Sundanese Clothes, Memopulerkan Sandang Sunda Sampai Ke Luar Negeri

When there is a will, there is a way. Sebuah kutipan yang begitu pas menggambarkan Sundanese Clothes. Merek pakaian ini menjadi yang pertama mengangkat kebudayaan Sunda dalam produk mereka di Kota Bandung. Pemilik Sundanese Clothes, Evotz dan Igo memulai bisnis mereka dengan modal kecintaan atas budayamereka, yaitu budaya Sunda.

Evotz (27) salah satu pemilik Sundanese Clothes. Ia dan rekannya Igo merintis usaha ini sejak 2012.

Evotz (27) salah satu pemilik Sundanese Clothes. Ia dan rekannya Igo merintis usaha ini sejak 2012.

Generasi muda sekarang sering dianggap sebagai generasi yang mulai apatis terhadap budaya aslinya sendiri. Di zaman yang sudah mengalami pemodernan budaya asing, masyarakat khususnya pemuda, lebih gampang terpengaruh produk dari budaya asing. Namun, itu tidak sepenuhnya benar.Sebab, saat ini generasi muda di Jawa Barat sedang gencar-gencarnya melestarikan budaya mereka.

Dalam keseharian, bahasa Sunda tetap digunakan dalam percakapan. Baju adat Sunda mulai lazim digunakan dalam aktivitas sehari-hari.Hingga akhirnyamuncul usaha pelestarian budaya Sunda lewat Peraturan Daerah Kota Bandung No. 2 Tahun 2012.Perda ini menghimbau jika setiap hari Rabu warga Bandung melestarikan budaya Sunda, lewat penggunaan bahasa Sunda dan pemakaian iket Sunda. Peraturan inimelahirkan istilah populer,Rebo Nyunda.Evotz(27) sebagai pegiat budaya Sunda turut beraksi dalam pelestarian budayanya melalui toko yang ia bangun bersama kawannya, Igo.

Sundanese Clothes lahir tahun 2012. Sebelum membuka toko di Jalan Caringin nomor 101 di Kota Bandung, Evotz dan Igo mengawali perjalanan mereka lewat situs internet. Mereka menjual kaos bertema Sunda, pangsi, iket Sunda, aksesori seperti pin kujang dan kalung kujang.Bahkan mereka juga menjual cinderamata khas seperti pipa rokok bambu, suling bambu, dan gelas seng.

Iket Sunda merupakan salah satu produk unggulan Sundanese Clothes.

Iket Sunda merupakan salah satu produk unggulan Sundanese Clothes.

Untuk memulai suatu hal yang luar biasa, memang diperlukan sebuah usaha keras. Evotz bercerita, bahwa pada awalnya mereka harus memasukkan berbagai proposal untuk kerja sama atau mempromosikan Sundanese Clothes melalui media massa. Sekarang, sudah banyak media lokal maupun nasional yang mengangkat Sundanese Clothes sebagai sebuah profil yang bisa menginspirasi masyarakat. Bisa dikatakan bahwa Sundanese Clothes merupakan cagar budaya Sunda berbentuk toko berbasis komunitas.

Mengapa demikian? Sebab, bisnis ini bukan seperti bisnis biasa. Tidak hanya untung yang mereka cari, tapi juga kepercayaan. Dalam bekerjasama, mereka selalu menaruh kepercayaan baik kepada mitra maupun pelanggan. Hubungan erat itulah yang membuat orang-orang senang bermitra dan berbelanja kepada Sundanese Clothes. “Yang kita kedepankan adalah silaturahmi atau babarayaan-nya. Jadi, setelah mereka beli suatu produk dari sini, enggakcuma sampai di situ saja. Komunikasi pasti tetap jalan, dan sampai sekarang Alhamdulillah dari beberapa kota sudah banyak yang datang ke sini cuma untuk ngobrol. Jadi ya, kalau pun datang dan enggak beli, enggak apa-apa,” ujar Evotz.

Saat memasuki toko, kita langsung disambut ramah dengan sapaan bahasa Sunda. Toko ini buka setiap hari, dari pukul 09.00 hingga 20.00 WIB. Namun mereka tetap melayani meski ada pelanggan yang baru datang di waktu yang seharusnya toko tutup. Keramahan Sundanese Clothes terhadap pelanggannnya memang salah satu tradisi Sunda yang mereka terapkan. Pelanggan terjauh yang datang baru-baru ini ke toko mereka berasal dari Pulau Bali. “Padahal mah bisa pesan online, kan?” cerita Evotz sambil tertawa.

Atas dasar kecintaan terhadap budaya Sunda, mereka turut memberikan penghargaan kepada para individu dan komunitas yang membudidayakan tradisi Sunda dalam bentuk apapun. Sundanese Clothes telah memberikan penghargaan kepada Man vokalis band Jasad yang memopulerkan budaya Sunda lewat musik metal. Mereka juga memberi penghargaan kepada grup musik Sundanis HipHop. Penghargaan juga mereka berikan pada M. Asep Hadian Adipradja, pemuda yang memopulerkan iket Sunda atau totopong ke masyarakat. “Kita bisa berdiri hingga sekarang ini, enggak lepas dari peran mereka,” jelas Evotz.

Barang-barang yang tersedia di Sundanese Clothes merupakan hasil karya beberapa komunitas budaya Sunda yang memiliki kemitraan dengan Sundanese Clothes.

Barang-barang yang tersedia di Sundanese Clothes merupakan hasil karya beberapa komunitas budaya Sunda yang memiliki kemitraan dengan Sundanese Clothes.

Upaya Evotz dan Igo melestarikan budaya Sunda tidak berhenti hanya dengan membuat merek pakaian saja. Lewat Sundanese Clothes, mereka aktif di komunitas pelestari budaya Sunda. Evotz sendiri menjabat Sekretaris Jendral di Komunitas Iket Bandung. Mereka bahkan secara rutin menyosialisasikan budaya seperti iket Sunda setiap Minggu pagi diCar Free Day (CFD) Dago.

Segala upaya tersebut membuahkan hasil. Sundanese Clothes berhasil menembus pangsa pasar Jepang dan Amerika. Para pekerja Indonesia di luar negeri yang menjadi pembeli produk mereka. “Ya, mereka lihat di web, cari-cari. Mereka pesan, dan pembayarannya enggak dari mereka langsung. Biasanya nitip lewat saudaranya yang di Indonesia. Sudah sampai dikirim ke Jepang, Amerika, Korea, Hongkong juga,” ujar Evotz.

Ketika ditanya mengapa memilih nama Sundanese Clothes yang menggunakan bahasa Inggris dibandingkan nama yang lebih nyunda, Evotz tersenyum sambil menjelaskan makna di balik nama toko mereka. “Awalnya memang saya dan Igo berasal dari dua brand yang berbeda. Sarua namana, ya hijikeun atuh (sama namanya, ya sudah satukan saja, red). Boleh, dan jalan tengah, diambilnya ‘Sundanese Clothes’ saja. Mudah-mudahan dengan nama ini, Sundanese Clothes go international,” harap Evotz.

 

Teks: Nisa Ummu Rumaisha

Editor: Rahman Fauzi

Fotografer: Dhio Faiz Syarahil

One Comment

  1. bandung emang pusat style…makanya tidak heran kalau go international

Leave a Reply