotografer: Billy Fadhila

Penulis: M. Henri Laksono

Editor: Budiarti Utami Putri

Leave a Reply