Amplifikasi Media Massa Terhadap Superioritas Penampilan Fisik Sempurna

Wajah yang menarik dan penampilan fisik sempurna selalu menjadi daya tarik bagi manusia. Kecenderungan ini secara alamiah telah kita miliki sejak usia bayi. Media massa mengakomodasi kecenderungan ini dan mengamplifikasinya sebagai suatu ideologi budaya yang dominan. Artikel ini akan memperlihatkan bagaimana amplisikasi itu terjadi.

Artikel ini merupakan makalah akhir untuk kuliah Seminar Industri Media dan Budaya. Setelah dipresentasikan, ternyata terdapat beberapa bagian yang perlu penanganan lebih lanjut, misalnya: contoh film Nutty Proffesor untuk menggambarkan bagaimana media menggunakan ciri fisik untuk membedakan karakter superior dan inferior. Contoh ini perlu diberi penjelasan lebih lanjut jika tidak dihilangkan sama sekali. Lalu pada bagian akhir saya menyinggung bahwa media massa memperoleh keuntungan finansial dari amplifikasi budaya yang mengagungkan suoerioritas penampilan fisik. Bagian tersebut masih dapat dieksplorasi lebih mendalam. Hal lain yang masih dapat dikembangkan pembahasannya adalah representational unit yang disodorkan sebenarnya dapat lebih diperkaya, karena ini bukan hanya terlihat dari penggunaan visualisasi dalam media massa, namun juga dari pernyataan berbagai tokoh yang terlibat dalam industri media, fashion, kosmetik, dan juga audiens media.

Untuk para mahasiswa dan akademisi yang kebetulan merasa artikel ini bermanfaat untuk tulisan yang akan dibuatnya, please respect your self and do the proper citation procedure. Pake tata krama kutip mengutip yang pantas ya. Terima kasih

Pendahuluan

Latar Belakang

Manusia secara naluriah menyukai wajah-wajah menarik, kecenderungan seperti itu bahkan telah kita miliki semenjak bayi. Tayangan dokumenter produksi BBC memperlihatkan sekelompok bayi dihadapkan pada dua kelompok foto, yang pertama memperlihatkan wajah cantik Elizabeth Hurley (aktris Inggris) dan beberapa wanita cantik lain, sementara kelompok foto kedua memperlihatkan wajah pemandu acara yang sengaja berekspresi buruk serta wajah-wajah buruk lainnya. Bayi-bayi tersebut mengeluarkan eskpresi tidak nyaman, bahkan menangis ketika dihadapkan pada wajah-wajah buruk, namun tampak tenang bahkan tersenyum ketika dihadapkan pada wajah-wajah cantik dan menarik (BBC, 2008a).

Menarik atau tidaknya sebuah wajah bersifat subjektif, artinya setiap pengamat memiliki penilaian tersendiri terhadap daya tarik suatu wajah (Berry, 2008). Namun demikian manusia secara universal pada umumnya lebih menyukai wajah-wajah yang dianggap menarik. Pierce Brosnan menyatakan bahwa memiliki wajah yang menarik dengan keterampilan yang tepat akan membantu seseorang meraih sukses dibandingkan jika hanya memiliki keterampilan yang tepat saja (BBC, 2008a).

Wajah ternyata bukan satu-satunya indikator yang membedakan daya tarik seseorang, namun keseluruhan penampilan fisik pun turut menentukan daya tarik individu. Secara sosial, kita ternyata mengembangkan stratifikasi sosial berdasarkan penampilan fisik, seperti halnya kita mengembangan stratifikasi sosial berdasarkan ras, gender, dan usia. Individu-individu dengan penampilan fisik lebih menarik cenderung mendapatkan perhatian dan perlakuan sosial yang lebih baik. Ini menimbulkan pertanyaan apakah orang-orang dengan penampilan fisik yang lebih menarik, juga memiliki kekuatan sosial yang lebih besar? (Berry, 2008)

Ketertarikan manusia pada penampilan fisik yang bagus sepertinya diakomodir oleh media-media massa yang ada. Jika kita perhatikan dengan seksama figur-figur individu yang tampil atau bahkan menjadi icon media massa cenderung merupakan individu-individu yang memiliki penampilan fisik terutama wajah yang menarik atau dikategorikan sebagai cantik dan tampan.

Halaman muka majalah-majalah di dunia cenderung didominasi oleh figur model-model berwajah cantik/tampan dengan penampilan fisik yang menarik. Karakter-karakter dalam film terutama karakter utama dan protagonis biasanya berpenampilan menarik, sementara tokoh antagonisnya lebih sering digambarkan berpenampilan kurang menarik. Pola-pola seperti ini cenderung menjadi pola umum dalam industri media, dimana figur-figur berpenampilan fisik menarik lebih mendapat tempat dibandingkan dengan individu yang kurang menarik.

Permasalahan

Some ideological sets are elevated and amplified by mass media, given great legitimacy by them, and distributed persuasively, often glamorously, to large audiences (Lull, 1994; p.8).

Stratifikasi sosial berdasarkan penampilan fisik telah menjadi semacam ideologi tersendiri dalam sistem sosial masyarakat. Ideologi tersebut berlaku lintas bangsa dan telah tumbuh berkembang dalam kurun waktu yang cukup lama. Hal ini dapat kita raba indikasinya melalui berbagai cerita rakyat di berbagai bangsa yang menempatkan figur-figur berpenampilan fisik menarik sebagai tokoh utama kisah-kisah tersebut.

Salah satu peran media massa dalam masyarakat adalah merefleksikan kondisi dan nilai-nilai sosial disekitarnya (McQuail, 2000). Dengan demikian dominannya pemunculan figur-figur berpenampilan fisik menarik pada berbagai media sebenarnya merefleksikan nilai-nilai sosial yang mengagung-agungkan kesempurnaan fisik. Lull bahkan mengemukakan bahwa nilai-nilai tersebut tidak hanya sekedar direfleksikan, namun diangkat, diamplifikasi, lalu disebarkan secara persuasif dan glamour kepada sejumlah besar audiens.

Makalah ini mencoba menunjukkan bukti-bukti yang menunjukkan “bagaimana media massa mengangkat dan memperkukuh nilai-nilai budaya yang menyebabkan timbulnya stratifikasi sosial berdasarkan daya tarik penampilan fisik.

Media dan Budaya

Penyebaran dan pengukuhan nilai budaya melalui media massa

Budaya adalah suatu konteks. Ini adalah tentang cara memandang dunia dan menjalani berbagai aktivitas kehidupan (Lull, 1994; p.66). Cara pandang manusia terhadap manusia lainnya merupakan bagian dari cara pandang terhadap dunia tadi. Cara pandang ini mempengaruhi bagaimana manusia menilai, bersikap dan memperlakukan manusia lainnya.

Walaupun secara rasional kebanyakan dari kita memahami bahwa penampilan fisik seseorang tidak langsung mencerminkan kualitas moral, namun pada kenyataannya penampilan fisik yang buruk cenderung lebih diwaspadai dan dicurigai memiliki sikap moral yang buruk, daripada individu dengan penampilan fisik yang menarik (BBC, 2008a).

Cara pandang seperti itu disadari atau tidak telah menimbulkan stratifikasi sosial berdasarkan penampilan fisik. Individu-individu dengan penampilan fisik menarik cenderung lebih mendapat tempat dan prioritas kesempatan dalam ruang-ruang sosial (BBC, 2008b). Superioritas penampilan fisik menarik seperti ini lama kelamaan menjadi suatu ideologi, dimana orang-orang berlomba-lomba berusaha mencapai kesempurnaan fisik sebagai sarana pencapaian strata sosial yang lebih baik.

Ideologi seperti ini kemudian menyebar dengan cepat dan dipelihara secara sistematis seiring dengan perkembangan teknologi komunikasi modern. Media massa sebagai produk teknologi komunikasi modern menjadi perangkat representasi ideologi (Lull, 1994; p.11).

Image System

James Lull mengungkapkan suatu sistem yang digunakan untuk menggambarkan penyebaran ideologi dominan. Sistem itu disebut sebagai image systems (sistem citra). Menurut Lull, penyebaran ideologi dominan yang efektif selalu tergantung pada penggunaan image systems secara strategis.

Image systems terdiri dari dua tipe dasar, yaitu ideational dan mediational. Sistem ini mengandung artikulasi lapisan-lapisan representasi ideologi dan penggunaan taktis teknologi komunikasi modern untuk mendistribusikan apa yang direpresentasikan. Jika sistem ini berhasil, akan mendorong penerimaan dan sirkulasi tema-tema dominan oleh audiens.

Ideational system

Ideational Systems.jpg

Sistem ini tersusun atas unit-unit representasi ideasional seperti halnya morfem dalam bahasa, dengan bentuk-bentuk pengorganisasian internal yang kompleks kemudian mengarahkan dan menganjurkan pada interpretasi-interpretasi tertentu.

Unit-unit representasi yang dimaksud adalah satuan pesan-pesan media yang tampaknya berdiri sendiri namun sebenarnya memiliki pola umum yang berulang antara satu pesan dengan pesan lainnya. Misalnya, pada konteks makalah ini, unit representasi adalah penggunaan figur-figur yang secara fisik menarik dalam berbagai media visual. Cover majalah-majalah terkemuka seperti Vogue, Time, Cosmopolitan, Newsweek dan sebagainya lebih banyak menampilkan visualisasi figur-figur fisik dan wajah yang menarik atau dibuat menarik melalui rekayasa kosmetik dan pengolahan digital.

Pengulangan unit representasi seperti itu membentuk pengorganisasian internal pesan, dimana terdapat kode dan pola yang teratur dan secara berulang muncul melalui pesan-pesan media.

Pola-pola tersebut mengandung makna tertentu yang jika diinterpretasikan sesuai dengan maksud produsen pesan, akan mengungkap ideologi dominan yang melatarbelakangi produksi pesan-pesan media tersebut.

Mediational Systems

Mediational Systems.jpg

Mediational systems terdiri dari technological mediation dan social mediation. Technological mediation mereferensikan pada campur tangan teknologi komunikasi dalam interaksi sosial. Ini adalah mengenai bagaimana unit-unit representasi dan internal organization pada ideational systems menjangkau audiens melalui pengunaan teknologi komunikasi. Mediasi teknologi membuat nilai-nilai budaya dapat menyebar dan sampai ke tempat-tempat yang jauh.

Sementara social mediation adalah penyebaran interpretasi pesan media melalui interaksi sosial untuk mengkonstruksikan kehidupan sehari-hari. Ini terlihat misalnya ketika orang-orang mendiskusikan acara televisi yang dilihatnya, membuat keputusan berdasarkan berita yang diterimanya melalui televisi dan sebagainya.

Konsep Keindahan Wajah

Kecantikan dan ketampanan atau keindahan wajah sifatnya subjektif, setiap pengamat akan memiliki penilaian spesifik tersendiri terhadap keindahan suatu wajah. Namun eksplorasi ilmiah seperti yang ditunjukkan dalam program dokumenter produksi BBC berjudul “beauty” memperlihatkan bahwa manusia tanpa memandang ras, jenis kelamin, maupun usia menyukai wajah-wajah yang dianggapnya menarik.

Penjelasan psikologis terhadap hal ini sebenarnya terkait pada faktor biologi. Wajah yang menarik hampir selalu diasosiasikan dengan kesehatan yang baik, sementara wajah yang buruk diasosiasikan dengan kesehatan yang kurang baik. Naluri manusia untuk menghindarkan diri dari penyakit serta naluri untuk mendapatkan pasangan yang sehat lah yang mendasari preferensi manusia pada wajah-wajah yang menarik.

Bagaimana manusia menilai keindahan wajah seseorang? Sekalipun konsep keindahan wajah memiliki penilaian relatif diantara individu dan bahkan ras, ternyata wajah-wajah yang dianggap menarik berdasarkan ukuran berbagai bangsa memiliki kesamaan yang universal, yaitu; simetris dan mengandung komposisi wajah yang memenuhi golden ratio.

Golden ratio ditemukan oleh Leonardo Da Vinci dan memiliki nilai rasio 1:1,618. Orang-orang yang dianggap memiliki figur fisik menarik dan sempurna ternyata memiliki rasio tersebut. Misalnya jarak antara dua sisi terluar hidung memiliki proporsi rasio 1:1,618 dengan jarak antara dua sisi terluar mulut. Sementara jarak antara kedua ujung mulut memiliki rasio 1:1,618 dengan jarak antara sisi terluar mulut dengan ujung tulang pipi, dan seterusnya.

Pembahasan

Ideational Systems

Dominasi Wajah dan Penampilan Fisik Menarik

Televisi merupakan salah satu media massa yang memikat banyak audiens. Television has the unparalleled ability to expose, dramatize, and popularize cultural bits and fragments of information. Itu dilakukan dengan secara rutin menyiarkan program-program hiburan, berita, dan iklan (Lull, 1994; p.9). Figur-figur menonjol dalam televisi diwakili oleh artis-artis hiburan televisi, presenter berita, bintang iklan dan sebagainya. Kalau kita perhatikan figur-figur tersebut mayoritas memiliki penampilan fisik yang dapat dikatakan menarik.

Program berita di Indonesia misalnya, memiliki presenter seperti Prita Laura, Zelda Safitri, Grace Natalie yang bukan hanya mampu melakukan peliputan dan mengantarkan berita kehadapan pemirsa, namun juga memiliki figur wajah yang enak dipandang. Para reporter lapangan berbagai stasiun televisi pun seringkali menampilkan sosok-sosok wajah yang menarik. Memang terdapat pula jurnalis televisi yang tampak biasa-biasa saja di depan layar, namun jumlahnya lebih sedikit dibandingkan dengan reporter berpenampilan menarik. Kenyataan ini merupakan strategi stasiun televisi untuk merebut perhatian audiensnya.

Edy Sunaryo, Program Operation General Manager ANTV dan Makroen Sanjaya, Editor in Chief Metro TV pada suatu kesempatan pernah mengakui bahwa penyaringan reporter dan presenter selain memperhitungkan kecerdasan dan kemampuan jurnalisme juga memperhitungkan daya tarik fisik. Jika terdapat sejumlah kandidat reporter yang memiliki kecerdasan dan kemampuan yang kurang lebih sama, maka yang dipilih adalah yang berwajah paling menarik.

Program hiburan lebih banyak lagi menampilkan figur-figur menarik atau dibuat menarik. Kita mengenal figur-figur seperti Luna Maya, Pasha Ungu, Nadia Safira, Tora Sudiro, Mulan Jameela, Aura Kasih, dll. Walaupun masing-masing memiliki bidang keahlian yang berlainan, namun mereka semua memiliki kesamaan, yaitu penampilan fisik yang menarik. Jika pun ada figur televisi berpenampilan kurang menarik, figur tersebut biasanya didandani sedemikian rupa untuk mengurangi kelemahan-kelemahan penampilan fisiknya. Figur-figur yang tidak terlalu menarik ini biasanya memiliki keunikan dan bakat yang luar biasa untuk menjadi komoditi di media, sedangkan bagi figur berpenampilan menarik bakat seringkali menjadi pertimbangan kedua.

Film layar lebar dan sinetron dibanjiri dengan aktris dan aktor berpenampilan menarik. Bintang-bintang film terkenal didominasi oleh wajah-wajah cantik dan tampan, sementara bintang film terkenal berwajah kurang menarik jumlahnya relatif sedikit. Pada tingkat internasional misalnya, kita mengenal; Pierce Brosnan, Elizabeth Hurley, Michelle Pfeiffer, Cate Blanchett, Nicole Kidman, dsb. Pada level nasional terdapat figur-figur seperti; Dian Sastro, Tora Sudiro, Kinaryorsih, Cut Mini dsb.

Pierce Brosnan, pemeran beberapa film James Bond mengungkapkan bahwa dirinya terkadang bertanya-tanya seandainya saja hidungnya sedikit bengkok, mungkinkan kemampuan aktingnya dapat lebih baik dari saat ini. Menurut Brosnan, memiliki wajah menarik memang cukup membantu dalam kehidupan sosial dan profesional, namun disisi lain hal tersebut menyisakan pertanyaan apakah karir yang dimilikinya saat ini lebih dipengaruhi oleh penampilannya ataukah kemampuan aktingnya (BBC, 2008b).

Media cetak terutama majalah juga banyak menampilkan figur-figur yang secara fisik menarik. Mulai dari majalah nasional seperti; Hai, Kartini, Femina, Selullar dan sebagainya, sampai majalah internasional, seperti;Vogue, Cosmopolitan, Time, NewsWeek, People dan sebagainya. Semua sering manampilkan figur-figur berpenampilan fisik menarik sebagai model pada halaman muka.

Tentu saja iklan yang memiliki fungsi utama menjual produk dapat dipastikan selalu menggunakan model berpenampilan fisik menarik, walaupun hal tersebut berpotensi mengalihkan perhatian audiens dari produk utama yang ditawarkan. Misalnya; penggunaan Aura Kasih sebagai model iklan produk salah satu produk minuman teh atau model wanita cantik dan seksi dalam iklan telepon genggam.

Si Menarik vs Si Buruk Rupa

Tradisi Hollywood klasik selalu menggunakan aktor dan aktris menarik untuk memerankan tokoh-tokoh utama, sementara tokoh jahat disimbolkan dengan penampilan yang tidak menarik atau buruk. Film Superman Return misalnya menampilkan tokoh Superman dengan tampilan fisik yang disebut oleh teman penulis sebagai, “keterlaluan gantengnya”, sedangkan Lex Luthor sang penjahat digambarkan lebih tua dan botak.

Karakter film sering digambarkan berpenampilan menarik untuk menandai heroisme dan sifat-sifat baik yang melekat pada karakter tersebut, sedangkan penampilan fisik yang buruk seringkali digunakan untuk menggambarkan karakter yang lemah atau bersifat buruk. Cerita klasik “Nutty Proffesor” misalnya menggambarkan seseorang dengan dua versi penampilan, yaitu proffesor yang secara fisik tidak menarik dan versi diri proffesor yang berubah menjadi menarik. Versi proffesor yang kurang menarik digambarkan memiliki kemampuan sosial yang rendah dan selalu menjadi olok-olok orang sekitarnya, sedangkan versi diri proffesor yang berpenampilan menarik digambarkan sebagai magnet bagi wanita, percaya diri, dan pandai bergaul.

Contoh lain misalnya “Pirate of Carribean” ketiga tokoh utama, Jack Sparrow, Will Turner dan Elizabeth Swan divisualisasikan dengan penampilan fisik lebih baik dibandingkan dengan penampilan fisik karakter antagonis Kapten Barbosa dan anak buahnya.

Film-film Hollywood masa kini memang tidak selalu menampilkan tokoh jahat dengan tampilan fisik yang lebih buruk dari tokoh utama baik, misalnya “Angels and Demons” justru menampilkan antagonis utama dalam sosok Ewan McGregor sebagai Camerlengo yang menarik dan simpatik. Namun ada hal yang tidak berubah dalam film tersebut, yaitu semua peran yang cukup lama tampil di layar, seperti kedua polisi yang mati tertembak di dalam mobil penjahat, tetap memiliki tampilan fisik yang menarik.

Pemunculan figur-figur berpenampilan fisik menarik pada berbagai media massa visual tersebut dapat dikategorikan sebagai representational units dalam Ideational Image Systems yang diajukan James Lull. Penggunaan figur-figur tersebut seolah-olah muncul secara terdesentralisasi, karena masing-masing media tidak memiliki keterkaitan atau koordinasi satu sama lain. Keputusan casting director film Angels and Demons untuk menggunakan Ewan McGregor sebagai tokoh antagonis dalam film itu, tidak ada kaitannya sama sekali dengan penentuan Luna Maya sebagai presenter “Dashyat” di Indonesia.

Namun penonjolan figur-figur berpenampilan fisik menarik yang tampak sporadis pada berbagai media seluruh dunia ini sebenarnya memiliki pola yang membentuk internal organization. Figur-figur tersebut terpilih untuk muncul di media karena mewakili apa yang disebut cantik, tampan, atletis, seksi, sehat, kuat, anggun dan sebagainya. Semua figur tersebut dipilih karena dianggap mendekati kesempurnaan daya tarik fisik figur manusia.

Manusia dari dahulu memang mengagumi kesempurnaan fisik spesiesnya. Kekaguman ini pada awalnya berlandasan pada naluri untuk mempertahankan diri dari penyakit, sekaligus naluri untuk mencari pasangan hidup yang sehat bagi dirinya. Namun alasan mendasar itu kemudian berkembang menjadi suatu ideologi yang mengutamakan penampilan fisik dalam sistem sosial di sekitar kita.

Ideologi seperti itulah yang direfleksikan kembali oleh media massa melalui berbagai representational units yang ada sehingga membentuk internal organization yang terpola untuk menyampaikan suggested interpretations bahwa penampilan fisik yang sempurna memiliki nilai yang berharga ditengah masyarakat, bahwa sesuatu yang tampak dipermukaan itu menjadi faktor yang harus diperhatikan dibandingkan karakter yang ada dibaliknya.

Dominasi ideologi semacam itu membentuk superioritas berdasarkan penampilan fisik, dimana orang-orang berpenampilan fisik lebih baik dianggap memiliki karakter dan kemampuan lebih baik pula. Ini pada akhirnya menciptakan apa yang disebut sebagai stratifikasi sosial berdasarkan penampilan fisik.

Mediational Systems

Technological Mediation

Representational units untuk menggambarkan superioritas penampilan fisik yang menarik tersebar luas melalui penggunaan teknologi komunikasi modern. Masyarakat Indonesia dapat menikmati figur-figur menarik dari berbagai penjuru dunia melalui televisi, bioskop, situs web, majalah dan sebagainya.

Majalah seperti Cosmopolitan, FHM, dan sebagainya kini telah hadir dalam versi Indonesia nya. Film-film Hollywood, Bollywood, Korea, Jepang dan sebagainya dapat dinikmati dengan cepat di bioskop atau youtube.

Penyebaran media yang mengandung representational units ini semakin meneguhkan ideologi superioritas penampilan fisik keseluruh penjuru dunia.

Social Mediation

Pesan-pesan media yang mengandung representational units tadi diterima dan diinterpretasi oleh individu-individu dalam masyarakat. Kita mendiskusikan, membicarakan kekaguman kita pada figur-figur media yang cantik, menarik, atletis, seksi dan sebagainya.

Bukan hanya pada tingkat diskusi, interpretasi ini juga mempengaruhi cara kita berperilaku dalam kehidupan sehari-hari. Kita menjadi cenderung menempatkan penampilan fisik sebagai elemen penting untuk menilai karakter orang lain. Kita menjadi lebih konsumtif terhadap produk dan layanan yang dianggap mampu meningkatkan penampilan fisik kita.

Industri fashion dan kosmetik adalah industri yang sangat terkait dengan upaya meningkatkan penampilan fisik. Kedua industri ini memiliki nilai ekonomi yang besar dan turut membiayai operasional media massa melalui pembelian ruang iklan. Industri kosmetik yang terkait dengan perawatan kulit, misalnya memiliki perputaran uang diseluruh dunia sebesar 24 milliar dollar amerika pertahunnya (Berry, 2008). Dengan nilai sebesar itu wajar apabila industri-industri tersebut mendukung penyebaran dan pengukuhan ideologi yang mengagungkan superioritas penampilan fisik.

Nilai-nilai artifisial seperti popularitas dan ketenaran pun semakin meningkat, sehingga orang berlomba-lomba mendandani diri agar memiliki peluang lebih besar untuk masuk menjadi figur media massa berikutnya. Acara-acara pencarian bakat seperti Indonesian Idol, Model Indonesia, KDI, Gadis Sampul, L-Man of the year dan sebagainya pun laris peserta. Walaupun bakat-bakat yang diasah pada berbagai acara tersebut relatif berbeda, namun tetap saja para pesertanya didandani sedemikian rupa sehingga cukup menarik untuk disaksikan melalui media massa.

Demikianlah, lingkaran ideologi superioritas penampilan fisik menarik ini akan terus berlangsung, disebarkan, dan diperkuat oleh media massa, karena secara tidak langsung ideologi seperti ini menyumbangkan kontribusi ekonomi yang cukup signifikan bagi industri media.


Bibliography

BBC (Writer) (2008a). The Human Face [DVD]. In M. Mosley, N. Rossiter & G. sally (Producer), Beauty. England: BBC.

BBC (Writer) (2008b). The Human Face [DVD]. In M. Mosley, N. Rossiter & G. sally (Producer), Fame. England: BBC.

Berry, B. (2008). The Power of Looks: Social Stratification of Physical Appearance (illustrated ed.): Ashgate Publishing, Ltd.

Lull, J. (1994). Media Communication, Culture – A Global Approach: Polity Press.

McQuail, D. (2000). McQuail’s Mass Communication Theory (4th ed.). London: Sage Publication.

Powered by Qumana

Leave a Reply