Pemimpin Redaksi Majalah Wanita is Glamours Job – Wawancara Dengan Petty Siti Fatimah

Pemimpin Redaksi Femina, Petty Siti Fatimah

Pemimpin Redaksi Femina Petty Siti Fatimah. Ditemui pada Senin (12/12) di gedung Femina di bilangan Rasuna Said, Jakarta.

Annisa Fitri Ademauna mengajak Anda untuk mengenal sosok Petty Siti Fatimah, seorang Pemimpin Redaksi majalah wanita di Indonesia.

Petty Siti Fatimah adalah serorang Pemimpin Redaksi (Pemred) di majalah Femina. Ia sudah bekerja pada Femina pada akhir 2002. Sebelumnya ia juga pernah menjadi Pemred di majalah Gadis. Memang ia sangat sulit untuk ditemui, karena dia sedang sibuk dengan berbagai kegiatan yang diadakan oleh Femina.

            Ia adalah sosok pemimpin wanita yang baik. Saat ditemui ia terlihat sangat santai tetapi tetap fashionable. Baju yang ia kenakan saat itu sangat simple. Ia juga mengenakan gelang di tangan kanan dan jam tangan di kiri. Ia sangat ramah kepada semua orang yang saya lihat pada waktu itu, termasuk kepada saya. Tutur kata yang diucapkannya sangat menginspirasi bagi orang-orang tertentu yang ingin bergelut di bidang yang sama dengannya.

Kami bertemu di gedung Femina, di daerah Rasuna Said, Jakarta. Saya menemuinya pada Senin (12/12) pukul 14.15 WIB. Sesaat sebelum saya temui, ia juga masih harus melakukan pemotretan di daerah lain dan baru setelahnya menemui saya di gedung Femina.

Sekarang Anda sedang sibuk apa?

Saya pada minggu ini Femina sedang kedatangan tamu 20 Finalis Wajah Femina. Jadi mereka baru masuk karantina kemarin dan akan berakhir pada hari kamis. Jadi kesibukan saya yang paling utama adalah mempersiapkan Wajah Femina 2011 yang merupakan acara tahunan dari Femina. Jadi acara ini sangat besar. Skalanya Nasional. Tiap tahun kita harus memilih wanita-wanita muda yang kita angggap punya potensi atau punya bakat yang bisa dikembangkan dalam dunia entertainment, media dan modeling.

Bagaimana cerita Anda bisa sampai dipuncak karir seperti ini?

Sebenarnya saya tidak menganggap ini adalah sebuah puncak karir saya. Karena buat saya, mungkin ada baiknya, seseorang yang berkarir di suatu bidang kita mempunyai beberapa puncak karir yang ingin dicapai. Tapi kalau bagaimana saya bisa sampai di posisi ini? Sebetulnya, saya adalah lulusan S1 di Universitas Padjadjaran jurusan Ilmu Jurnalistik. Ketika saya lulus kira-kira di awal 90-an, saya langsung masuk ke majalah Gadis sebagai reporter. Jadi saya memulai karir sebagai wartawan cetak itu di majalah Gadis. Sebelumnya ketika saya kuliah, saya juga bekeraja sebagai media meskipun masih part time di Radio OZ di Bandung. Saya meniti karir di Gadis. Tujuh tahun atau enam tahun kemudian saya jadi Pemimpin Redaksi (Pemred) di majalah Gadis. Dan saya menjalani jabatan itu mungkin sekitar 2-3 tahun. Kemudian saya diminta untuk menajdi Pemred di majalah Femina. Memang saya memulai dari bawah. Saya memulai dari reporter. Masuk ke jalur manajemen sesuai dengan hierarki majalah. Tapi mungkin bagi sebagian orang yang melihatjalan itu atau proses itu cukup cepat.

Kenapa Anda pindah dari Gadis kemudian ke Femina?

Setelah saya menjadi Pemred di Gadis lalu 3 tahun kemudian kebetulan pada saat itu pada tahun 2003 atau akhir 2002 Femina itu sedang kosong Pemred-nya. Kalau disini Pemred itu dikontrak per 2-3 tahun. Jadi Pemred yang sebelumnya tidak melanjutkan kontraknya dan Femina harus mencari Pemred baru. Lalu mereka sepertinya sepakat untuk mencari Pemred dari dalam. Dan saya diminta untuk pindah ke Femina dengan alasan yang tentu banyak. Tetapi intinya, kalau secara teknik barangkali karena Femina itu terbit mingguan dan Gadis itu 10 harian, secara teknik saya tidak begitu mengalami banyak kesulitan mengelola majalah mingguan. Begitu. Dan barangkali alasan yang kedua, karena Gadis majalah nomor satu maka mereka juga mengharapkan saya mempunyai kinerja yang baik di Femina sebagai majalah wanita nomor satu di Indonesia. Saya kira saya pindah karena alasan itu.

Apakah tulisan Anda selalu berhubungan dengan Fashion atau musik?

Berkembang ya. Jadi waktu saya menjadi wartawan, minat saya bisa dibilang ke pop culture. Segala hal tentang pop culture itu saya minat sekali. Itu bisa menyangkut musik, film dan indutrinya, bisa menyangkut seni tapi yang pop, profil, dan review film. Nah, di dalam pop culture juga ada fashion. Tapi pada saat saya di Gadis saya melihat fashion itu lebih pada produk budaya. Ketika saya masuk ke Femina, minat saya memang bergeser. Karena kalau saya punya prinsip, kita boleh punya minat pribadi. Tapi kalau kita mau maju, kita harus menyesuaikan minat pribadi itu dengan dimana kita bekerja. Yang saya hadapi bukan anak-anak kecil lagi. Tapi yang saya hadapi adalah teman sebaya atau bahkan teman yang lebih kecil. Wanita Indonesia yang sudah dewasa. Dan ada di kelas menengah. Femina adalah majalah yang umum atau kita menyebutnya dengan general magazine for women. Jadi minat yang ada di dalamnya itu harus banyak. Kita ngomong politik, hukum, kesehatan, karir, bisnis, dan segala macam. Semua yang ada di majalah Femina harus saya minati, dan salah satunya adalah fashion.

Apa yang Anda rasakan menjadi seorang Pemred dan membawahi beberapa orang untuk membuat majalah yang baik?

Kalau orang luar melihat seorang Pemred apalagi dari majalah perempuan. It is a glamours job. Very glamours. Dalam berbagai segi. Saya akan bilang iya, it is. Ini pekerjaan yang sangat glamor. Dalam arti we are like a celebrity. Di dunianya. Dengan berbagai resiko. Resiko salah satunya ya sibuk banget. Atau kalau saya muncul di publik saya juga harus mulai berpikir bagaimana orang mempersepsi saya ya? Walaupun, I just be myself. Tetap saja orang melihat saya sebagai orang Femina. Dengan sebuah image tertentu. Pekerjaan ini stressful sebenarnya. Karena saya memiliki deadline setiap minggu. Saya ini membuat launching produk setiap minggu. Karena produk itu tidak boleh berulang kan? Untuk membuat launching produk itu saya bekerja dengan 50 orang dengan penunjang. Rasanya sih sibuk. Kadang-kadang capai juga. Tapi pekerjaan ini mungkin karena saya menyukainya, saya melihatnya sebagai tantangan. Tantangannya berbeda-beda setiap minggu. Justru itu membuat kita bertahan seperti ini. Kerjasama itu menjadi sesuatu yang utama. Saya tidak bisa bekerja sendiri.

Apakah sejak kuliah Anda juga sudah terlihat fashionable?

Sebenarnya waktu kecil saya tomboy. Sukanya pakai celana panjang even celana pendek. Saya sangat suka pakai celana pendek, nggak tahu kenapa. Waktu saya kuliah, mungkin saya biasa-biasa saja sebenarnya. Sama seperti mahasiswa lain. Barangkali waktu kuliah kita terbawa oleh suasana ya. Sewaktu saya kuliah saya sangat suka menggunakan celana panjang. Walaupun tidak selalu menggunaka jeans. Tapi, kalau saya melihat di era saya banyak lebih dandan. Saya selalu berpikir begini, orang itu memang berkembang. Dengan kesibukan saya mengikuti kegiatan senat atau BEM (Badan Ekeskutif Mahasiswa) dan juga saya bekerja di Radio OZ, jadi saya lebih memilih pakaian yang praktis yang pada saat itu juga lagi disukai. Cukup ikut trend tapi tidak sangat progressive. Mungkin karena saya juga nggak punya uang kan. Kalau saya disuruh memilih pada waktu itu beli baju baru atau majalah baru, mungkin saya akan lebih memilih membeli majalah baru. Waktu kuliah saya biasa-biasa saja.

Sejak kapan Anda menyukai fashion?

Saya merasa sejak kuliah saya senang melihat majalah baru fashion. Saya baca majalah Gadis pada saat itu dan majalah Dolly yang mahal banget.

Seberapa besar rasa suka Anda terhadap fashion?

Saya kira kalau buat perempuan ya, tentu bergradasi. Setiap orang punya prioritas-prioritas di dalam minta ya. Tapi kalau secara umum bisa saya lihat ya, perempuan pasti memiliki minta terhadap trend atau mode. Kenapa? Karena baju yang dia pakai adalah bagian dari  mode kan? Apalagi secara kasat mata, kita bisa lihat, baju perempuan sesederhana apapun jumlahnya lebih banyak dari baju laki-laki. Laki-laki semodis apapun, bajunya akan celana panjang, kemeja. Mungkin dia pakai jas atau t-shirt. That’s it. Tapi kalau perempuan. Dia bisa pakai celana panjang. Celana pendek. Blus. Kebaya. Dan yang lainnya. Sangat banyak tipenya. Sehingga sebetulnya perempuan itu mengeksplorasi gaya itu sudah melekat pada dirinya. Saya bukan melihat suka dengan fashion itu dari besar atau kecilnya. Tapi saya melihat. Satu, mode itu adalah suatu gaya hidup modern. Kedua, buat saya mode itu adalah personal statement. Jadi, pernyataan pribadi. Karena banyak orang bilang, you are what you wear. Atau first impression is only five second. Kalau kita percaya dengan kata-kata itu, maka yang terlihat pertama kali adalah bagaimana dia menampilkan diri. Bagaimana ia mempresentasikan dirinya pada saat itu kepada orang lain. Salah satu yang paling kelihatan adalah bagaimana ia mengenakan baju. Saya pikirkan itu cukup serius. Saya ingin menampilkan diri saya seperti apa. Because for me, what I wear itu adalah my personal statement. Saya ingin orang nggak mispersepsi terhadap baju yang saya pakai.

Seperti apa fashion yang ibu sukai?

My personal statement, my fashion statement adalah saya menyukai gaya yang simple, seek, dan elegant. Tapi sebenarnya gaya berpakaian saya nggak serius. Saya nggak suka baju yang terlalu formal. Mungkin hari ini baju saya sangat rileks ya. Katakanlah suatu hari saya harus pakai baju 3 potong. Rok, baju dalam, dan blazer. Kalau saya pakai baju yang tiga itu, pasti di baju saya ada yang aneh. Untuk memberika statement bahwa saya bukan orang yang terlalu formal sebenarnya. Mungkin saya pakai bros yang bentuknya lucu atau yang membuat orang tertawa, mungkin. Atau mungkin blazer saya bukan blazer laki. Tapi blazer perempuan yang mungkin ada rendanya. Tapi kalau saya pakai blazer yang laki-laki, mungkin saya akan pakai t-shirt. Tidak menggunakan kemeja.

Siapa orang yang menjadi inspirasi fashion Anda?

Saya nggak punya yang sangat spesifik. Tapi kalau di dunia. Saya sangat kagum ya, bukan meniru sebetulnya. Saya sangat kagum dengan Jackie Onassis. Dia ada di masa lalu kita. Mungkin dia ada di era orang tua saya. Dia adalah istri dari JFK, John F Kennedy Presiden Amerika di tahun 60-an. Yang kemarin anaknya baru meninggal kecelakaan pesawat terbang. Jackie O itu adalah seorang fashion icon. Yang dianggap di dunia fasion itu, gayanya tidak pernah mati. Jadi gayanya dia itu selalu diulang-ulang sampai sekarang. Salah satu yang saya kagumi adalah dia. Bagaimana cara dia berpakaian. Sederhana banget pakai bajunya. Tapi kita akan menoleh ke dia. Mungkin dia akan pakai baju yang “lurus” aja. Tapi dia akan pakai sepatu yang lucu. Dia nggak berlebihan. Kalau era sekarang, Keira Knightley. Menurut saya, dia orang muda yang menarik. Bagaimana cara dia memilih baju itu, menurut saya agak di luar dugaan.

Pengalaman apa yang tidak bisa Anda lupakan selama bekerja di majalah?

Banyak sekali. Saya sangat bersyukur saya bisa ada disini. Saya menjadi seperti ini saja sudah menjadi pengalaman yang saya kira saya harus bersyukur nggak  berenti-berenti. Nggak semua orang bisa mendapatkan prestasi itu. Itu saja sudah menjadi pengalaman yang luar biasa. Kalau berkaitan dengan pekerjaan, banyak. Mungkin kalau masih di Gadis, saya bisa pergi ke MTV manapun di dunia untuk liputan. MTV itu adalah sebuah institusi yang rileks. Kalau MTV membuat award di manapun, Amerika, Eropa, atau Asia. Wartawan dari seluruh dunia itu diperbolehkan untuk party bersama para artis yang dapat award. Dan ketika pesta itu, kita hanya membawa diri. Selama berani dan mungkin beruntung, kita bisa ngobrol dengan siapapun. Dan itu mungkin tak terganti ya.

Ada tidak perbedaan antara fashion Indonesia dengan fashion luar negri, menurut Anda?

Sekarang. Kalau kita bicara sekarang, banyak orang yang bilang “The world is flat”. Itu sebetulnya istilah yang mengacu pada perkembangan teknologi komunikasi sekarang. Dimana  dengan teknologi komunikasi digital, dunia  itu sudah menjadi kampung kecil. The small village. Dan itu sekarang sudah terbukti. Kalau kita bicara soal fashion, itu sangat terlihat. Kalau di Indonesia, fashion sebagai industry itu sedang berkembang ya. Tapi belum besar. Baru bermain sebagai kebutuhan.

Apakah Anda memang ingin menjadi wartawan yang bekerja di majalah?

Mungkin saya adalah orang yang melihat secara jujur kemampuan di dalam diri saya. Saya ini kemampuannya apa. Saya punya kemampuan apa yang bisa dikembangkan. Dan artinya saya akan berpikir juga apa yang sebenarnya jadi kekuatan saya. Tapi itu juga terdorong oleh lingkungan ya. Ketika saya remaja, saya senang sekali mendengar radio. Jadi ketika saya masuk ke radio OZ pun, dengan rasa penasaran juga. Sama ketika saya masuk ke Gadis. I want that job. Setelah saya masuk, saya baru lihat. This is my potential. Saya itu lebih kuat di feature. Dari situ saya mulai lebih serius melihat Gadis. Oke. Saya kayanya harus masuk ke media yang lebih feature. Dan saya dari awal memang memilih gaya hidup, karena minta-minat saya itu. Dan ternyata pilihan saya nggak salah. Saya menulis mendalam. Bukan menulis yang lebih straight news ya.

Melihat Anda yang sibuk dengan kegiatan, bagaimana tanggapan keluarga Anda?

Kebetulan saya belum menikah. Jadi saya melihat dari keluarga besar saya. Kelihatannya sih mereka sangat demokratis. Orangtua saya melihat pilihan yang dipilh oleh anak-anaknya. Saya tiga bersaudara. Saya paling besar. Adik saya dua. Adik saya yang perempuan dan yang kecil laki-laki. Bidang yang kita tekuni sama sekali jauh. Saya bekerja di media. Adik saya yang perempuan adalah seorang geologist. Dia berada di Kalimantan, di tambang. Adik saya yang laki adalah sarjana elektro ITB (Institut Teknologi Bandung). Dia bekerja di industry selular. Mungkin mereka belajar dari saya. Ketika saya ingin menjadi wartawan. Sepertinya orang tua saya itu, walaupun tidak dikatakan. Dia sudah tahu resikonya. Walaupun saya sudah bilang, saya tidak akan bekerja di media berita. Tapi saya akan bekerja di media gaya hidup. Saya tidak punya hambatan itu. Dan saya kira, kalaupun nanti saya akan menikah. Ya, saya harus mencari orang yang bisa mengerti pekerjaannya yang memang seperti ini.

Dari pihak keluarga, siapa yang memotivasi Anda hingga sebesar ini?

Orang tua saya selalu support atas pilihan anak-anaknya. Ketika saya memilih untuk masuk ke jurnalistik, ayah saya meng iyakannya dengan membelikan saya kamera dan tape recorder.

Nama Anda adalah Siti Fatimah atau Petty S. Fatimah?

Nama saya adalah Petty Siti Fatimah. Secara formal, nama saya itu Siti Fatimah. Tapi memang, nama Petty itu bukan nama baru. Saya dari kecil namanya Petty. Tapi nama atau nicknames itu tidak saya cantumkan di dokumen akademis. Petty itu kecil artinya.

Kalau di majalah itu kan Petty S. Fatimah, berarti S itu adalah Siti?

Ya. Petty Siti Fatimah. Kenapa saya menulisnya Petty S. Fatimah? Sebetulnya karena alasan praktis. Kepanjangan. Jadi saya bilang, kalau kepanjangan yang akan saya buang adalah nama tengah saja.

Harapan Anda mengenai fashion Indonesia?

Harapan saya adalah fahion itu adalah industry kreatif ya. Salah satu dari industry kreatif. Sudah terbukti di negara-negara maju. Seperti di Inggris contohnya. Pendapatan terbesar negara itu diperoleh dari industry kreatif. Yang terbesar lagi adalah industry mode. Jadi saya sangat berharap, Indonesia pun bisa begitu. Fahion itu penyumbang terbesar nilai eksport Indonesia tahun 2010. Itu saja sudah suatu bukti, bahwa sebenarnya kita punya potensi yang hebat di dunia fashion. Karena jumlah penduduk kita besar sekali. Kita negara yang sedang sangat berkembang. Secara ekonomi kita sudah disebut sebagai lima besar berikutnya kan. Kita berharap mungkin lima tahun dari sekarang, industry fashion Indonesia sudah tersebut namanya.

Apa target Anda kedepan?

Saya bukan orang yang bertarget pendek ya. Saya orang yang bertarget panjang. Saya pikir begini. Saya sudah memutuskan bahwa pilihan karir saya adalah media. Saya menyukai bidang ini, dan buat saya media ini bisa melakukan apapun. Sekarang orang kan harusnya nggak lagi berpikir digital atau elektronik. Saya siap saja untuk berkarir terus dibidang yang ini, dengan tantangan berikutnya. Seperti apa saya nggak tahu. Tapi kalau kita bicara Femina. Femina sedang go digital. Ini merupakan tantangan ya, karena awalnya Femina adalah media cetak. Bukan digital.

Pewawancara : Annisa Fitri Ademauna, Mahasiswi Semester 3 Program Studi Ilmu Jurnalistik, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran

One Comment:

  1. Sepertinya, kata "glamours" di sini maksudnya "glamorous", ya?

Leave a Reply