“Keluarga” di Tanah Rantau

Mahasiswa identik dengan perantau. Lokasi universitas yang tersebar di seluruh Indonesia serta proses seleksi masuk universitas dengan skala nasional menyebabkan mahasiswa harus ikut bermigrasi  ke berbagai daerah. Kadang mereka harus pindah dari satu pulau ke pulau lain hingga studi mereka selesai. Dalam kondsi demikian biasanya mahasiswa akan menginap bersama sanak keluarga di lokasi terdekat atau menyewa tempat kos. Mereka dituntut untuk dapat hidup mandiri, jauh dari segala fasilitas dan kenyamanan yang tersedia di rumah dan tempat asal mereka.

Tidak hanya belajar untuk mandiri, para mahasiswa yang tinggal di perantauan harus bisa bertahan hidup di lingkungan baru yang berbeda dengan daerah asalnya. Banyak situasi yang harus dihadapi mahasiswa ketika mereka pindah dari daerah asal ke daerah rantau. Perbedaan cuaca, perbedaan selera makanan, perbedaan bahasa, hingga perbedaan budaya, norma, dan aturan di daerah baru membuat mahasiswa harus bisa beradaptasi dengan baik. Tidak jarang mahasiswa gagal menyesuaikan diri, akibatnya mereka mengalami gegar budaya bahkan stress dan depresi.

Salah satu cara untuk membantu proses adaptasi mahasiswa di daerah baru adalah dengan berkumpul bersama teman atau orang-orang dari daerah asal yang relatif sama. Untuk tahap awal adaptasi, salah satu alternatif yang dapat dilakukan adalah dengan memilih untuk tinggal di asrama daerah.

Asrama daerah adalah asrama yang biasanya hanya dihuni oleh mahasiswa dari regional tertentu yang lokasinya sangat jauh bahkan berlainan pulau dengan tempat asrama tersebut berdiri. Asrama ini memang diperuntukkan bagi mahasiswa rantau yang berasal dari regional tersebut. Biasanya asrama daerah dapat ditemukan di beberapa kota dimana banyak terdapat universitas maupun sekolah tinggi seperti Jakarta, Surabaya, Yogyakarta termasuk Bandung.

Informasi mengenai keberadaan asrama daerah ini biasanya menyebar dari mulut ke mulut diantara mahasiswa perantau dengan calon mahasiswa perantau. Kendati demikian kita juga dapat mengakses informasi mengenai asrama daerah melalui internet. Dengan menelusuri beberapa halaman web, kita dapat dengan mudah menemukan beragam asrama daerah yang ada di wilayah Bandung dan sekitarnya bahkan lengkap dengan alamat dan nomer telephone.

Beberapa asrama daerah di Bandung yang dapat ditemukan melalui internet antara lain Asrama Teuku Umar untuk mahasiswa Aceh, Asrama Banuhampu untuk mahasiswa Sumatera Barat, Asrama Mahasiswa Riau, Asrama Mahasiswa Sumatera Selatan, Asrama Mahasiswa Kerinci untuk mahasiswa dari daerah Jambi, Asrama Viyata Tampak Siring untuk mahasiswa Bali, Asrama Mahasiswa Kalimantan Barat, serta Asrama Mahasiswa Papua.

Sayangnya, tidak semua asrama tersebut aktif hingga sekarang. Beberpa asrama yang sudah tidak dihuni lagi di antaranya Asrama Mahasiswa Banuhampu di Jalan Cisitu Baru No. 16, Asrama Mahasiswa Sumatera Selatan di Jalan Purnawarman No. 57, serta Asrama Mahasiswa Papua di Jalan Cilaki No. 59.

Dua asrama yang berhasil ditelusuri dan masih aktif hingga sekarang adalah Asrama Viyata Tampak Siring untuk mahasiswa Bali dan Asrama Teuku Umar untuk mahasiswa Aceh.

Asrama Viyata Tampak Siring

Suasana Bali sudah terasa kental ketika memasuki pekarangan Asrama Mahasiswa Bali Viyata Tampak Siring yang berada di Jalan Ciung Wanara No.18, Bandung. Keberadaan Asrama Viyata Tampak Siring sangat strategis, asrama ini hanya berjarak kurang lebih 15 meter dari pintu masuk gerbang Institut Teknologi Bandung (ITB). Ketika citizenmagz menyambangi asrama ini disambut dengan beberapa patung khas bali, penunggu karang dan tempat ibadah yang mengkarakteristikan bahwa ini adalah rumah orang Bali.

Widi (kanan) dan Arya (kiri) berdiri di depan bangunan Utama Asrama Viyata Tapak Siring, Senin (5/5). credit: Nisa Dwiresya Putri

Widi (kanan) dan Arya (kiri) berdiri di depan bangunan Utama Asrama Viyata Tampak Siring, Senin (5/5).
credit: Nisa Dwiresya Putri

Asrama ini dikhususkan bagi mahasiswa laki-laki yang berasal dari Bali dan kuliah di Bandung.  Saat memasuki asrama terlihat ruang utama yang diisi oleh ruang tamu, ruang televisi, berbagai macam peralatan sanggar dan beberapa pajangan foto serta peraturan bagi penghuni asrama. Di dalam asrama yang cukup luas ini, bisa menampung 10 ruang kamar yang diisi oleh 21 orang dan maksimal bisa diisi sampai 28 orang.

Selain ruang utama dan kamar, di asrama ini juga disediakan dapur, kamar mandi, perpustakaan, akses internet (wifi), mesin cuci dan halaman yang luas. Dilengkapi dengan fasilitas yang cukup memadai, ternyata asrama Viyata Tampak Siring hanya dipungut biaya sebesar Rp350 ribu untuk uang bangunan dan Rp150 ribu untuk iuran bulanan.

Berada dekat dengan ITB bukan berarti asrama ini hanya dihuni oleh mahasiswa ITB. Pada kenyataanya asrama ini didiami oleh mahasiswa dari berbagai universitas seperti Institut Teknologi Nasional (Itenas), Universitas Komputer Indonesia (Unikom), dan Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS). Mahasiswa yang tinggal di asrama ini tinggal di berbagai daerah di Bali, namun pada umumnya berasal dari Singaraja.

Asrama ini juga dipergunakan sebagai sanggar tari bali yang bernama Sekar Tapak Siring. Setiap minggunya ruang utama dipergunakan sebagai tempat latihan tari bali bagi anak-anak dan juga dewasa. Asrama ini mengadakan kegiatan rutin menari bali pada setiap dua tahun sekali, tetapi pada tiga tahun terakhir dilakukan setiap tahun. Pentas tari bali pada tahun lalu diselenggarakan di ITB.

Awalnya asrama ini merupakan milik pribadi yang kemudian dikelola oleh mahasiswa dari Bali. Resmilah asrama Viyata Tampak Siring menjadi asrama daerah provinsi Bali. Namun, campur tangan pemerintah Bali dalam mengelola asrama ini tidak terlalu besar. Pemerintah biasanya hanya melakukan kunjungan dan membantu melakukan renovasi besar jika diperlukan.

Widi Ketua Asrama Viyata Tampak Siring mengakui banyak manfaat tinggal di asrama ini diantaranya dekat dengan kampus, murah, bisa berkumpul dengan teman satu daerah dan belajar kedisiplinan. “Dukanya,  dulu santai, sekarang harus nyapu,” balas Widi. Selain itu juga di asrama ini diadakan piket kebersihan dan juga penjaga rumah bergilir. Arya merasakan manfaat yang berbeda jika tinggal di asrama, “enaknya kalo mau kemana-mana bisa tanya teman asrama dulu” ungkap Arya.

Tempat sembahyang umat Hindu terletak di samping bangunan utama Asrama Viyata Tapak Siring. credit: Nisa Dwiresya Putri

Tempat sembahyang umat Hindu terletak di samping bangunan utama Asrama Viyata Tampak Siring.
credit: Nisa Dwiresya Putri

Pekarangan depan Asrama Viyata Tapak Siring. credit: Nisa Dwiresya Putri

Pekarangan depan Asrama Viyata Tampak Siring.
credit: Nisa Dwiresya Putri

Asrama ternyata sangat bermanfaat bagi mahasiswa baru yang masih mengalami gegar budaya akibat dari perpindahan dari bali ke bandung. Di asrama ini mereka bisa belajar menyesuaikan diri dan bertanya-tanya kepada senior untuk menghadapi gegar budaya yang dirasakan dan yang senior juga bisa membantu adiknya untuk mempelajari kehidupan di Bandung. Menurut Wibi gegar budaya yang paling dirasakan adalah soal makanan, rasa canggung karena berasal dari daerah dan juga tentang bahasa yang dipergunakan disini.

Asrama Teuku Umar

Lain hal dengan Asrama Teuku Umar. Bentuk bangunan asrama mahasiswa asal bumi serambi mekah ini pada awalnya tidak seperti sekarang. Asrama khusus putra tersebut direnovasi setelah musibah Tsunami Aceh sekitar tahun 2005. “Ini dulu (bangunannya—red) tidak seperti ini. Jadi setelah Tsunami, baru direnovasi hingga bangunannya dua tingkat,” ujar Ketua Asrama Teuku Umar Periode 2013-2014, Andry Satria.

Papan nama asrama Teuku Umar terletak di depan bangunan asrama. credit: Faishal Fikri S.

Papan nama asrama Teuku Umar terletak di depan bangunan asrama.
credit: Faishal Fikri S.

Masalah gegar budaya yang kerap dialami oleh perantau sepertinya tidak terlalu mempengaruhi mahasiswa asal Aceh yang menetap di Asrama Teuku Umar ini. Mereka sendiri menganggap orang Bandung yang welcome (ramah—red) terhadap kedatangan mereka membantu memudahkan proses adaptasi.

Atau ketika mereka sedang merasa rindu kampung halaman. Kegiatan rutin seperti bermain futsal setiap seminggu sekali sering mereka jalankan dengan para penghuni asrama. Oleh karena mereka tinggal satu atap bersama orang-orang dari satu daerah, perasaan tersebut bisa disangsikan. “Jadi walaupun di kampung orang, tapi serasa di kampung sendiri,” ungkap Andry.

Andry mengaku tinggal di asrama harus mengikuti sistem yang ada. Namun menurutnya lagi, tinggal di Asrama Teuku Umar membuat jiwa kepemimpinan lebih terasah karena sistem di sana menuntut para penghuni untuk menjadi seorang leader.

Saat ini asrama yang berlokasi di Jl. Cicendo No. 9, Kota Bandung dihuni oleh 23 orang mahasiswa. Tiga orang di antaranya adalah mahasiswa baru angkatan 2013. Tempat mereka kuliah pun berbeda-beda. Begitu juga dengan tingkatannya, ada yang Strata 1 (S-1), hingga Strata 3 (S-3).

Tampilan bangunan Asrama Teuku Umar pada Senin (5/5) malam. Asrama terdiri dari dua lantai dengan areal kosong ditengahnya, biasa digunakan sebagai tempat parkir. credit: Faishal Fikri S.

Tampilan bangunan Asrama Teuku Umar pada Senin (5/5) malam. Asrama terdiri dari dua lantai dengan areal kosong ditengahnya, biasa digunakan sebagai tempat parkir.
credit: Faishal Fikri S.

Tampak dalam di lantai   satu Asrama Teuku Umar, di Jalan Cicendo No.9 Bandung.  Credit: Faishal Fikri S

Tampak dalam di lantai satu Asrama Teuku Umar, di Jalan Cicendo No.9 Bandung.
Credit: Faishal Fikri S

Sedangkan untuk mahasiswa baru yang ingin menjadi penghuni harus melalui tahap kaderisasi terlebih dahulu. Selama lebih kurang masa kaderisasi dengan penilaian yang telah ditentukan. “Karena mereka ini akan dipersiapkan untuk menjadi pengurus, untuk menjadi pemimpin,” papar Andry mengenai alasan mengapa diadakan kaderisasi bagi penghuni baru.

Sementara itu untuk mahasiswa S-2 dan S-3, mereka tidak diperkenankan untuk menjadi pengurus. Mereka hanya menjadi tamu istimewa di Asrama Teuku Umar, karena sudah tertera di peraturannya. Selain itu karena asrama tersebut diperuntukkan untuk mahasiswa S-1. “Sebenarnya tidak etis juga kalau mahasiswa S-2 atau S-3 yang menjadi pengurus,” papar Andry lagi.

Tinggal jauh dari tempat asal memang tidak selalu menyenangkan. Namun alangkah menyenangkannya jika di perantauan bisa menemukan orang-orang yang bisa “menggantikan” mereka yang di rumah. Seperti mereka yang tinggal di asrama.

Writer: Dinar Safa Anggraeni, Nisa Dwiresya Putri, Faishal Fikri S

Photographer: Nisa Dwiresya Putri and Faishal Fikri S

Editor: Dinar Safa Anggraeni, Nisa Dwiresya Putri, Faishal Fikri S

Leave a Reply