Apresiasi Musik Lewat Fotografi

 

Musik, selain dapat dinikmati secara audio juga dapat dinikmati secara visual. Salah satu caranya adalah melalui stage photography atau fotografi panggung. Melalui cara ini, para fotografer menangkap semua aksi seorang musisi di atas panggung sehingga bisa dinikmati oleh penggemarnya. Semua aksi yang terekam kamera tersebut menjadi visualisasi musik para musisi yang memainkannya.

 

stage photographer

Ananda Suryo Anindyo (23), stage photographer, sekaligus manajer band Dried Cassava.

 

Visualisasi musik lewat stage photography inilah yang dilakukan oleh Ananda Suryo Anindyo, yang akrab dipanggil Suryo. Pria kelahiran Jakarta, 26 September 1989 telah giat menjadi stage photographer sejak 2008. Kemampuan memotretnya telah ia asah sejak kelas 5 SD.

“Pertama kali belajar motret karena disuruh ayah gue. Waktu SD, gue sama ayah gue ke daerah Menteng setiap Minggu lalu kita masuk ke rumah orang yang menurut ayah menarik. Awalnya, ayah gue yang foto-foto tapi lama kelamaan jadi gue yang disuruh mengambil foto,” jelasnya. “Awal mula memotret, foto-foto gue adalah foto arsitektur.”

Setelah lama memotret menggunakan kamera analog, ia lalu bertemu dengan kamera DSLR sewaktu kelas 2 SMP. Ia pun mulai giat memotret aksi band teman-temannya saat tampil di atas panggung dengan kamera Canon 350D kesayangannya. Sampai akhirnya ia mencoba memotret SORE, band indie rock asal Jakarta saat launching album di tahun 2008.

“Abis foto, gue iseng upload ke Facebook lalu nge-tag ke semua personil SORE. Ternyata foto-foto gue direspon positif sama mereka.” ujar Suryo. Sejak saat itu, ia pun diajak oleh para  personil untuk menjadi fotografer band. Pekerjaan pertama yang dilakukan saat menjadi fotografer SORE adalah di acara Jakarta Rock Parade di tahun 2008.

Pekerjaannya sebagai stage photographer terus ia tekuni sembari menjalankan kuliahnya di Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan, Bandung. Kewajibannya untuk memotret aksi panggung SORE setiap kali mereka tampil membuat Suryo yang lahir dan besar di Jakarta harus bolak balik ke Jakarta. Hal ini ternyata berpengaruh kepada nilai kuliahnya di semester-semester awal.

“Sempat ada ultimatum dari orang tua untuk nggak memegang kamera lagi karena nilai gue jelek, tapi nggak ngaruh. Gue tetap megang kamera,” ujarnya sambil tertawa. Suryo tetap konsisten menjalani hobi yang kini telah menghasilkan uang baginya.

Saat SORE memutuskan untuk hiatus di tahun 2009, Suryo mengalami fase “menganggur”. Ia tidak memiliki pekerjaan memotret yang tetap seperti saat SORE masih aktif tampil di berbagai acara. Beruntung, salah seorang temannya mengajaknya untuk memotret aksi panggung beberapa artis lokal dan internasional di bawah nama Jakartaconcerts.com.

“Di tahun 2008-2009, Jakartaconcerts.com, kan sedang naik daun. Nah, disitu gue diajak sama Ryan (Novianto, admin Jakartaconcerts.com) memotret untuk Jakartaconcerts.com,” jelasnya. Beberapa artis mancanegara yang telah berhasil dipotret oleh Suryo diantaranya adalah The Temper Trap, Tame Impala, Feist, dan Royksopp.

Fotografi, selain menjadi hobi, juga menjadi sarana apresiasi musik dari Suryo kepada musisi-musisi yang dipotretnya. Saat memotret untuk SORE di acara Djakarta Atmosphere tahun 2009 lalu, Tika & the Dissidents, band indie/jazz asal Jakarta, juga ikut main di acara tersebut. Musiknya yang menarik serta aksi panggung yang seru membuat Suryo tertarik untuk memotret band ini. Hasil foto yang menurutnya paling menarik lalu dicetak olehnya dan diberikan kepada Kartika Jahja, sang vokalis, sebagai tanda apresiasinya terhadap musik Tika & the Dissidents.

 

aksi panggung Tika & the Dissidents

Salah satu hasil karya favorit Suryo ketika menangkap aksi panggung Tika & the Dissidents

Bentuk apresiasi yang dilakukan oleh Suryo ini disambut baik oleh Tika dan bandnya. Kesempatan untuk menjadi stage photographer pun kembali terbuka baginya. Suryo kembali diajak oleh band indie terkemuka di Indonesia untuk menjadi fotografernya.

“Saat mulai motret untuk Tika (& the Dissidents), gue mulai membangun network untuk pekerjaan gue,” ujarnya. Usahanya membangun relasi membuahkan hasil. Ia mulai banyak mendapat tawaran untuk memotret musisi-musisi indie lain seperti The Trees and The Wild, Grace Sahertian, dan L’alphalpha.

Walaupun banyak memotret untuk musisi indie, ia tidak pernah menganggap dirinya sebagai “fotografer resmi” band tertentu. Semua pekerjaannya sebagai fotografer selalu dikerjakan atas nama pertemanan. Ia tetap dibayar, namun tidak pernah terikat dengan satu band.

Selain karena hobi dan pertemanan, Suryo melakukan pekerjaannya dengan senang hati karena menyukai musik dari musisi yang dipotretnya. Baginya, musik yang bagus menjadi motivasi untuk menangkap aksi para musisi di lensanya.

Faktor musik ini jugalah yang menentukan apakah ia akan mengambil pekerjaan yang ditawarkan kepadanya atau tidak. Upah besar yang ditawarkan oleh temannya pernah tidak diambil olehnya karena alasan musik yang tidak disukai olehnya.

“Gue merasa kalau gue suka musiknya, foto yang dihasilkan akan bagus. Kalau gue nggak begitu suka musiknya, gue merasa motretnya nggak pakai hati,” ujar Suryo. “Bayaran boleh besar, tapi kalau musiknya nggak bisa gue nikmati, lebih baik nggak.” Kecintaannya pada musik juga terlihat saat ia menjadi manajer salah satu band Jakarta, Dried Cassava.

 

Signature Style

Setiap fotografer pasti memiliki kekhasannya sendiri dalam setiap karyanya. Umumnya, fotografer-fotografer yang karyanya telah komersil memberikan watermark di setiap fotonya. Namun, hal tersebut tidak berlaku bagi Suryo. Baginya, watermark hanya akan merusak keindahan karyanya.

Gaya khas lain yang dimiliki Suryo adalah foto-fotonya yang selalu berwarna hitam putih. Hal ini diakui oleh Niken Pristandari, fotografer GeeksBible.com dan salah satu teman seprofesi Suryo.

“Suryo rata-rata, kan fotonya hitam putih. Dia pintar menggabungkan tone hitam putih di setiap fotonya,” ujar Niken. “Setiap foto terasa benar-benar ingin dia sampaikan dengan baik.”

Bagi Suryo, setiap foto panggung yang dihasilkan olehnya bukanlah untuk sekadar dokumentasi saja. Stage photo yang dibuat olehnya merupakan sebuah karya seni. Karena hal tersebut, Suryo selalu membuat foto-fotonya enak dilihat dan memiliki nilai estetika yang tinggi.

Ciri khas foto yang dihasilkan Suryo yang lainnya adalah orientasi foto yang diambilnya. Setiap hasil karyanya selalu berorientasi landscape. “Gue nggak suka foto portrait,” ujarnya. Baginya, foto landscape punya nilai seni tersendiri.

Signature style yang dimiliki merupakan inspirasi dari banyak sumber. Sumber inspirasinya diantaranya adalah dari foto-foto yang dihasilkan Brantley Gutierrez, fotografer asal Amerika Serikat yang memotret band-band internasional seperti Coldplay dan Incubus, dan Ryan Meginley, fotografer AS yang memotret Sigur Ros untuk cover albumnya. Foto-foto Gutierrez dan Meginley banyak mempengaruhi Suryo dalam mengambil foto.

Sumber inspirasi lain bagi Suryo adalah foto-foto wartawan Hai, Ardhian Wisnu Pratama, dan fotografer/videografer Zeke Khaseli dan The Trees and The Wild, Dimas Wisnuwardono. Suryo banyak belajar dari kedua orang tersebut di bidang stage photography.

Kehebatan Suryo dalam mengambil momen yang pas dan menentukan komposisi foto yang baik tentu tidak muncul begitu saja. Layaknya fotografer lainnya, ia juga mengalami kesulitan di setiap foto yang ia ambil. Namun, kesulitan-kesulitan tersebut dijadikan pelajaran untuknya agar bisa mengambil foto yang lebih baik. “Gue mengatasi semuanya dengan learning by doing,” ujarnya.

Kemauannya untuk mau belajar dari kesalahan membuat Suryo menciptakan sebuah album foto khusus di akun Facebook-nya https://www.facebook.com/anandasurio. Album yang diberi nama “My Eyes, My Perspective” ini berisi seluruh hasil karya yang dianggap paling baik oleh dirinya sendiri. Album tersebut bertujuan untuk melihat perkembangan dirinya dalam fotografi agar ia bisa menjadi fotografer yang lebih baik lagi.

 

menunjukkan karya

Suryo sedang menunjukkan karyanya saat diwawancarai di Siete Cafe (22/3)

 

Sebagai fotografer yang sering meng-upload hasil karyanya ke akun media sosial seperti Facebook, Suryo tidak keberatan jika foto-fotonya “dicuri” oleh orang lain.

“Silakan saja kalau mau ambil, tapi menurut gue, foto panggung itu susah dicuri. Kalau sudah dicuri, mau dibuat apa?” ujarnya. Ia menganggap bahwa foto panggung yang “dicuri” oleh orang lain itu akhirnya hanya akan dijadikan pajangan bagi mereka. Hal ini, menurut Suryo, bukanlah sesuatu yang menjengkelkan, melainkan menjadi penghargaan tersendiri baginya.

“Gue malah senang kalau ada orang yang minta foto gue untuk dicetak dan dipajang olehnya,” jelasnya.

Suryo yang sudah melanglang buana di dunia stage photography kini selain sibuk menyelesaikan skripsinya juga aktif menjadi videografer Sounds From The Corner, sebuah website yang mendokumentasikan musik dari musisi Indonesia dengan kualitas profesional. Ia juga mengajar fotografi panggung di Sunday Class yang diselenggarakan oleh Gigsplay.com.

Pria yang kini berusia 23 tahun ini berpesan kepada para fotografer pemula untuk tidak lupa mencetak hasil karyanya dalam bentuk fisik. Menurutnya, mencetak foto memiliki kepuasan tersendiri.

“Jangan diletakkan di media sosial terus! Coba sekali-sekali cetak hasil foto sendiri lalu pajang di kamar. Pasti rasanya beda dari meng-upload ke internet,” ujarnya.

Oleh: Riska Rahman, Stefani Imanensia, Anggita Muslimah MPS

Leave a Reply