Stilasi Bandung Lautan Api, Untuk Mengenang atau Dikenang

Sekarang, telah menjadi lautan api, mari bung rebut kembali. Kalimat yang terdengar tidak asing bagi masyarakat Indonesia tersebut adalah sebuah penggalan lirik lagu perjuangan Halo-Halo Bandung. Lagu yang dibuat untuk mengenang peristiwa Bandung Lautan Api tersebut seakan terus menempel di ingatan masyarakat Indonesia. Tapi apakah hal tersebut juga terjadi dengan peristiwa Bandung Lautan Api itu sendiri?

Peristiwa sejarah Bandung Lautan Api merupakan peristiwa yang berarti bagi Indonesia. Tapi pada kenyataannya sekarang, peristiwa ini seakan dipandang sebelah mata oleh masyarakat Indonesia. Semakin sedikit orang yang mengetahui cerita lengkap mengenai peristiwa Bandung Lautan Api. Itu bisa dikatakan terbalik apabila dibandingkan dengan pengetahuan masyarakat tentang  peristiwa sejarah lainnya seperti peristiwa 10 November di Surabaya, dan Serangan Umum 1 Maret di Yogya.

23 Maret 1946 adalah waktu mulai terjadinya peristiwa Bandung Lautan Api. Peristiwa membumihanguskan Bandung oleh masyarakat Bandung pada zaman itu memang terdengar sedikit anarkis. Namun semua itu dilakukan demi tujuan dan alasan yang kuat. Sekarang alasan-alasan yang kuat tersebutlah yang mulai dilupakan oleh masyarakat Indonesia khususnya masyarakat Bandung.

Semua ini bermula ketika pasukan tentara Belanda ingin kembali menguasai Bandung. Beberapa masukan pun mulai diberikan oleh tokoh perjuangan pada masa itu seperti Sutan Syahrir dan juga Panglima Besar Jendral Sudirman. Masukan yang diberikan diantaranya adalah mennyerah dan mempertahankan Bandung hingga titik darah pengahabisan. Namun pada akhirnya masyarakat Bandung yang saat itu dipimpin oleh A.H. Nasution memilih untuk membungihanguskan Bandung. Pilihan ini muncul karena masyarakat Bandung mengetahui apabila mereka melakukan peperangan akan terjadi  pertumpahan darah yang mungkin sia-sia. Tapi dengan dibumihanguskannya Bandung membuat Belanda juga tidak dapat menikmati Bandung seperti apa yang diinginkan oleh mereka. Penamaan peristiwa Bandung Lautan Api ini sendiri terjadi ketika seorang wartawan bernama Atje Bastaman memberitakan peristiwa ini dengan judul Bandoeng Laoetan Api.

Setelah sekian lama terjadinya peristiwa Bandung Lautan Api tentunya dibutuhkan sesuatu untuk mengenang seluruh peristiwa itu. Pada tahun 1997 akhirnya Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung (Bandung Heritage) dan Sunaryo (seniman) beserta American Express Bank Fondation bekerja bersama membangun 10 buah stilasi untuk mengenang peristiwa Bandung Lautan Api. 10 buah stilasi ini dibuat di 10 titik berbeda di kota Bandung. Setiap titik dibangunnya stilasi ini mempunyai nilai perjuangan tersendiri.

Titik pertama terletak di Jl. Ir. H. Juanda-Sultan Agung atau lepih tepatnya berada persis di depan bangunan gedung Bank BTPN di jalan tersebut. Di titik ini terjadi pembacaan proklamasi kemerdekaan Indonesia untuk pertama kalinya di Bandung oleh rakyat Bandung. Stilasi kedua berada di persimpangan Jl.Braga dan Naripan dan terletak berdekatan dengan gedung Bank Jabar. Titik ini pernah menjadi saksi ketika dua orang Indonesia bernama M.E. Karmas dan Moejiono merobek warna biru dari bendera Belanda yang ketika itu sedang dikibarkan. Mungkin terdengar mirip dengan peristiwa sejarah lainnya. Namun yang membedakan peristiwa ini adalah ketika kedua orang ini berusaha merobek bendera tersebut, mereka terus mendapat tembakan dari tentara Belanda. M.E Karmas dan Moejiono berhasil lolos dari tembakan tentara Belanda pada waktu itu dan berhasil membuat warna merah putih berkibar.

IMG_2865 copy

Stilasi BLA yang berada di Dago

Stilasi Ketiga terletak  di daerah Jl. Asia Afrika atau lebih tepatnya berada di depan dari gedung asuransi jiwa Jiwasraya. Tempat ini pernah menjadi markas dari Kolonel A.H Nasution, Tentara Siliwangi, dan juga dari beberapa seniman yang menggambarkan mengenai perjuangan pada saat itu. Titik keempat ada di dalam sebuah bangunan yang menjadi lahan parkir di Jl.Simpang. Meskipun tempat stilasi ini paling tertutup dan paling sulit ditemukan, ternyata titik ini merupakan tempat dimana masyarakat Bandung berunding dan menyetujui untuk membumihanguskan Bandung.

IMG_3003 (2) copy

Stilasi yang berada di Jl. Simpang. Stilasi ini berada di dalam sebuah rumah sehingga sukar ditemukan

Tempat kelima yang menjadi titik stilasi berada di JL Kautaman Istri. Tempat ini manjadi dapur umum dan juga Palang Merah selama masa perjuagan dulu. Berikutnya stilasi keenam terletak di Jl. Dewi Sartika. Titik ini dulu menjadi  markas Kolonel A.H Nasution. Bisa dibilang titik keenam ini menjadi titik yang paling menyedihkan untuk dilihat sekarang ini. Sebuah rak minuman botol terlihat disandarkan di stilasi tersebut hampir setiap harinya. Cukup mengenaskan bukan?

IMG_2960 copy

Stilasi yang berada di Jl. Kautaman Istri

IMG_2989 copy

Stilasi yang berada di depan sebuah warung di Jl. Dewi Sartika. Terdapat tempat teh botol yang bersandar di sampingnya

Titik ketujuh terletak di daerah pertigaan Lengkong Dalam-Lengkong Tengah. Tempat ini menjadi saksi perjuangan dimana terjadi perlawanan untuk membebaskan para tentara yang tengah ditahan pada saat itu dan tempat tinggal orang Indo-Belanda dulu. Kemudian, stilasi kedelapan terletak di Jalan Jembatan Baru atau lebih tepatnya berdekatan dengan Universitas Pasundan. Titik ini menjadi pertahanan terakhir para pejuang ketika menghadapi pertempuran Lengkong. Semua serangan kecil hingga serangan pesawat Mustang konon dilancarkan oleh para pasukan lawan untuk memenangi pertempuran tersebut.

IMG_3056 copy

Stilasi di Jl. Jembatan Baru

IMG_3025 (2) copy

Stilasi yang terdapat di Jl. Lengkong Tengah. Sebuah peta stilasi yang hilang di salah satu sisinya

Stilasi kesembilan terletak di dalam lingkungan SD ASMI yang terletak di Jl.Asmi. Tempat ini dulu menjadi markas dari para Pemuda Pejuang  sebelum terjadinya peristiwa Bandung Lautan Api. Titik penempatan stilasi kesepuluh atau yang terakhir berada di jalan Mohammad Toha. Hal yang paling menarik di tempat ini, yang mungkin masih belum banyak diketahui masyarakat Bandung dan Indonesia adalah tempat ini menjadi tempat pertama kalinya proklamasi kemerdekaan Indonesia disampaikan dengan bahasa Inggris keseluruh Indonesia dan juga seluruh dunia. Gedung pemancar NIROM yang dulu terletak di ttitik ini menjadi salah satu bagian dari sejarah ini.

IMG_3115

Stilasi di Jl. Asmi

IMG_3084 copy

Stilasi terakhir di Jl. M. Toha

Setelah kurang lebih 17 tahun dibangun, stilasi yang tadinya dibangun untuk membantu masyarakat mengenang peristiwa Bandung Lautan Api kini mulai terkesan dikenang oleh masyarakat Bandung. Kenapa bisa terkesan dikenang? Perkataan tersebut muncul karena semakin sedikit masyarakat Bandung yang tidak mengetahui adanya keberadaan dari 10 Stilasi tersebut. Jadi bisa dikatakan, 10 stilasi tersebut bagi sebagian mayarakat Bandung tidak ada atau sudah tidak ada jadi hanya bisa dikenang.

Menurut salah seorang anggota Bandung Heritage bernama Tubagus Adhi, ada beberapa hal yang menyebabkan mulai terlupakannya  keberadaan 10 stilasi tersebeut. Pertama, menurutnya sikap masyarakat yang mulai acuh terhadap kepentingan bersama atau lebih tepatnya memikirkan kehidupannya sendiri dan tidak mempedulikan urusan lain termasuk sejarah. Lalu kurangnya pengetahuan mengenai stilasi dan sejarahnya membuat masyarakat cenderung tidak tertarik untuk mengetahui lebih lanjut. Kemudian masih kurang maksimalnya peran pemerintah untuk memperkenalkan stilasi ini kepada seluruh masyarakat Indonesia juga ikut ambil bagian dari terlupakannya stilasi-stilasi ini.

Sebetulnya ada berbagai macam cara untuk kembali mengangkat pamor stilasi ini di masyarakat. Menurut Adhi, membuat event bertaraf nasional dalam rangka  peringatan Bandung Lautan Api menjadi saran darinya kepada pemerintah agar peristiwa Bandung Lautan Api beserta 10 stilasi mulai dikenal masyarakat luas. Lalu edukasi kepada masyarakat mengenai Bandung Lautan Api dan juga 10 stilasi harus terus diberikan dan dimaksimalkan. Cara terkahir menurut dirinya sebenarnya cukup mudah, yaitu setiap masyarakat Indonesia khususnya Bandung mau lebih paham dan menghargai peristiwa Bandung Lautan Api dan juga kesepuluh stilasi yang sudah dibangun.

Saran terakhir nampaknya menjadi sentilan bagi masyarakat Bandung yang mulai melupakan dan kurang menghargai sejarah. Itu bisa dibuktikan dengan banyaknya masyarakat yang tidak mengetahui keberadaan 10 Stilasi tersebut. Kemudian bukti berikutnya adalah menempelnya sebuah rak minuman di salah satu stilasi yang harusnya bersih dari segala macam gangguan. Bagaimana pemerintah bisa bekerja dengan maksimal tanpa adanya dukungan dari masyarakat sendiri.

Tidak hanya stilasi dan sejarahnya yang harus diperhatikan, tetapi kesejahteraan pelaku sejarahnya juga harus diperhatikan. Banyak veteran pejuang pada masa lampau yang kini hidup dalam belenggu kemiskinan dan terisolir dari masyarakat. Padahal mereka lah yang dulu berjuang untuk kebebasan yang dinikmati sekarang ini. Jadi sudah seharusnya bagi kita untuk membalas budi terhadap jasa yang telah mereka lakukan di masa lalu.

Kerjasama antara pemerintah dan masyarakat dibutuhkan untuk menjaga sejarah yang terjadi di ibukota Priangan, agar sejarah ini bisa terus bertahan turun-temurun. Hormati dan hargai segala peninggalan sejarah dan segala sesuatu yang dibuat untuk mengenang sejarah. Salah satunya adalah menjaga dan mengenal lebih dalam 10 stilasi  Bandung Lautan Api. Tetap jadikan 10 benda ini untuk mengenang sejarah, bukan dikenang di masa depan sebagai sejarah.

 

Tim Penulis

Aryo Fauzan Mulyono: Reporter dan fotografer

Endi Trianto: Reporter dan editor

Stefanus Maudhika: Reporter dan writer.

 

Leave a Reply