Faurè, Dari Tugas Biasa Jadi Bisnis Luar Biasa

Berawal dari tugas kuliah, mereka menebar inspirasi. Bisnis yang dilakoni karena kewajiban sebagai mahasiswa, justru sukses dan laku keras di pasaran. Fesyen menjadi sarana mereka menginspirasi dan mengedukasi.

Indonesia memiliki ragam flora dan fauna yang sangat indah. Keindahan inilah yang menginspirasi sebelas orang mahasiswa Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB) untuk mengenalkan keanekaragaman flora dan fauna Indonesia melalui fesyen. Berawal dari akhir tahun yang lalu saat mereka mendapat mata kuliah Integrative Bussiness Experience (IBE) yang mengharuskan mereka membuat perencanaan bisnis yang matang untuk menghasilkan sebuah produk.

Logo Faure yang tercetak pada goodie bag. (Foto: Ayu Syifa Salsabilla)

Logo Faure yang tercetak pada goodie bag. (Foto: Ayu Syifa Salsabilla)

Modal awal sebesar Rp29 juta mereka dapatkan melalui pinjaman bank. Mereka harus melakukan presentasi ke tiga bank yang disediakan untuk mencari modal. “Di SBM ‘kan ada tiga bank yang ditawarkan. Alhamdulillah ketiga bank itu mau meminjamkan uang. Tapi akhirnya kami tetap harus memilih satu bank saja. Jadi kami memilih bank yang bunganya paling kecil dan bisa memberikan banyak keuntungan,” ujar Adliah Nur Hanifati dan Farisa Nur Laila Samsudin dari Divisi Marketing saat ditemui di ITB, Jumat, 25 April lalu. Tidak hanya itu, mereka juga harus mencari vendor, mencari tempat produksi, dan riset pasar. Setiap detail harus mereka perhatikan untuk mewujudkan produk di bawah nama Faura Dwipa.

Nama Faura Dwipa berasal dari singkatan fauna dan flora, serta Dwipa yang berarti pulau dalam Bahasa Sanskerta. Label Faurè sendiri diajukan agar lebih enak didengar, serta penggunaan aksen pada huruf E dilakukan agar terlihat lebih elegan dan menarik. Tak disangka, ternyata ada sebuah pulau di Australia Barat yang juga bernama Faure. Kebetulan pula, pulau itu merupakan pulau konservasi alam. Kesamaan nama dan misi inilah yang semakin memperkuat nama Faurè.

Farisa (kiri) dan Adliah (kanan) saat ditemui di ITB (Foto: Ayu Syifa Salsabilla)

Farisa (kiri) dan Adliah (kanan) saat ditemui di ITB (Foto: Ayu Syifa Salsabilla)

Adliah yang akrab disapa Lia menjelaskan mengapa mereka memilih untuk mengangkat tema flora dan fauna. “Faurè memang misinya di flora dan fauna. Jadi ketika IBE 1 kami memikirkan mau bikin apa ya, yang unik? Lalu kami terpikir fesyen supaya gampang. Siapa sih, yang nggak suka belanja?” Lia melanjutkan, “kalau batik ‘kan sudah mainstream. Lalu kami berpikir, bagaimana kalau flora dan fauna? Pemasarannya nanti juga kalau beli (produk) ini, bisa sekalian membantu flora dan fauna itu,”

Adliah saat wawancara di ITB. (Foto: Ayu Syifa Salsabilla)

Adliah saat wawancara di ITB. (Foto: Ayu Syifa Salsabilla)

Farisa yang merupakan sales manager Faura Dwipa juga menambahkan, “Dalam suatu bisnis itu tidak hanya memikirkan profit. Sekarang harus ada Corporate Social Responsibility juga. Kita harus bisa bertanggung jawab dengan lingkungan sekitar. Nah, kami ingin mengajak orang-orang, terutama anak muda sekarang, agar lebih mengenal flora dan fauna di Indonesia salah satunya melalui fesyen,”

Beragam cara mereka tempuh untuk memasarkan produk yang mereka buat. “Kami jualannya lewat online, B-to-B, lalu ikut event juga,” jelas Farisa. B-to-B atau Bussiness to Bussiness adalah sistem penjualan dengan menitipkan produk di toko milik orang lain. Bahkan, mereka pernah mengikuti dua pameran dalam satu minggu berturut-turut. “Pernah, kami satu minggu ikut ARTE, lalu satu minggu kemudian ikut IFEST. Apalagi waktu itu baru selesai UTS,” ungkap Lia. Mengikuti beragam pameran berarti mereka harus bolak-balik Jakarta-Bandung. Farisa dan Lia kompak mengakui bahwa kegiatan ini sangat melelahkan, apalagi mereka masih harus belajar untuk kuliah dan berorganisasi. Namun, semua rasa lelah itu terbayar saat Faurè mendapat sambutan positif di dalam masyarakat.

Salah satu blazer Faure dengan motif Rafflessia Arnoldii. (Foto: Dokumentasi Faure)

Salah satu blazer Faure dengan motif Rafflessia Arnoldii. (Foto: Dokumentasi Faure)

Mereka sadar bahwa masyarakat masih tersandung dengan harga yang mereka tawarkan. Satu potong blazer dibanderol dengan harga Rp389.000,00 dan tas Rp349.000,00. Namun, mereka berdalih bahwa harga mahal tersebut disebabkan oleh kualitas bahan yang baik dan jumlah produksi yang sedikit. Belum lagi Rp5.000,00 dari setiap produk yang terjual disumbangkan ke ProFauna Indonesia. Meski begitu, tetap saja ada orang yang mau membeli produk mereka yang unik dengan cita rasa Indonesia asli.

Beragam flora dan fauna telah mereka implementasikan dalam fesyen. Untuk blazer, Faurè telah mengangkat motif Burung Cendrawasih, Anggrek Hitam dari Kalimantan, Macan Dahan dari Kalimantan dan Sumatera, dan Rafflessia Arnoldii dari Bengkulu. Sedangkan untuk tas, edisi pertama terinspirasi dari Burung Enggang asal Kalimantan yang berwarna hitam. Edisi kedua memiliki tiga warna, yakni biru dari Merak Biru, merah dari Bunga Kawoli asal Papua, dan hitam dari Burung Enggang. Koleksi tas terbaru mereka hadir dengan warna hitam dari Burung Parotia asal Papua, merah muda dari Anggrek Sikat, warna kuning dari Bungong Jeumpa khas Aceh, dan warna cokelat yang terinspirasi dari Kancil Jawa. Oleh karena itu, Faurè tidak hanya mengajarkan mereka bagaimana mengembangkan sebuah bisnis, tetapi juga lebih mengenal flora dan fauna asli Indonesia. Saat ini, konsumen Faurè pun sudah mulai peduli terhadap keberadaan flora dan fauna khas Indonesia yang namanya jarang mereka dengar.

Beberapa produk tas karya Faure. (Foto: Dokumentasi Faure)

Beberapa produk tas karya Faure. (Foto: Dokumentasi Faure)

Meski ingin, ke depannya Faurè belum tahu apakah bisnis ini masih akan dilanjutkan atau tidak, mengingat mereka awalnya berangkat dari tugas kuliah. “Belum tahu sih, apa masih akan lanjut atau tidak, atau nanti produknya masih blazer dan tas, atau gimana. Kami masih belum bicara tentang bagaimana kelanjutan Faurè ke depannya. Soalnya sayang, kan, kami sudah susah payah membangun sebuah brand, orang-orang sudah mulai mengenal kami, kalau tiba-tiba nggak dilanjutkan, ya rasanya sayang ya..” tutup Lia dan Farisa.

 

Editor: Farah Qoonita

Reporter/Writer: Cendikia Panggih Mulyani

Fotografer: Ayu Syifa Salsabila

Leave a Reply