Sentra Industri Rajutan Binong Jati: Usaha dan Realisasi Kawasan Wisata

Gapura Selamat Datang di depan jalan masuk Sentra Industri Rajutan Binong Jati, Bandung

Sudah banyak orang mengetahui Bandung memiliki julukan Parijs van Java. Hal tersebut tidak dating begitu saja, sebutan Parijs van Java timbul karena Bandung memiliki keindahan yang disamakan dengan kota Prancis di Eropa. Tidak hanya dari arsitektur bangunan, keindahan kota Bandung dapat dilihat dari tren berbusana, sama halnya dengan Paris yang dikenal sebagai kota fashion.

Berkembangnya tren berbusana di Bandung, tidak luput dari peran industri kecil di tengah masyarakat Bandung itu sendiri. Distro, factory outlet, department store, dan toko-toko besar pakaian lainnya merupakan etalase karya-karya industri kecil. Salah satu kawasan industri kecil yang mewarnai dunia fashion di kota Bandung yaitu BinongJati.

Usaha rajutan di Binong Jati sudah lama muncul, tepatnya pada tahun 60-an. Usaha ini diawali dengan ajakan kerja sama warga Tionghoa dengan warga sekitar untuk membangun industri rajutan. Saat itu, usaha rajutan masih dilancarkan dengan mesin tradisonal. Lama kelamaan usaha ini makin berkembang.

Tahun 70-an, delapan hingga sepuluh orang sudah membuka usaha serupa. Puncaknya pada tahun 1998. Ada 250-an orang yang mulai mencoba peruntungannya di usaha rajutan ini. Tentunya sudah menggunakan mesin modern. Hingga kini, usaha rajutan di Binong Jati sudah mencapai sekitar 400 home industry.

Perkembangan usaha rajutan Binong Jati tidak sampai di situ saja. Agar lebih dikenal, warga berinisiatif untuk menamai kawasannya dengan sebutan “Sentra Industri Rajutan Binong Jati”. Nama Sentra sendiri ada sejak tahun 2003. Saat itu, sebutan Sentra diperkenalkan warganya melalui gapura yang terpampang di pintu masuk kawasan Binong Jati, Jalan Gatot Subroto, Bandung.

Nama Sentra yang dimiliki Binong Jati, patut dijadikan target wisatawan bagi yang ingin melakukan wisata belanja. Namun, kawasan Binong Jati ini belum sepenuhnya menjadi kawasan wisata di Kota Bandung. “Kami masih mempejuangkan Sentra ini sebagai kawasan wisata,” ujar Dedi, ketua Koperasi Industri Rajutan Binong Jati (Kirbi). Selayaknya tempat wisata lain, Binong Jati masih butuh perbaikan infrastruktur, seperti akses jalan masuk dan perbaikan jalan itu sendiri.

Pemerintah memberikan sikap positif dalam menanggapi tujuan Binong Jati sebagai tempat wisata. Namun, kendala-kendala selalu muncul dalam prosesnya. “pemerintah tidak fokus dalam hal ini, karena pemerintah punya masalah-masalah lain yang harus diselesaikan,” papar Dedi.

Kendala dalam menuju kawasan wisata juga datang dari dalam. Pengusaha rajutan di Binong Jati tidak memiliki mainset pedagang. Mereka hanya menjadi pembuat pakaian rajut dan benang rajut. Toko yang ada di sana pun masih terhitung. Hanya sekitar delapan hingga sepuluh pengusaha yang berani menjajarkan pakaian rajutan dalam etalase-etalase kacanya. Wisatawan yang datang pun masih terbilang sedikit. Hanya di bawah sepuluh pengunjung.

Pakaian-pakaian berbahan rajut yang dijual di salah satu toko di Sentra Industri Rajutan Binong Jati, Bandung

Rajutan buatan pengusaha di Binong Jati lebih sering didistribusikan ke luar. Langganannya adalah penjual-penjual di pasar Tanabang, Jakarta. Namun, sebagai sentra yang berada di kota wisata belanja, pengusaha rajut Binong Jati tidak lupa untuk mendistribusikan barangnya di sekitar kota Bandung. “kalau di Bandung jarang, biasanya di distro-distro atau pasar,” ujar Dedi.

Produksi dan distribusi barang rajut ini cukup menggiurkan. Dalam sehari, satu pengusaha rajut bisa memperoleh omzet sekitar Rp250jt-Rp 1M. Karena itu, usaha ini terus dipertahankan oleh anak cucu. Sekarang, usaha rajut di Binong Jati rata-rata sudah memasuki generasi ketiga.

Meskipun untungnya besar, pengusaha rajut ini tidak kaya sendiri. Usaha-usaha lain, seperti kos-kosan dan makanan pun mendapat imbasnya. Selain itu, masyarakat juga disenangkan dengan adanya perubahan masyarakat di sana. “Orang-orang yang tadinya brutal, sekarang lebih berpikir ke ekonomis, menghasilkan yang lebih menguntungkan,” papar Dedi.

oleh: Ridwan Achmad Darmawan, Ihda Fadila, Aulia Bintang Pratama

Leave a Reply