Sanggar Waditra, Pertahankan Eksistensi Alat Musik Karawitan Jawa Barat

Jawa Barat memiliki bermacam-macam jenis seni musik tradisional. Salah satu yang masih tetap eksis hingga saat ini adalah Karawitan. Keistimewaan seni musik ini terletak pada aspek audio yang meliputi warna bunyi dan keindahan ornamen. Dengan perspektif inilah muncul Sanggar Waditra, salah satu tempat pembuatan alat musik tradisional Sunda yang menjadi fasilitator dari Karawitan ini sendiri. Berlokasi di Jalan Mochammad Toha, Bandung, sanggar ini telah berdiri sejak 1977 oleh seorang bapak yang bernama Riskonda. Nama Waditra sendiri memiliki arti instrumen Jawa Barat atau Karawitan. Latar belakang berdirinya Sanggar Waditra diawali dengan karir mengajar Riskonda sebagai guru honorer Karawitan di salah satu sekolah menengah di Bandung. Merasa tertarik dan melihat potensi yang bisa dihasilkan, ia memulai usaha dengan modal seadanya. Dari sinilah ia mulai menekuni keahlian tersebut dan mendapatkan banyak tawaran dari para pemesannya. “Mula-mula satu, sepuluh, sampai akhirnya dapat ratusan proyek,” ujar Riskonda.

Sanggar yang telah berdiri selama 37 tahun ini sudah menerima pesanan lebih dari 100 set gamelan. Mayoritas pemesan berasal dari institusi pendidikan, mulai dari Sekolah Dasar (SD) hingga perguruan tinggi sebesar Institut Teknologi Bandung. Riskonda mengakui penjualan dari sanggarnya lebih mahal dibanding dengan tempat-tempat lainnya dikarenakan bahan yang ia gunakan adalah termasuk bahan yang mahal. Misalnya, kayu yang digunakan untuk bahan dasar alat musik adalah kayu mahoni, karena dapat bertahan hingga berpuluh-puluh tahun lamanya. Untuk waktu pengerjaan, biasanya satu set gamelan untuk jenis degung membutuhkan waktu kurang lebih tiga hari. Kisaran harga alat musik dimulai dari Rp500.000,00 untuk satu buah kecapi polos tanpa ukiran. Untuk harga gamelan, sanggar ini memasang harga yang berbeda-beda. Satu set gamelan yang terbuat dari besi diberi harga Rp7.500.000,00, gamelan yang terbuat dari bahan kuningan bisa dijual seharga Rp40.000.000,00, dan Rp70.000.000,00 untuk gamelan dengan bahan perunggu. Ada juga gamelan yang dibuat untuk keperluan wayang yang harganya berkisar dari Rp10.000.000,00 hingga Rp15.000.000,00.

Di zaman modern saat ini, Karawitan serasa hampir punah. Hal ini disebabkan lambatnya pengangkatan ahli atau guru kesenian yang baru untuk menggantikan mereka yang sudah pensiun. “Jika dibiarkan, khawatirnya kualitas kesenian musik akan menurun,” ujarnya. Namun, Riskonda yakin bahwa Karawitan dan alat musik tradisonal lainnya masih mampu bertahan dan laku di pasaran. Hal ini dibuktikan dengan kehebatan Karawitan yang keberadaannya telah diakui oleh dunia internasional seperti Malaysia, Jepang, Belanda, Jerman, Australia, dan Amerika Serikat. Kreativitas dari beberapa anak muda dalam menggali dan menyesuaikan Karawitan dengan gaya masa kini juga berhasil membuat seni musik ini tetap hidup. Riskonda pun berharap, ke depannya pemerintah akan lebih memperhatikan dan terus melestarikan kebudayaan di Indonesia. Tidak hanya pemerintah, peran masyarakat pun sangat dibutuhkan. “Malah warga asing banyak yang belajar kesenian Indonesia, termasuk Karawitan,” tambah Riskonda.

Tampak depan Sanggar Waditra yang bertempatan di Jl. Moch Toha No. 379 Bandung

Tampak depan Sanggar Waditra yang bertempatan di Jalan Mochammad Toha No. 379 Bandung (Foto: Teguh Setiyo)

 

Demung, salah satu alat musik dari Gamelan yang sudah setengah jadi

Demung, salah satu alat musik dari Gamelan yang sudah setengah jadi (Foto: Ardiansyah Megah Putra)

Salah satu proses pembentukan lempengan Demung

Salah satu proses pembentukan lempengan Demung (Foto: Ardiansyah Megah Putra)

Hasil dari lempengan Demung  yang sudah jadi

Hasil dari lempengan Demung yang sudah jadi (Foto: Ardiansyah Megah Putra)

Bapak H. Riskonda sedang menerangkan cara memotong kayu untuk bagian atas Kecapi

Riskonda sedang menerangkan cara memotong kayu untuk bagian atas Kecapi (Foto:  Ardiansyah Megah Putra)

Salah satu proses penghalusan kayu untuk bagian atas Kecapi

Salah satu proses penghalusan kayu untuk bagian atas Kecapi (Foto: Ardiansyah Megah Putra)

Proses pemotongan lubang di tengah pipihan kayu untuk bagian atas Kecapi

Proses pemotongan lubang di tengah pipihan kayu untuk bagian atas Kecapi (Foto: Ardiansyah Megah Putra)

Hasil jadi potongan kayu untuk bagian atas Kecapi

Hasil jadi potongan kayu untuk bagian atas Kecapi (Foto: Ardiansyah Megah Putra)

Salah satu pekerja Sanggar Waditra sedang menyatukan bagian-bagian dari Kecapi

Salah satu pekerja Sanggar Waditra sedang menyatukan bagian-bagian dari Kecapi (Foto: Teguh Setiyo)

Salah satu Kecapi yang sudah jadi

Salah satu Kecapi yang sudah jadi (Foto: Teguh Setiyo)

Bapak H. Riskonda sedang memainkan Kecapi hasil Sanggarnya

Riskonda sedang memainkan Kecapi hasil Sanggarnya (Foto: Teguh Setiyo)

Pemukul alat musik Demung di Gamelan yang sedang dalam proses pengecatan

Pemukul alat musik Demung di Gamelan yang sedang dalam proses pengecatan (Foto: Teguh Setiyo)

Leave a Reply