Ketika Seni dan Kuliner Bersatu

Minuman segar yang menemani sambil menikmati pemandangan kota Bandung dari Restoran Lawangwangi.

Minuman segar yang menemani sambil menikmati pemandangan kota Bandung dari Restoran Lawangwangi.

Bandung terkenal dengan segala sesuatunya yang unik dan berbeda. Mulai dari segi fashion, art, hingga makanan. Restoran-restoran yang ada di Bandung sendiri juga banyak yang memiliki konsep dan arsitektural yang unik. Berbeda dengan restoran-restoran yang ada di kota lain, Bandung mengemas restoran bukan hanya sekadar tempat makan biasa, akan tetapi restoran tersebut dikonsepkan dan dieksekusi dengan sedemikian rupa sehingga menarik pengunjung untuk singgah dan berlama-lama di sana.

Salah satu konsep restoran unik yang ada di Bandung yaitu perpaduan antara restoran dengan galeri seni. Konsep cafe and art ini ternyata mengundang minat warga Bandung bahkan sampai turis mancanegara. Sebut saja, Selasar Sunaryo Art Space, Lawangwangi Creative Space, dan Roemah Seni Sarasvati.

-Selasar Sunaryo Art Space

Selasar Sunaryo Art Space (SSAS) yang terletak di Jalan Bukit Pakar Timur No. 100 Dago, Bandung, ini merupakan galeri selasar milik seorang seniman yang bernama Sunaryo. Pada awalnya galeri ini dibangun Sunaryo hanya untuk menyimpan karya-karyanya. Namun, akhirnya selasar ini dibuka untuk umum dan diresmikan pada 5 September 1998. Selasar Sunaryo merupakan tempat seniman berkreasi dan memamerkan karyanya. Karya yang dipamerkan  sebelumnya harus melewati seleksi dari kurator dan dewan kurator yang ada di Selasar Sunaryo.

“Selasar sunaryo lebih ke galeri. Memang ini kan galeri seninya memang mimpi Pak Naryo. Kafe hanya sebagai fasilitas,” tutur Manajer Selasar Sunaryo Yanni Aman.

Kelebihan lain dari Selasar Sunaryo ini ialah sejak 1998, pameran yang diadakan tidak pernah putus dan selalu ada sampai sekarang oleh karena itu galeri ini bisa dikatakan yang paling terdepan. Pada tahun 1999, Selasar Sunaryo menambah fasilitas yaitu kafe dengan nama Kopi Selasar. Kopi Selasar dibangun dengan tujuan agar pengunjung tidak hanya sekedar  menikmati karya di selasar, tetapi juga bisa bersantai sambil menikmati secangkir kopi dan makanan ringan. Tidak heran, banyak pengunjung yang senang berlama- lama di Kopi Selasar ini karena selain harganya yang terjangkau, suasana yang ditawarkan pun sangat nyaman dan kental dengan konsep seni.

Selasar Sunaryo terletak di Jalan Bukit Pakar Timur No. 100.

Selasar Sunaryo terletak di Jalan Bukit Pakar Timur No. 100.

-Lawangwangi Creative Space-

Lawangwangi Creative Space adalah galeriseni yang dimiliki oleh Andonowati yang dibuka pada tahun 2008 dan diresmikan pada 2010. Pada masa awal-awal didirikan, Lawangwangi hanya berisi koleksi dan karya-karya yang disimpan oleh pemiliknya, Andonowati. Selain dipamerkan, karya-karya itu juga diperjualbelikan. Barulah pada awal 2011, Lawangwangi merambah ke bidang kuliner dengan membuka kafe yang bernama Lawangwangi Creative Space. Arti Lawangwangi sendiri yaitu berasal dari kata “lawang” yang artinya pintu karena memang di Lawangwangi ini terdapat banyak pintu dan jendela kaca yang besar sehingga para pengunjung dapat menikmati pemadangan di sekitar restoran. Sementara wangi berarti harum, jadi jika digabungkan, Lawangwangi berarti pintu-pintu harum yang filosofinya agar tamu yang datang lebih nyaman dan berniat untuk kembali lagi. Arsitek bangunan Lawangwangi adalah Baskoro Tedjo yang kebetulan sama-sama dosen di ITB bersama Andonowati.

Walaupun Lawangwangi berangkat dari sebuah galeri seni, namun orang-orang lebih mengenal Lawangwangi sebagai restoran. Pemandangan yang ditawarkan dari Lawangwangi sendiri yaitu pohon-pohon, sawah, dan city view kota Bandung.

Restoran Lawangwangi yang memiliki furniture yang unik dan suasanya nyaman.

Restoran Lawangwangi yang memiliki furniture yang unik dan suasanya nyaman.

-Roemah Seni Sawarvati-

Berbeda dengan dua galeri-kafe di atas yang memang berlokasi di daerah atas (Dago), di bawah ternyata juga terdapat galeri-kafe, yaitu Roemah Seni Sarasvati yang terletak di Jalan Jenderal Sudirman 137, Bandung. Nama Roemah Seni Sarasvati atau disingkat Sarasvati ini diambil dari nama dewi dalam ajaran Hindu, yaitu dewi ilmu pengetahuan, musik, seni, kebebasan, dan alam.

Jalan Sudirman dipilih sebagai lokasi Roemah Seni Sarasvati karena memiliki kaitan dengan unsur sejarah. Dulunya, Jalan Sudirman ini merupakan bagian dari Jalan Raya Pos Anyer-Panarukan yang dibangun oleh Daendels pada masa kolonial VOC. Selain itu, banguan yang ditempati oleh Sarasvati ini merupakan bangunan milik Lin Che Wei, pemilik Roemah Seni Sarasvati, yang sudah ada sejak tahun 1902. Itulah salah satu filosofi mengapa tempat ini dijadikan galeriseni dan kafe, agar para pengunjung dapat menikmati arsitektural asli bangunan pada awal abad ke-20 dan dapat mengenang sejarah di Jalan Sudirman.

Pada dasarnya, yang ingin ditonjolkan dari Roemah Seni Sarasvati adalah bagaimana tempat bersejarah ini ini bisa terus diingat serta membuat masyarakat aware akan sejarah. Maka, muncullah keinginan Lin Che Wei untuk membuat galeri dan kafe agar pengunjung Jalan Sudirman dapat menemukan tempat untuk beristirahat sambil menikmati revitalisasi bangunan dari jaman dahulu

Roemah Seni Sarasvati memang dari awal merupakan galeri dan sekaligus kafe. Makanan yang disediakan adalah makanan lokal dan yang western hanyalah menu kentang goreng saja. Karena memang tujuan Sarasvati adalah melestarikan budaya-budaya dan seni lokal sehingga tidak hilang dan tidak kalah bersaing dengan seni modern.

“Sebenarnya galeri dan kafe itu sepaket. Ketika orang ke galeri, kafenya bisa jadi tempat hangout, jadi kayak paket lengkap yang bisa saling menguntungkan,” ujar Program Manager Roemah Seni Sarasvati Nala Nandana.

Itulah beberapa restoran sekaligus galeri atau bisa juga dibilang galeri sekaligus restoran yang menjadi rekomendasi untuk Anda pecinta seni dan makanan. Ketiga tempat tersebut memiliki perbedaan, namun sama-sama beranjak dari seni dan ingin mengembangkan serta melestarikan seni di Indonesia.

Arsitektur bangunan Roemah Seni Saravati masih dipertahankan sejak tahun 1920-an.

Arsitektur bangunan Roemah Seni Saravati masih dipertahankan sejak tahun 1902.

Fotografer       : Rizky Ambarsari

Reporter          : Dwi Nicken Tari

Editor               : Marcha Nurliana

Suasana Kopi Selasar yang teduh dan nyaman membuat  pengunjung betah berlama-lama untuk nongkrong di sini.

Suasana Kopi Selasar yang teduh dan nyaman membuat pengunjung betah berlama-lama untuk nongkrong di sini.

Pameran Tunggal Asmudjo Jono Irianto  di Selasar Sunaryo Art Space.

Pameran Tunggal Asmudjo Jono Irianto di Selasar Sunaryo Art Space.

Lawangwangi Creative Space menampilkan seni arsitektural yang menawan.

Lawangwangi Creative Space menampilkan seni arsitektural yang menawan.

Pameran karya Eddy Susanto yang berjudul The Passage of Panji ditampilkan dalam dua mode, yaitu lukisan biasa dan lukisan yang bisa terlihat dengan sinar ultaviolet.

Pameran karya Eddy Susanto yang berjudul The Passage of Panji ditampilkan dalam dua mode, yaitu lukisan biasa dan lukisan yang bisa terlihat dengan sinar ultaviolet.

Di Roemah Seni Sarasvati terdapat koleksi dari Lin Che Wei, pemilik Roemah Seni Sarasvati

Di Roemah Seni Sarasvati terdapat koleksi dari Lin Che Wei, pemilik Roemah Seni Sarasvati

Leave a Reply