Oleh-Oleh Dari Cihampelas

Suasana jalan Cihampelas pada siang hari (11/5)

Suasana jalan Cihampelas pada siang hari (11/5)

Jika berbicara tentang jalan Cihampelas, maka yang terbayang adalah wisata belanja. Jalan yang terletak di dekat pusat Kota Bandung ini terkenal dengan banyak hal menarik dan sering dijadikan sebagai tujuan wisata belanja di Bandung. Berbagai barang yang dapat dijadikan buah tangan seperti pakaian, makanan, maupun pernak-pernik dan aksesori dapat kita jumpai di sepanjang jalan ini. Makanan ringan dari berbagai penjuru daerah di Jawa barat pun bisa dinikmati di jalan ini, seperti stroberi, cilok, peyeum  dan lain-lain. Baju, celana jeans, tas, jaket kulit, sepatu dan segala bentuk pakaian tidak asing untuk anda temui disini. Istilahnya, anda dapat mengenal Bandung hanya dengan berwisata ke tempat ini, karena hampir keseluruhan hal tentang Bandung dapat dijumpai disini. Tentu saja semua benda tersebut asli produksi sendiri, made in Bandung.

Alasan lain mengapa jalan Cihampelas dinobatkan sebagai tujuan utama wisata belanja di Bandung adalah karena harga barang yang disuguhkan relatif murah. Barang-barang yang dijual masih terjangkau untuk kalangan menengah ke-bawah. Meskipun jalan ini sering dilanda kemacetan, namun kawasan ini tetap ramai dikunjungi pengunjung, apalagi pada masa liburan dan akhir pekan. Walau Jalan Cihampelas bukan lagi daerah yang asing, ternyata masih banyak rahasia di Jalan Cihampelas yang belum banyak diketahui orang-orang.

Bagian luar dari Masjid M

Bagian luar dari Masjid Mungsolkanas

Sekitar 50 meter dari deretan pertokoan di Jalan Cihampelas, di seberang Rumah Sakit Advent, terdapat gang kecil yang diapit bangunan rumah pertokoan (ruko). Di dalam gang tersebut, berdiri sebuah masjid yang bernama Mungsolkanas yang konon adalah masjid tertua di Bandung. Masjid ini didirikan pada tahun 1869. Meskipun sudah sangat tua dan patut dijadikan cagar budaya, masjid tersebut tidak terlihat seperti bangunan tua. Bangunan masjid sudah berulang kali direnovasi dan dipugar.

Bagian dalam dari Masjid Mungsolkanas

Bagian dalam dari Masjid Mungsolkanas

Masjid Mungsolkanas awalnya merupakan hibah dari seorang janda kaya di daerah tersebut pada masa penjajahan Belanda. Kemudian masjid ini dijadikan sebagai pusat kegiatan agama dan pendidikan oleh R. Suradimadja yang juga dikenal sebagai Imam Abdurohim. Hingga saat ini, kegiatan pendidikan seperti TK, TPA, dan Madrasah masih berjalan. Ada juga perpustakaan kecil yang bisa dipergunakan oleh warga disekitar untuk mencari ilmu.  Masjid ini memiliki peninggalan sejarah berupa sebuah Al-Qur’an yang ditulis tangan oleh cucu dari Imam Abdurohim, dan tentu sudah berusia sangat tua.

Peninggalan sejarah Masjid Mungsolkanas berupa Al-Quran yang dibuat dengan tangan.

Peninggalan sejarah Masjid Mungsolkanas berupa Al-Quran yang dibuat dengan tulisan tangan.

Meskipun memiliki nilai sejarah yang menarik, banyak wisatawan yang berkunjung ke jalan Cihampelas tidak mengetahui tentang keberadaan masjid ini. Rohman (46) salah satu pengurus masjid Mungsolkanas mengatakan, masjid ini kalah pamor dengan pusat perbelanjaan dan tempat wisata di sepanjang jalan Cihampelas. Peran pemerintah pun dirasa Rohman masih sangat kurang untuk mengekspos masjid ini. Kontras sekali memang, ketika sebuah masjid tertua di Bandung terabaikan, dan tidak lebih dari 100 meter di sampingnya, hiruk-pikuk hiburan dan tempat wisata yang ramai dikunjungi orang-orang.

dasda

Karno (24), pedagang senjata api, mengecek salah satu senjata api.

Selain masjid tua, ada lagi hal menarik lainnya yang dapat kita temukan di jalan Cihampelas, yaitu perdagangan senjata. Tenang, senjata yang dijual disini menggunakan kaliber 4,5 mm yang artinya masih legal untuk dijual. Senjata api yang banyak dibeli oleh wisatawan luar daerah ini biasanya digunakan untuk hobi, yaitu berburu. Senjata api atau yang biasa disebut senapan angin ini dijual dengan harga yang beragam, mulai dari Rp300.000 hingga Rp2.000.000.

Karno (24), salah satu pedagang senapan angin di Jalan Cihampelas menuturkan bahwa senapan angin ini asli produksi sendiri, tepatnya dari Cipacing, Jawa Barat. Masalah legal atau tidaknya, Karno bahkan menuturkan beberapa komponen dari senapan angin dibeli dari pemerintah, seperti laras dan amunisi.  “Jika senjata yang dijual pakai peluru kaliber diatas 4,5 mm, baru tidak boleh dijual. Kalau dibawah itu sih masih boleh” tutur Karno.

Selain senjata api juga ada penjual senjata tradisional berupa busur panah dan tombak. Dan tentu saja, sifatnya hanya untuk dijadikan pajangan. Senjata-senjata tersebut banyak dijual pedagang keliling di sepanjang jalan Cihampelas. Harganya pun murah, mulai dari Rp30.000 hingga ratusan ribu rupiah.

Tertarik untuk mengunjungi Masjid tertua di Bandung? Atau anda ingin membeli senjata-senjata unik hasil karya anak bangsa? Atau hanya sekedar melihat-lihat dan mencicipi makanan ringan yang murah ? Kunjungi saja jalan Cihampelas dan dapatkan kepuasan berwisata kuliner, sejarah, hingga berwisata belanja yang berkesan dan tak akan mudah dilupakan.

Reporter: Fajar Edrie

Fotografer: Anisa Annan Firsta

Editor: Gautama Padmacinta

Leave a Reply