Beberapa Saat Menjadi Warga Jakarta

Penulis: Rizki Pratama, mahasiswa Jurnalistik Fikom Unpad angkatan 2011 kelas sore.

Hingga saat ini, televisi masih menjadi media massa favorit bagi banyak orang. Karakter utama suara dan gambar yang ditawarkan televisi menjadi daya tarik utama yang diberikan kepada masyarakat. Televisi juga berusaha memberikan kabar-kabar terkini lebih cepat dibandingkan surat kabar atau majalah. Saingan televisi dalam memberitakan dengan cepat peristiwa yang terjadi adalah radio dan media massa dalam jaringan (daring). Tetapi, karena kelebihan yang dimiliki oleh televisi, setiap orang yang mengonsumsi radio ataupun media massa daring pasti juga menonton televisi.

Televisi juga merupakan media massa yang menjangkau masyarakatnya secara luas. Kini telah ada 10 stasiun televisi swasta nasional dan TVRI sebagai satu-satunya lembaga penyiaran publik di Indonesia. Sedangkan televisi-televisi lokal di setiap daerah sudah tidak terhitung jumlahnya.

Isu yang disajikan sebuah televisi nasional seharusnya tertuju untuk seluruh masyarakat Indonesia. Lain halnya ketika peristiwa pelantikan Jokowi-Basuki sebagai gubernur dan wakil gubernur baru DKI Jakarta periode 2012-2017. Beberapa stasiun televisi swasta nasional seakan-akan membuat berita tersebut penting bagi seluruh warga Indonesia. Mereka secara serentak menyiarkan secara langsung proses pelantikan tersebut pada Senin, 15 Oktober 2012.

Masyarakat Bandung misalnya yang tidak terlalu menganggap penting peristiwa tersebut seakan-akan diubah menjadi warga ibu kota ketika menyaksikan siaran langsung di televisi sejak pagi hingga siang hari. Salah stasiun televisi swasta dengan pembawa acaranya ketika peristiwa tersebut berlangsung bahkan berbicara seakan-akan para penonton televisi mereka adalah warga DKI Jakarta semua. Seharusnya hal tersebut tidak terjadi, para pelaku dunia televisi baik di depan maupun di belakang layar mestinya sadar bahwa pemirsa televisi nasional adalah seluruh warga Indonesia.

Dari segi jurnalistik, berita tentang pelantikan gubernur baru DKI Jakarta memang besar unsur nilai beritanya. Tetapi khusus bagi warga ibu kota karena berkaitan dengan kedekatan lokasi peristiwa dengan tempat tinggal mereka. Tidak dengan masyarakat lainnya di luar wilayah Jakarta. Masyakarat yang tidak tinggal di Jakarta seraya dianggap menjadi warga Jakarta karena televisi-televisi yang menyiarkan secara langsung prosesi pelantikan gubernur baru tersebut dari mulai hingga selesai acara.

Menurut saya, sebaiknya setiap stasiun televisi swasta nasional lebih baik lagi dalam membentuk konteks-konteks peristiwa yang akan ditampilkan. Hanya beberapa jam saja sebuah berita ditayangkan, efeknya tentu akan sangat besar bagi penonton. Jangan sampai televisi membuat penonton menjadi boneka yang seolah-olah bisa dimainkan opininya. Televisi harus kembali pada kaidah-kaidah yang benar dalam dunia jurnalistik. Saya mengutip sebuah tulisan Dr. Dede Mulkan (dosen Fikom Unpad) dalam akun facebook-nya menyebutkan : “Mari kita CERDAS membuat BERITA, agar dihasilkan pemirsa yang juga CERDAS menonton BERITA.”

Sebagai sebuah media massa, televisi harus berfungsi mengajarkan masyarakat agar menjadi pintar, bukannya menggurui dan membuat penonton menjadi jengkel dari apa yang dimunculkannya.

Leave a Reply