Jasa Daendels untuk Kota Bandung

“Zorg, dat als ik terug kom hier een staad is gebouwd”, yang memiliki arti “Usahakan, jika aku kembali ke sini, di daerah ini telah dibangun sebuah kota”. Itulah yang terlontar dari mulut seorang Herman Willem Daendels sambil menancapkan tongkatnya di tanah yang dimana saat ini menjadi posisi nol kilometer Kota Bandung.

This slideshow requires JavaScript.

 

“Marsal Galak”, itulah sebutan orang pribumi terhadap Herman Willem Daendels pada masa pemerintahannya di Hindia Belanda. Menurut beberapa sumber Gubernur Jendral Hindia Belanda yang memerintah antara tahun 1808 – 1811 tersebut memang dikenal sebagai seorang gubernur yang kejam. Namun terdapat keyakinan berkebalikan bahwa Daendels sebenarnya sosok pemimpin bijaksana yang telah menjalankan tugasnya untuk meningkatkan pembangunan di Pulau Jawa agar menjadi lebih maju. Perintah yang harus dijalankan tak seimbang dengan keadaan keuangan dan berbagai cerita tentangnya pun dikarang oleh petinggi Belanda di Tanah Air lainnya.

Bagaimana pun kisah asli sosok Daendels, tidak bisa dipungkiri, sosoknya adalah salah satu sosok berjasa untuk pembangunan di Pulau Jawa, karena proyek Jalan Raya Pos (Groote Postweg). Salah satu pembangunan pesat yang terjadi karena proyek tersebut adalah adanya Kota Bandung seperti saat ini. Daendels adalah orang yang memiliki jasa besar perihal keberadaan Kota Bandung, dalam proyek Jalan Raya Pos yang ditanganinya, ia menjadi sosok pencipta titik nol kilometer Bandung.

Menurut sejarah, ketika pembangunan Jalan Raya Pos sedang dikerjakan pada tahun 1800-an di wilayah Bandung saat itu yang hanyalah sebuah dusun kecil dan harus membelah sungai Cikapundung, maka sebuah jembatan untuk menghubungkan jalan tersebut dibangun. Pada hari peresmian jembatan tersebut, Daendels ditemani Wiranatakusumah II (Bupati Kabupaten Bandung saat itu), berjalan berdua menyebrangi jembatan tersebut. Lalu, pada suatu titik, Daendels menancapkan tongkatnya dan berkata “Zorg, dat als ik terug kom hier een staad is gebouwd”, yang memiliki arti “Usahakan, jika aku kembali ke sini, di daerah ini telah dibangun sebuah kota”.

Lewat perintah yang keluar dari mulut Daendels itulah, orang-orang kemudian bergegas membangun Kota Bandung, hingga akhirnya terbentuk seperti sekarang. Selain itu, tak lama setelah kejadian penancapan tongkat oleh Daendels, terbitlah sebuah surat perintah (surat keputusan tanggal 25 September 1810) yang menginstruksikan perpindahan Ibu Kota Kabupaten Bandung dari Krapyak ke sisi Groote Postweg dan membangun sarana dan prasarana di kawasan tersebut. Dan tempat Daendels menancapkan tongkatnyalah yang dijadikan titik nol kilometer Bandung. Dikemudian hari peristiwa ini diabadikan sebagai hari jadi kota Bandung, yakni 25 September.

Namun menurut sejarah pula, setelah Bandung menjadi sebuah kota, Daendels tak pernah kembali lagi ke Bandung karena masa jabatannya di Hindia Belanda yang telah habis. Sekarang, titik nol kilometer Bandung ditandai dengan sebuah tugu batu kecil yang terletak di depan kantor Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Barat.

Saat ini, tugu yang terdapat di Jalan Asia Afrika 55 tersebut, menjadi salah satu jalan utama di Bandung. Tugu tersebut berada di sekitar tengah kota Bandung. Di tugu tersebut, terdapat tanda “CLN 18” yang menunjukkan bahwa kota/daerah terdekat ke arah timur adalah Cileunyi, dengan jarak 18 km. Sedangkan “PDL 18” menunjukan bahwa kota/daerah terdekat ke arah barat adalah Padalarang dengan jarak 18 km pula.

Seperti itulah kisah mengapa Daendels dianggap menjadi sosok yang berjasa atas keberadaan Bandung dan pembangunannya saat ini. Daendels adalah orang pertama yang menyiasati bahwa di lokasi tersebut, yang dulu hanyalah dusun, harus memiliki sarana dan prasarana yang baik. Terbukti, saat ini Kota Bandung telah menjadi salah satu kota maju di Indonesia. Pembangunan yang ada di Kota Bandung tak kalah jauh dari pembangunan di Jakarta. Bandung telah menjadi salah satu kota vital di Indonesia yang memiliki peran besar dalam perekonomian negara ini.

 

Tim Liputan

Reporter : Rivi Satrianegara & M. Yusuf Zain

Penulis: Rivi Satrianegara

Editor : M.Yusuf Zain

Fotografer : M. Yusuf Zain

Leave a Reply