Internet, Communication, and political participation – a Brief In Sight

Posting ini adalah posting pertama pada blog yang sudah lama dibuat dan dibiarkan kosong … LOL

Tulisan ini berasal dari salah satu jawaban pertanyaan Ujian Tengah Semester pada mata kuliah Perspektif dan Teori Komunikasi Massa di Program Pasca Sarjana Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia. Mengapa diposting disini? Karena minat saya memang berkaitan dengan new media (salah satunya) dan hanya sekedar ingin mengawetkan apa yang saya tulis saja sih sebenarnya.

Posting ini tidak dikemas ulang dalam format ideal yang user friendly untuk publikasi berbasis web. Misal:

  • Artikel tidak dikemas dengan sistem modular, yang memudahkan orang mencerna informasi dalam artikel-artikel pendek. Sebaliknya artikel dibiarkan panjang seperti untuk format cetak.
  • Artikel tidak didampingi dengan ilustrasi visual atau audio yang memperkuat daya tarik dan isi pesan.
  • Terkait poin pertama, artikel ini panjang sehingga pengunjung blog perlu scroll cukup jauh kebawah untuk membaca keseluruhan artikel. Idealnya, satu ide dapat dinikmati dalam satu halaman tanpa scroll di monitornya.
  • dll banyak deh … untuk Mahasiswa Kuliah Perkembangan Media Baru … coba cari apa lagi yang ngga sesuai he3x

Mengapa saya tetap melakukan posting dalam format seperti ini, walau tahu cara membuatnya lebih user friendly? Ya ya ya… ini bukti bahwa tidak mudah untuk: “practicing your own preach”. Tidak ada alasan bermutu kecuali dikalahkan rasa malas untuk mengemas ulang tulisan ini. Maafkan ya.

Untuk para mahasiswa dan akademisi yang kebetulan merasa artikel ini bermanfaat untuk tulisan yang akan dibuatnya, please respect your self and do the proper citation procedure. Pake tata krama kutip mengutip yang pantas ya. Terima kasih

Baikah ini artikelnya:

Menyamakan Cara Pandang Terhadap Internet Dalam Kajian Komunikasi

Internet adalah “a network of computer networks”, kita dapat memikirkannya sebagai suatu sistem yang mengkombinasikan berbagai komputer dari seluruh dunia kedalam satu komputer raksasa yang dapat dioperasikan dari komputer personal di depan kita  (Dominick, 1996, p.14). Sebelum pembahasan kelebihan dan kekurangan Internet dimulai, kita perlu menegaskan terlebih dahulu pendefinisian dan perspektif yang digunakan untuk menggambarkan apa itu Internet.

Internet adalah sebuah jaringan mengglobal yang terbentuk dari berbagai jaringan komputer, masing-masing jaringan tersebut terbentuk secara terdesentralisasi namun saling terkoneksi melalui protokol yang disebut TCP/IP. Internet adalah produk teknologi, maka pendefinisiannya pun sebaiknya mengikuti terminologi teknis. Namun terdapat kecenderungan untuk melakukan penyederhanaan terhadap definisi Internet. Istilah internet lalu dianggap mewakili medium tunggal, bukannya jaringan atau infrastruktur bagi pertukaran data digital atau seperti yang dikatakan Bill Gates, “information superhighway”. Penyederhanaan tersebut dilakukan pula oleh sebagian pengamat/ilmuwan dari disiplin ilmu komunikasi, termasuk McQuail yang kadang menyebutkan Internet sebagai New Media dalam konteks sebuah medium tunggal, namun kadang memisahkan konteks Internet dengan New Media.

Untuk mempermudah penggolongan kelemahan dan keunggulan implementasi teknologi internet di Indonesia, penulis akan menggunakan cara pandang yang ditawarkan John December dalam Journal of Computer Mediated Communication. December dalam artikelnya Defining Units of Analysis for Internet-based Communication menawarkan bahwa kajian komunikasi berbasis Internet harus diarahkan pada bagian-bagian yang lebih spesifik, karena Internet bukan medium tunggal namun memiliki berbagai bentuk media didalamnya.

Internet communication is not a single medium sharing common time, distribution, and sensory characteristics, but a collection of media that differ in these variables. I define a unit of analysis called a media space, which uses the client-server-content triad as the basis for its definition. This concept of media space is one way to describe how the Internet consists of a range of media (December, 2006).

Berdasarkan cara pandang John December tersebut, penulis memposisikan Internet sebagai infrastruktur telekomunikasi data digital, sementara yang dimaksud new media adalah aplikasi-aplikasi komunikasi antar manusia yang menggunakan jaringan Internet sebagai saluran pertukaran datanya. Internet diasosiasikan sebagai sistem jalan raya yang digunakan orang untuk membawa benda-benda dari satu tempat ke tempat lain. Jika jaringan jalan raya di dunia nyata digunakan untuk memindahkan benda-benda fisik berbasis atom, maka Internet digunakan untuk memindahkan material digital. Konsep material fisik dan digital ini dituliskan oleh Nicholas Negroponte  (Negroponte, 1995).

Terdapat teknologi lanjutan yang berlandaskan pada teknologi internet. Teknologi web, email dan chatting adalah teknologi yang melahirkan ruang interaksi antar manusia melalui perantaraan jaringan internet. Teknologi web melahirkan world wide web, teknologi email melahirkan sistem persuratan elektronik, teknologi chatting melahirkan aplikasi dan ruang chatting/percakapan tersinkron (synchronous) di ruang maya. Ketiga aplikasi ini merupakan aplikasi yang paling sering digunakan sebagian besar pengakses internet, itulah sebabnya  Internet sering diartikan sama dengan world wide web, email, dan chatting. Pada perkembangannya sekarang teknologi web bahkan telah mampu mengintegrasikan fungsi email dan chatting dalam suatu halaman web.

Kelebihan dan kekurangan Internet yang akan dipaparkan berikut lebih banyak difokuskan terhadap penggunaan ketiga aplikasi tersebut melalui jaringan Internet, khususnya jaringan dokumen digital yang disebut World Wide Web. Selain itu saat kita berbicara tentang teknologi komunikasi, pembahasan kita sebaiknya komprehensif karena teknologi bukan hanya sekedar soal perangkat keras dan segala aspek teknisnya.  “Communication technology is the hardware equipment, organizational structures, and social values by which individuals collect, process, and exchange information with other individuals” (Rogers, 1986, p.2.). Dengan demikian pembahasan kelebihan dan kekurangan teknologi Internet akan meliputi pula pembahasan mengenai lembaga-lembaga yang terkait dengan implementasi penerapan teknologi tersebut termasuk regulasi yang mengaturnya, juga nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat Indonesia.

Kelebihan:

Menurut McQuail terdapat beberapa keunggulan yang bisa diperoleh dengan adanya Internet terhadap penegakkan demokrasi  (McQuail, 2005).

Interactivity as opposed to one way flow.

Interaktivitas dalam konteks new media memiliki tiga pola. Pertama interaktivitas seperti yang digambarkan Rogers sebagai kemampuan sistem komunikasi baru (new media) untuk berbicara kepada penggunanya, hampir seperti partisipasi individu dalam percakapan (Rogers, 1986, p.4.). Interaktivitas disini adalah antara pengguna dengan sistem new media, dimana media merespon stimuli yang diberikan pengguna. Bentuk media interaktif menurut Terry Flew, adalah media yang memberikan derajat pilihan dalam sistem informasi, baik dalam bentuk pilihan akses terhadap sumber-sumber informasi, maupun kendali terhadap keluaran yang muncul sebagai akibat mengunakan sistem yang dimaksud dan membuat pilihan-pilihan tertentu. Sistem hypertext di world wide web adalah contoh interaktivitas semacam itu  (Flew, 2005, p.13.). Bentuk kedua adalah interaktivitas diantara orang-orang, Livingstone menyebutnya human to human atau user to user interactions (Livingstone & Lievrouw, 2006, p.209.). Interaksi semacam ini adalah bentuk hubungan interpersonal yang diperantarai oleh sistem media baru seperti email yang asynchronous dan internet relay chat yang synchronous. Bentuk ketiga adalah interaktivitas antar mesin atau sistem (machine to machine) yang tidak akan dibahas dalam kaitannya dengan penegakan demokrasi di Indonesia. Bentuk interaksi terakhir ini berlangsung di latar belakang dan biasanya tidak disadari oleh para penggunanya.

Implementasi interaktivitas bentuk pertama, pengguna dengan dokumen/sistem media baru (new media). Kemampuan media baru untuk menampung dan menghubungkan sejumlah besar dokumen digital yang tersebar dimiliki oleh World Wide Web melalui mekanisme hyperlink. Teknologi web memberikan pilihan yang luas bagi pengguna untuk menentukan sumber dan bentuk informasi yang ingin diaksesnya pada waktu dan tempat yang dipilihnya. Keleluasaan untuk memilih informasi merupakan salah satu aspek demokrasi. Ini merupakan dukungan teknologi bagi kebebasan arus informasi yang bahkan melampaui batas-batas negara.

Namun yang perlu disadari, kebebasan tersebut tidak datang dengan sendirinya. Keleluasaan akses informasi melalui jaringan Internet dapat dibatasi dengan sengaja melalui pengaturan kebijakan negara. Jika mau, negara dapat memerintahkan dan mengawasi penyedia jasa internet untuk menutup akses terhadap sumber-sumber informasi yang dianggap berbahaya. Secara teknis ini dimungkinkan jika diwajibkan oleh regulasi. Contoh kasus adalah penutupan akses Internet di Myanmar tahun 2007 dan keberhasilan pemerintah Republik Rakyat Cina dalam mengendalikan arus informasi melalui internet sampai saat ini (Cable News Network).

Implementasi interaktivitas user to user. Menurut McLuhan, teknologi komunikasi memperluas indera manusia, khususnya mendengar dan melihat. Perluasan seperti itu membuat setiap individu dapat menerobos ruang dan waktu  (Rogers, 1986, p.2.). Interaktivitas macam ini merupakan perluasan komunikasi one to one, one to many, many to many baik secara sinkron maupun asinkron. Melalui teknologi Internet Relay Chat/Instant Messaging, aktor politik, pejabat publik, dan pejabat pemerintah dapat bercakap-cakap langsung dengan rakyatnya secara lebih efisien, karena keterbatasan ruang dan waktu menjadi kurang relevan untuk dianggap sebagai hambatan. Namun sekali lagi, walau ini dimungkinkan secara teknis tetapi tetap membutuhkan niat politik dari para pemegang kekuasaan untuk membuka saluran komunikasi melalui sarana semacam itu.

Mailing List dan discussion board menyediakan forum interaksi, diskusi dan pertukaran informasi mengenai beragam topik melalui perantaraan sistem email. Meluasnya ruang-ruang diskusi virtual terutama yang membahas tema-tema publik dapat menjadi sarana untuk mendorong perluasan partisipasi politik masyarakat. Misalnya partai-partai politik dan organisasi kemasyarakatan dapat mengelola mailing list sebagai saluran untuk mensosialisasikan ideologi-ideologi politiknya.

Kehadiran blog yang merupakan inovasi dalam pemanfaatan teknologi web, membawa terobosan baru mengenai pola pertukaran informasi di ruang virtual. Dari yang sebelumnya terdapat pemisahan yang tegas antara produsen informasi dengan konsumen informasi, kini batasan tersebut menjadi samar. Blog adalah sebuah situs web yang tujuan utamanya adalah sebagai sarana self publishing documents, ditampilkan dalam urutan kronologis terbalik, dan setiap dokumen dapat diakses secara individual melalui hyperlink. Suatu blog dapat dibuat dan dikelola oleh perorangan maupun kelompok/organisasi (Cooper, 2006, p.15.). Dengan adanya sistem publikasi instan seperti blog, setiap orang dapat menjadi penerbit informasi. Aspirasi tidak lagi harus disalurkan melalui media tradisional (main stream) tetapi dapat dipublikasikan sendiri. Perlu dicermati popularitas sebuah blog terutama ditentukan oleh pola komunitas pembaca dan penulis. Orang-orang dapat berinteraksi, saling membaca dan mengomentari tulisan-tulisan yang ada di blog masing-masing. Dari sudut pandang demokrasi, ini merupakan bentuk ruang publik (publik sphere) yang bebas, setiap orang dapat menulis apa saja namun dapat pula dikritik dengan berbagai tingkatannya. Sistem blog memperluas konsep citizen journalism, dimana setiap warga negara adalah jurnalis yang berhak dan dapat mengagendakan topik apa saja yang dianggap penting sebagai berita. Konsep citizen journalism menjamin diversity of content yang relatif bebas dari kepentingan kapitalis dan politik.

Gabungan antara synchronous dan asynchronous communication dapat dirasakan melalui trend jaringan sosial virtual seperti friendster, facebook, myspace, twitter dan sebagainya. Jaringan ini membentuk komunitas ruang maya dan memungkinkan anggota komunitas untuk berinteraksi, bertukar karya, informasi dan memperluas jaringan sosialnya secara interaktif dan atraktif dengan melintasi ruang dan waktu. Contoh penggunaan jaringan sosial virtual untuk kepentingan politik dalam sistem demokrasi ditunjukkan oleh tim kampanye Barrack Obama yang menggunakan berbagai jaringan virtual untuk menghimpun dukungan, dana sekaligus menjaring informasi langsung dari akar rumput. Tim kampanye termasuk Barrack Obama sendiri dapat berinteraksi langsung dengan orang-orang tanpa harus terpenjara konsep ruang dan waktu yang ketat.

Co-presence of vertical and horizontal communication, promoting equality. Konsep e-goverment seharusnya dapat menggambarkan peluang benefit seperti yang disebutkan McQuail ini. E-goverment adalah sistem informasi pemerintahan yang menggunakan teknologi berbasis teknologi internet. Misalnya seperti yang sudah disebut diatas; IRC/IM, web, dan email. Komunikasi dari atas ke bawah hadir bersamaan dengan tersedianya saluran untuk berkomunikasi diantar warga, dan komunikasi warga kepada penguasa. Saluran informasi ini tidak hanya digunakan untuk mesosialisasikan kebijakan, namun memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mediskusikan kebijakan dan memberi masukan dalam penyusunan kebijakan. Ini menggeser paradigma patriarki yang memandang pemerintahan sebagai orang tua dan warga negara sebagai anak yang perlu diasuh, menjadi paradigma kesetaraan yang memandang pemerintah dan warga sebagai mitra dalam proses pembangunan sosial, politik, budaya, ekonomi.

Disintermediation

Peran media massa tradisional sebagai perantara, penyampai aspirasi antara politikus dan warga menjadi berkurang. Interaksi dan pertukaran informasi dapat dilakukan secara langsung diantara mereka melalui perantaraan teknologi. Jurnalis dan media tempat mereka bekerja tak lagi memegang peran dominan dalam proses komunikasi tersebut.

Lagi-lagi keberadaan situs-situs web berjenis blog dan perangkat lunak jaringan sosial virtual lah yang memiliki andil dalam gejala disintermediation ini. Politikus dapat mengelola blog untuk mengungkapkan pemikiran dan ide-idenya sementara warga dapat membaca blog politikus tadi. Warga pun dapat meniggalkan pesan dan mengomentari posting blog politikus, sehingga politikus daat mengetahui respon warga terhadap ide-ide yang termuat dalam tulisannya. Sebaliknya politikus pun dapat membaca blog-blog yang dibuat warga untuk mengetahui langsung pemikiran warga, dan berdialog dengan warga melalui perantaraan mekanisme posting dan comment.  Jaringan sosial seperti myspace, facebook, friendster pun dapat digunakan untuk peran yang kurang lebih sama. Pada suatu kondisi tertentu seperti yang diamati Stephen .D Cooper di Amerika, blog pun dapat menggeser dominasi pers media tradisional sebagai pilar demokrasi keempat, bahkan dapat menjelma menjadi pilar demokrasi kelima yang berfungsi melakukan kontrol baik terhadap pemerintahan maupun kinerja media tradisional  (Cooper, 2006).

Low cost for senders and receivers

Media dan pesan yang dipertukarkan melalui perantaraan jaringan Internet merupakan material digital. Ini artinya tidak membutuhkan kertas. Jaringan internet dikembangkan secara terdesentralisasi diberbagai penjuru dunia, itu artinya produsen media tidak perlu membangun infrastruktur distribusi sendiri untuk menjangkau audiens yang luas dan tersebar diberbagai penjuru bumi. Proses produksi pesan dalam bentuk digital pun semakin lama semakin sederhana dan tidak membutuhkan banyak orang, tidak membutuhkan peralatan yang mahal, dan tidak membutuhkan keterampilan yang langka.  Gabungan itu semua membuat biaya untuk memproduksi dan mengakses pesan/media digital melalui perantaraan Internet menjadi relatif jauh lebih murah, dibanding dengan memproduksi pesan dalam bentuk media massa tradisional seperti suratkabar, majalah, televisi, radio dan sebagainya.

Speed greater than with traditional media

Kepemilikan informasi menjadi semakin penting dalam era yang disebut Rogers sebagai era informasi ini. Semakin cepat kita menguasai informasi yang vital, semakin cepat dan leluasa kita membuat keputusan-keputusan penting yang membuat kita unggul dari pihak-pihak lain. Produksi dan distribusi pesan melalui jaringan Internet memiliki gabungan keunggulan waktu, biaya dan jangkauan. Kombinasi ketiganya lah yang memuat media tradisional relatif berada dalam posisi yang lebih lemah.

Radio sebenarnya memiliki kecepatan produksi dan distribusi yang relatif lebih unggul dibanding teknologi internet, namun jangkauan distribusi pesannya kalah jauh dibandingkan dengan media-media online berbasis jaringan Internet. Apalagi kini perangkat untuk mengakses jaringan Internet semakin lama semakin bervariasi dan mobile, sehingga pengguna dapat mengirim dan menerima pesan hampir dimana saja dan kapan saja.

Ambilah contoh kasus publikasi peristiwa pengeboman kereta bawah tanah di Inggris dan peristiwa penembakkan di sebuah sekolah di Virginia Amerika Serikat. Dalam hitungan menit dan jam, posting gambar rekaman dari saksi mata yang membawa telepon selular berkamera telah beredar melalui blog. Komentar orang dari berbagai penjuru dunia mengalir dari satu blog ke blog yang lain. Sementara media tradisional masih sibuk mencoba menghimpun, mengolah, memverifikasi dan mengemas data-data, dunia sudah terlebih dahulu mengetahui peristiwa itu.

Absence of boundaries

Thomas L. Friedman menuliskan bahwa dunia kini telah menjadi datar. Batas-batas negara dan perbedaan waktu tidak lagi relevan untuk membatasi aktivitas dan pertukaran informasi diseluruh dunia.  Seseorang di India dapat melakukan pekerjaan untuk bisnis di Amerika tanpa pernah harus meninggalkan India, yang lebih menakjubkan lagi banyak orang Amerika tidak menyadari jika orang-orang India lah yang melakukan berbagai pekerjaan untuk mereka dari negeri asalnya sendiri. Globalisasi bukan saja terjadi diantara negera dan perusahaan multinasional, namun telah memasuki interaksi langsung dengan individu-individu (Friedman, 2006).

Jaringan Internet saat ini memungkinkan kita mengakses informasi, bercakap-cakap, bahkan melakukan transaksi bisnis dengan pihak-pihak di negara lain yang sama sekali belum pernah kita kunjungi. Informasi dari dan keluar batas-batas negara mengalir setiap hari dengan bebas, sehingga peristiwa politik disuatu wilayah yang jauh pun segera dapat diketahui dalam hitungan detik.

Dalam konteks penegakan demokrasi, fakta tersebut membuat masyarakat Indonesia dengan mudah mengetahui praktek pelaksanaan demokrasi dari berbagai penjuru dunia dan memperbandingkannya dengan situasi di Indonesia. Sebaliknya berbagai peristiwa politik di Indonesia pun dapat diketahui dengan segera diberbagai belahan dunia, ini menjadi mekanisme kontrol terhadap penguasa karena mata dunia ikut mengawasi pelaksanaan demokrasi di Indonesia.

Ketiadaan batas antar negara dan waktu ini sebenarnya dapat membantu efisiensi lembaga-lembaga negara untuk berkomunikasi dan belajar dengan berbagai pihak. Studi banding keluar negeri misalnya dapat digantikan oleh penelusuran informasi online, pertukaran surat elektronik, dan tele video conference.

Esensi Keunggulan

Esensi dari berbagai keunggulan seperti disebutkan diatas adalah melebarnya potensi partisipasi publik untuk mengungkapkan aspirasi dan berdialog dalam bidang politik. Semua keunggulan tersebut memberikan kemudahan untuk mencari dan mempublikasikan informasi melalui perantaraan teknologi berbasis jaringan Internet. Keberadaan Internet di Indonesia mendukung prinsip kebebasan arus informasi yang menjadi salah satu karakter dan landasan demokrasi. Dibanding beberapa negara lain seperti Cina, Malaysia, dan India, Indonesia jauh lebih terbuka dan liberal dalam hal kebijakan yang mengatur askses Internet. Namun keunggulan-keunggulan tersebut belum tentu otomatis mendongkrak partisipasi publik di bidang politik. Karena teknologi ini pun memiliki beberapa kelemahan dan hambatan.

Kelemahan:

Kesenjangan digital (Digital Divide).Kesenjangan digital adalah adanya jarak/kesenjangan antara mereka yang memiliki akses terhadap teknologi digital dengan mereka yang tidak memiliki akses (Hargittai, 2003). Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang beragam, mulai dari tingkat pendidikan, ekonomi, budaya dan sebagainya. Keberagaman tersebut juga merambah pada keberagaman kemampuan dan akses terhadap teknologi Internet. Ketimpangan akses ini pada akhirnya akan membuat perluasan partisipasi politik melalui teknologi ini hanya akan dikuasai oleh warga atau pihak-pihak yang memiliki keunggulan atas akses teknologi tersebut. Lagi-lagi partisipasi politik akhirnya tidak terdistribusi secara merata, aspirasi masyarakat dari golongan yang kurang mendapatkan akses terhadapt teknologi digital pun tidak tersalurkan secara lancar.

Content Credibility

Internet dapat diakses oleh hampir semua orang pada wilayah yang amat sangat tersebar. Telah lama dipercaya bahwa konten yang beredar melalui jaringan internet dapat dibuat oleh siapa saja dengan menyembunyikan identitas diri. Sehingga kredibilitas konten menjadi sangat lemah. Pernyataan tersebut tidak sepenuhnya benar, karena secara teknis setiap orang yang mengakses jaringan Internet akan meninggalkan jejak digital yang merujuk pada IP address, lokasi komputer yang digunakan untuk mengakses dan waktu akses. Bahkan jika seseorang mengakses internet dengan menggunakan IP address permanen yang terdaftar, identitas pendaftar langsung dapat diketahui. Inilah yang digunakan pemerintahan RRC untuk melacak para pelanggar kebijakan akses internet mereka. Keyakinan bahwa identitas seseorang dengan mudah dapat dipalsukan atau disembunyikan saat melakukan publikasi online muncul karena keterbatasan skill teknis pihak berwenang untuk melakukan pelacakan.

Namun tetap saja tidak semua orang mampu melakukan pelacakan seperti itu ditambah teknologi untuk menghindari pelacakan identitas pun semakin lama semakin canggih saja. Masalah kredibilitas ini menjadi hambatan dalam penggunaan blog misalnya sebagai sarana aspirasi politik. Sampai-sampai Roy Suryo pernah membuat pernyataan bahwa blog itu hanya berisi sampah dari orang-orang yang tidak jelas identitasnya. Fakta yang cukup disayangkan, sampai saat ini orang memang lebih banyak menggunakan blog untuk menggantikan fungsi catatan harian dibanding konten-konten yang memiliki nilai informasi tinggi.

Bibliography

Cable News Network. (n.d.). China and Internet Cencorship. Retrieved 11 4, 2008, from CNN.com: http://edition.cnn.com/interactive/world/0603/explainer.china.internet/frameset.exclude.html

Cooper, S. D. (2006). Watching the Watchdog: Bloggers as the Fifth Estate. Washingtone, United States of America: Marquette Books.

December, J. (2006, June 23). Journal of Computer Mediated Communication. Retrieved September 29, 2008, from WileyInterscience: http://www3.interscience.wiley.com/cgi-bin/fulltext/120837675/HTMLSTART

Dominick, J. R. (1996). The Dynamic of Mass Communication (5th Edition ed.). New York, United States of America: McGraw-Hill.

Flew, T. (2005). New Media-An Introduction (2nd Edition ed.). Melbourne, Australia: Oxford University Press.

Friedman, T. L. (2006). The World is Flat. (A. Purwanto, A. Benawa, Eds., P. Buntaran, & B. Molan, Trans.) Jakarta, Indonesia: Dian Rakyat.

Hargittai, E. (2003). The Digital Divide and What To Do About It. In D. C. Jones, New Economy Handbook. CA, United States of America: Academic Press.

Livingstone, S. M., & Lievrouw, L. A. (2006). The Handbook of New Media. United States of America: SAGE.

McQuail, D. (2005). McQuail’s Mass Communication Theory (5th Edition ed.). London, England: Sage Publications Ltd.

Negroponte, N. (1995). Being Digital. (Y. Liputo, Ed., & A. Baiquni, Trans.) Bandung, Jawa Barat, Indonesia: Mizan.

Rogers, E. M. (1986). Communication Technology, The New Media in Society. New York, United States of America: The Free Prees; A Division of Mcmillan, Inc.

Powered by Qumana

Leave a Reply