Dewi Kusmianti: Berbagi Melalui Sampah

Foto oleh: Panji Arief S.

Foto oleh: Panji Arief S.

Sering diundang menjadi narasumber di stasiun televisi nasional dan muncul di beberapa media tidak lantas menjadikan Dewi Kusmianti (37) sejahtera. Hingga saat ini, Dewi masih mengontrak di RW 011 Kelurahan Cibangkong, Kecamatan Batununggal, Kota Bandung. Dilema pun dirasakan Dewi saat pemilik kontrakan mengabarkan akan menjual kontrakkan tersebut dan mengharuskan Dewi pindah bersama keluarganya.

“Mau pindah, tapi saya sudah merintis tempat sampah RW 11 sampai seperti sekarang. Kalau mau tetap disana, saya dapat uang Rp 40 juta dari mana buat beli kontrakkan itu,” ujar Dewi.

Dewi adalah pengelola bank sampah di wilayahnya. Usaha ini dirintis sejak tahun 2009 bersama sang suami, Tonton Paryono. Dengan bantuan warga sampah dipilah-pilah antara organik dan non-organik. Sampah organik akan diubah menjadi kompos, sementara sampah non-organik akan didaur ulang atau diresidukan.

“Saya tidak mengajak orang. Tetapi saya mencontohkannya,” terang perempuan kelahiran 20 Juni 1975 ini.

Foto oleh: Panji Arief S.

Foto oleh: Panji Arief S.

Sebelumnya, Dewi bekerja sebagai pembersih kaca mobil di lampu merah Jl. Laswi. Bersama suami dan ketiga orang anaknya, ia tinggal di jalan selama bertahun-tahun. Dewi juga pernah bekerja sebagai petugas kebersihan di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Studi Mitra Lingkungan. Setiap akan membersihkan papan tulis, ia selalu membaca coretan didalamnya. Dari sinilah ketertarikannya akan pengelolaan sampah dimulai.

Sadar tidak dapat bekerja sendiri. Ia lantas mengajak para tetangganya membentuk komunitas Masyarakat Sadar Lingkungan (My Darling). Berbagai kegiatan dilakukannya atas nama My Darling. Berbagai acara televisi seperti Kick Andy dan Hitam Putih telah mengundangnya. Sumbangan dan dana bantuan pun banyak diterima oleh Dewi. Namun bagi Dewi semua itu untuk masyarakat.

“Saya harus amanah. Saya nggak ambil sepeser pun dari uang itu. Saya takut kalau gak berkah,” ujar perempuan asal Serang ini.

Selain menjadi pengelola bank sampah, Dewi juga bekerja sebagai pengasuh bayi dan tukang ojek. Sementara suaminya bekerja sebagai pengangkut sampah. Semua ini dilakukan untuk membiayai kebutuhan dapur dan biaya hidup keluarganya. Anak pertama Dewi, Ayu (17) menderita diabetes, anak kedua Yusuf (14) menderita autis, dan si bungsu Ani (11) menderita radang otak.

Dewi memegang salah satu tas daur ulang miliknya. Foto oleh: Panji Arief S.

Dewi memegang salah satu tas daur ulang miliknya. Foto oleh: Panji Arief S.

Sejak 2011, Dewi juga mendirikan Sekolah Ibu yang pelatihannya setiap sabtu. Melalui sekolah ini ia mengajarkan cara mendaur ulang sampah agar bisa menghasilkan produk ekonomi. Dewi sering diundang menjadi pembicara atau berbagi mengenai pengalamannya.

“Saya gak pasang tarif, seikhlasnya saja orang kasih. Saya dapat ilmunya gratis, jadi bagi-baginya juga gratis,” tambah Dewi.

(Lis Pratiwi/ Panji Arief S./ Ika Fatma R.)

Leave a Reply