Perkedel Bondon, Kuliner di Tengah Malam

Perkedel Bondon kuliner Bandung di malam hari

Siapa yang tidak suka dengan gorengan? Makanan ini hampir dinikmati oleh banyak orang dari berbagai kalangan. Harganya yang murah dan variasi gorengan menjadikan santapan ini dicari oleh orang. Tidak harus membeli, bahkan untuk masak sendiri pun bisa. Ada yang unik dari gorengan di Bandung. Perkedel Bondon, biasa orang-orang menyebutnya. Wajarnya gorengan dijual mulai sore hingga malam hari. Namun, berbeda dengan gorengan perkedel Bondon ini. Perkedel Bondon baru dijual jam 11 malam.
Pada umumnya, perkedel dijadikan lauk yang disajikan bersama nasi, tetapi warung perkedel Bondon yang bertempat di dekat Stasiun Hall selatan, Jalan Suniaraja dalam terminal lama ini disantap langsung. Selain perkedel Bondon, warung ini juga menyajikan aneka gorengan lainnya seperti perkedel jagung, tempe mendoan, dan tahu goreng.

Resep perkedel Bondon yang masih dipertahankan sejak tahun 1995

Perkedel yang berbahan dasar kentang ini dulunya disebut perkedel Kostes. Namun lama-kelamaan orang-orang menyebutnya perkedel Bondon karena perkedel ini hanya dijual menjelang tengah malam. Layaknya “bondon” yang dalam bahasa sunda adalah pelacur. Dulu sebelum krisis moneter, pelanggan perkedel ini kebanyakan wanita-wanita yang pulang dari diskotik.

“Biasa jam 3 subuh baru rame wanita-wanita dari diskotik makan disini,” ungkap Anes juru masak warung perdekel Bondon.

Kebanyakan pengunjung datang pada malam hari untuk menikmati perkedel Bondon dan sekedar bersantai

Untuk saat ini pelanggan perkedel Bondon kebanyakan dari kalangan mahasiswa. Tak hanya mahasiswa yang sengaja mampir tetapi tak jarang orang-orang bermobil juga menjadi pelanggan tetap perkedel yang satu ini.
Demi mencicipi cita rasa perkedel Bondon, pelanggan harus rela antri untuk mendapatkan perkedel kentang yang “fresh from the oven” ini, Nomer antrian yang disediakan hingga 40 nomer antrian. Perkedel disajikan bukan lagi hangat namun panas. Langsung diangkat dari penggorengan dan disajikan kepada pelanggan.

Pembuatan perkedel Bondon masih menggunakan alat tradisional dengan kompor arang dan pengolahan konvensional

Cara masak perkedel Bondon pun berbeda dengan gorengan biasa. Perkedel dimasak dengan menggunakan tungku arang. Sangat tradisional memang. Inilah yang masih dipertahankan oleh pemilik warung perkedel Bondon begitu pula dengan resepnya untuk mempertahankan cita rasa. Dari tekstur luar perkedel ini nampak crunchy, namun tekstur dalamnya lembut.

Robert, seorang pelanggan perkedel Bondon ini mengakui, perkedel kentang ini memang unik karena malam hari baru ada. Ia sekali-kali datang kesini untuk bernostalgia mengingat masa-masa kuliah dulu. “Rasanya sebenarnya biasa aja, tapi khas dan kekhasan itulah yang dicari”.

Masalah harga jangan khawatir, seperti gorengan pada umumnya, perkedel Bondon ini dijual dengan harga 1.000 rupiah. Pengunjung yang membeli kebanyakan langsung makan ditempat, namun tak sedikit pula yang dibungkus bawa pulang karena tempat yang disediakan untuk pengunjung tidak banyak.

Tak hanya perkedel Bondon saja, warung ini juga menyediakan gorengan jenis lainnya seperti perkedel jagung, tahu dan tempe mendoan.

Gorengan perkedel Bondon ini menjadi alternatif kuliner Bandung yang patut dicicipi pada malam hari. Namun jangan salah mencoba. Cobalah perkedel Bondon bukan bondon yang sebenarnya bondon.

Oleh : Rintang Azhar P, Muhammad Yusuf Z, Niken Arsia P

2 Comments:

  1. Wah Makasih Banyak Ya Informasinya sangat BErguna. Jadi Pengin Makan Nih Perkedelnya

  2. Good information and make me to try that food, so yummy :)

    come to Bandung

Leave a Reply