Perkebunan Teh Malabar, Sejarah dalam Tetirah

Perekebunan teh Malabar

Pelesir menelusuri jejak perkebunan teh di tanah Priangan, dirasa tak lengkap jika tak berkunjung ke Perkebunan Teh Malabar. Perkebunan Teh yang yang konon pada masa kolonialisme Belanda tersebut, berhasil menjadi kontributor utama perkembangan kemajuan Kota Bandung pada awal abad ke-20 ini, menyimpan banyak sejarah. Sebuah perjalanan tergurat hebat. Epik! adalah kata yang tepat menggambarkan bagaimana salah satu sistem paling menyengsarakan diterapkan pada rakyat Indonesia pada masa kolonialisasi, Cultuurstelsel. Ya, di sini tempat kami melihat, diorama sejarah dalam tetirah.

Kuda besi kami mulai berlari, meraung 45 km ke selatan Kota Bandung. Dengan buah kecintaan Haryoto Kunto terhadap Bandung di tangan, kami benar-benar penasaran. Kebetulan kami bertiga satu tujuan, lebih sialnya lagi, terjebak dalam satu perjalanan.

Menempuh perjalanan hampir 2 jam lamanya dari pusat Kota Bandung, membuat kami cukup kelelahan. Jalan yang berkelok-kelok dan curam diselingi kabut tipis membuat kami ekstra hati-hati, meski sesekali kami melakukan manuver-manuver pongah di jalan, layaknya sekelompok mardijker yang baru bebas dari tuan.

Siang hari biasanya matahari sedang bertugas memaksa bayangan kami bertumpu di bawah kaki. Namun, kami lupa saat itu sedang berada di salah satu tempat tersejuk di Bandung Selatan. Gapura sebagai wujud kongratulasi merupakan pertanda kami telah sampai di perkebunan yang kini dikelola PT Perkebunan Nusantara VIII ini. Cuaca ramah dengan suhu udara berkisar antara 16 – 26 °C, memaksa kami sedikit berleha-leha memandang kebun teh dengan luas 2022 hektar tersebut, sambil mencicipi udara segar yang sudah lama tak kami rasakan.

Cuaca Pangalengan yang menurut warga sekitar  hampir selalu mendung, dengan curah hujan yang tidak dapat diprediksi membuat kami ingin berteduh ke kediaman sang thee konig era awal 1900-an K. A. R. Bosscha. Bagi kami, Ia  bukan hanya seorang tuan tanah, tapi salah satu sokoguru perkembangan ilmu pengetahuan di Kota Bandung. Beberapa sumbangsihnya bagi masyarakat pribumi adalah, kebun teh Malabar, Societeit Concordia atau yang kita kenal sekarang dengan sebutan Gedung Merdeka, Observatorium Bosscha, dan Technische Hoogeschool yang kini dikenal dengan nama Institut Teknologi Bandung.

Kediaman Karel Albert Rudolf Bosscha, Pangalengan, Bandung Selatan

Benar saja, tak lama kami sampai di sebuah rumah bergaya kolonial Belanda, yang hingga kini masih terjaga. Beberapa pemugaran telah dilakukan, tapi keaslian tetap yang utama, “Sebagian besar barang-barang yang ada di dalam masih asli,” ungkap salah satu pengelola rumah tersebut. Kini, rumah tersebut digunakan oleh pihak direksi PT Perkebunan Nusantara VIII hampir tiap akhir pekan untuk keperluan acara khusus. Sayang sekali kami tidak bisa masuk ke dalam, dan hanya bisa mengintip dari jendela, karena saat itu sedang ada persiapan acara direksi.

Ada satu hal yang membuat kami merasa senang, ternyata di sekeliling kediaman filantropis Belanda ini, ada beberapa kamar, bungalow, dan rumah yang disewakan bagi pengunjung. Terdapat sekitar 11 kamar penginapan berkapasitas 2 orang, sembilan diantaranya adalah kamar standar atas dengan harga mulai Rp220.000,- hingga Rp385.000,-/malam, dan dapat naik hingga Rp495.000,-/malam pada liburan hari raya. Tersedia pula 7 rumah Camelia, rumah panggung tropis tradisional yang dapat menampung sekitar 6 orang pengunjung yang dibanderol dengan harga Rp715.000,-/malam pada hari biasa dan dapat naik hingga Rp880.000,-/malam pada hari raya. Untuk pengunjung yang membutuhkan tempat berkapasitas besar, dua buah wisma Melati, yakni penginapan berupa rumah tak jauh dari kediaman Bosscha pun disewakan. Konon, wisma Melati ini merupakan bekas kediaman Deputi Manajer pertama Malabar pada awal tahun 1900-an. Rumah pertama dapat memuat sekitar 40 orang, dan rumah kedua dapat memuat sekitar 50 orang dengan fasilitas 4 kamar tidur dan dua kamar mandi dibanderol dengan harga Rp990.000,- hingga 1.320.000,-.

Penginapan jenis "Rumah Camelia" di Perkebunan Teh Malabar, Pangalengan, Bandung

Ketiga fasilitas di atas merupakan pilihan bagi pengunjung. Namun, pengunjung pun harus dapat menentukan fasilitas mana yang paling cocok. Karena, walaupun Wisma Melati dibanderol lebih murah, segi perawatan daerah sekitar bangunan dan lokasi pun harus menjadi perhatian utama pengunjung. Daerah yang apik dan bersih tentu saja menunjang keselamatan dan keamanan pengunjung. Beberapa tempat memang terlihat terawat, tapi ada diantaranya yang sepertinya luput dari perhatian pengelola. Selain penginapan, tempat ini pun dilengkapi fasilitas rekreasi dan wisata ilmiah seperti, kolam renang air panas, camping ground, lapangan yang dapat disewakan untuk acara outdoor, tea walk. Kita pun dapat berkunjung ke makam K.A R. Bosscha.

Miftahul Firdaus salah satu pengunjung mengungkapkan ketertarikannya terhadap objek wisata Perkebunan Teh Malabar, “Jujur saja, objek wisatanya sangat menarik, tapi akses menuju tempat tersebut cukup sulit, harus menggunakan kendaraan pribadi atau travel, agak sulit jika menggunakan kendaraan umum,” jelasnya. Diakui Miftah, segi perizinan terkesan cukup rumit. Pengunjung tidak bisa langsung datang dan menginap, melainkan harus menghubungi kantor pusat PT Perkebunan Nusantara VIII di daerah Dago. Hal ini dilakukan karena perkebunan dan segala fasilitasnya dikelola oleh PT Perkebunan Nusantara VII.

Berziarah Ke Tempatnya Bertetirah

Peristirahatan terakhir Karel Albert Rudolf Bosscha

Bagi kami yang tumbuh dan besar pada era 1990-an tentu saja mengenal film anak-anak yang menjadi titik tumpu tumbuhnya industry perfilman Indonesia, Petualangan Sherina. Dalam film tersebut diceritakan, dua orang anak terjebak di sebuah tempat peneropongan bintang di daerah Lembang yang saat ini kita kenal dengan nama Observatorium Bosscha. Pendirinya adalah seorang preangerplanter yang karena kecintaannya terhadap Bandung, ingin abadi bertetirah di tengah Kebun Teh miliknya, Ialah K.A.R. Bosscha.

“Karel Alberet Rudolep Bosa nama lengkapnya teh,” seorang Bapak yang tak muda lagi tiba-tiba turut bergabung dalam percakapan seru kami bertiga. Dengan logat Sunda-nya yang kental, Ia menyebutkan nama lengkap Karel Albert Rudolf Bosscha. Bah Upir namanya, seketika kami mulai akrab, tentu saja karena kami pun berceloteh dalam bahasa yang sama, Bahasa Sunda. Bah Upir bercerita bahwa dahulu, Bosscha-lah yang meminta untuk dikuburkan di tengah-tengah ladang teh miliknya. Kecintaan dan kontribusi Bosscha terhadap Bandung adalah hal yang belum tentu dimiliki generasi saat ini. Sebuah ironi memang.

Bah Upir pun menyilahkan kami memasuki komplek pemakaman. Makam gaya Eropa dengan tembok tinggi menjulang di atapnya mirip kubah, hampir serupa dengan atap bangunan yang dulu selesai dibangunnya pada 1928, Observatorium Bosscha. Warna putih pun mendominasi, dengan dua buah kursi tempok putih tertanam di kanan dan kiri area berbentuk lingkaran tersebut. Takjub, inilah ternyata tempat peristirahatan terakhirnya. Memilih untuk mengabdikan diri sepenuhnya pada Malabar, bahkan hingga akhir hayat. Begitulah rumah sejati, tempat dimana Anda putuskan untuk beristirahat dengan tenang.

Itulah visualisasi liburan di kaki Malabar. Bagi kami, tak ada alasan untuk tak mencoba, karena kami selalu percaya ungkapan Paul Theroux, “Perjalanan itu bersifat pribadi. Kalaupun aku berjalan bersamamu, perjalananmu, bukanlah perjalananku,”. Kami tak lebih banyak tahu tentang dunia dan segala isinya, termasuk Anda. Maka, menjelajahlah!

(Arzia Halida Tivany / Irman Maulana / Dimas Edi Sembada)

Leave a Reply