Mang Dadeng : Karena Bung Karno

 

Pada usianya yang sudah tidak muda lagi, Dadeng memilih tinggal di Bandung dan menjalankan bisnisnya agar kelak anak-anaknya dapat melanjutkan jerih payahnya dalam membangun sebuah warung mie kocok yang cukup ternama di Bandung. Lahir di daerah Rancakalong, Sumedang, pada tahun 1945 Dadeng kemudian pindah ke Bandung bersama keluarganya. Ia menempuh 44 KM dengan berjalan kaki bersama keluarganya selama dua hari.

Dengan bekal sebuah sabak (semacam papan tulis kecil untuk menulis), Dadeng mencatat semua catatan sekolahnya di Sekolah Rakyat. Ia harus menghapal semua pelajaran yang diberikan karena sabak yang ia miliki harus dipakai untuk menulis pelajaran baru.

Sejak awal Dadeng selalu ditekan untuk mempelajari cara berdagang dari ayahnya. Dari empat bersaudara, hanya Dadeng yang melanjutkan usaha ayahnya dalam berjualan mie kocok. Sejak usia 17 tahun, sekitar tahun 1958, Dadeng sudah berkeliling memanggul dagangannya. Beberapa tahun setelah itu, ia menggunakan gerobak untuk berkeliling menjajakan dagangannya. Ketika berkeliling, Dadeng mengaku dagangannya dapat habis dalam selang waktu tiga jam saja. Dadeng selalu dipukul jika ia tidak mau berjualan.Logo Mie Kocok Mang Dadeng

Mie Kocok Mang Dadeng

Pada tahun 1992 Dadeng mulai membuka warung mie kocok di jalan Banteng, Bandung. Warung mie kocok yang diberi nama “Mie Kocok Mang Dadeng” ini kemudian terus berkembang dan menjadi salah satu tempat mie kocok yang banyak dikunjungi ketika liburan tiba. Dalam menjalankan bisnisnya, pria yang lahir pada tahun 1942 ini pernah ditipu, oleh karena itu dia sangat berhati-hati bahkan tidak mau membuka cabang baru lagi. Meskipun cabang mie kocok yang ia miliki cukup banyak, bahkan ditawari membuka cabang di Belanda, ia lebih memilih tidak membuka cabang lagi dengan alasan keadaan saat ini juga sudah cukup bagi dirinya.

Mang Dadeng selalu mengutamakan kualitas masakannya. Jika masakannya sudah siap, Warung Mie Kocok Mang Dadeng juga sudah siap untuk dibuka. Tempat ini selalu ramai dikunjungi terlebih lagi saat akhir pekan. Pria yang selalu menggunakan kaos singlet dan celana pendek ini mengatakan biasanya banyak juga jendral-jendral atau pejabat yang datang kesini. Ia berkata jika nanti akan ada kerugian, pasti juga ada keuntungan yang bisa didapatkan. Ia tetap bertahan berjualan di jalan Banteng karena menurutnya orang-orang sudah mengetahui keberadaannya di sana dan tidak perlu pindah atau membuka cabang lagi.

Mang Dadeng dan Lukisannya

Di umurnya yang sudah 70 tahun, tiga bulan lalu kondisi kesehatannya sempat menurun, bahkan hampir meninggal. Namun, saat ini kondisi badannya kembali segar seperti sebelumnya. Ia sempat mengalami sakit komplikasi seperti darah tinggi dan kencing manis, bahkan dokter sudah angkat tangan, namun karena kepercayaan dirinya dan pengobatan tradisional, ia masih bertahan sampai sekarang. Dalam kesehariannya, Dadeng hanya memantau perkembangan warung mie kocoknya dan memancing ke beberapa daerah di Jawa Barat.

Lukisan diri Mang Dadeng

Selain pengusaha mie kocok, Mang Dadeng juga merupakan salah satu aktivis PDI. Ia mulai aktif dalam PDI bersamaan dengan ibu Megawati Soekarno Putri, tahun 1998. Di dalam warung mie kocoknya juga terdapat lukisan dirinya yang menggunakan seragam PDI. Ia menganggap perjuangan Megawati itu merupakan perjuangan yang sangat hebat dan jujur, sayangnya karena banyak orang lain (partai lain) masuk ke tubuh PDI, hal tersebut membuat PDI mulai hancur secara perlahan.

Anak ke dua dari pasangan Usman dan Asih ini tertarik terjun ke dunia politik karena memandang anak-anak dan keluarga Soekarno. Ia tidak mau mencalonkan diri sebagai penguasa karena ia sadar pendidikannya hanya sampai Sekolah Rakyat. Ia selalu menjadi pengamat keadaan politik yang sedang terjadi. Menurutnya, banyak sekali korupsi yang terjadi di Indonesia. Uang rakyat diambil, rakyat ditipu, pejabat memiliki harta kekayaan yang berlimpah dan tidak sesuai dengan gaji yang ia terima. Mang Dadeng juga menyebutkan beberapa nama yang menurutnya tersangkut dengan kasus korupsi.

Ia mengaku mengenal beberapa tokoh dari PDI dan sering memberikan saran-saran bagi orang-orang yang datang padanya. Bahkan Ayi, wakil Walikota Bandung, juga merupakan orang yang disuruhnya untuk mencalonkan diri saat pemilihan Walikota Bandung. Saat ini Mang Dadeng sudah tidak aktif dalam PDI, tapi masih banyak orang-orang PDI yang meminta saran kepadanya.

Suami dari Nana Rohanah ini sangat menghargai perjuangan mantan presiden Soekarno. Baginya Soekarno adalah pemimpin yang sangat dekat dengan rakyatnya. Ia selalu berkata, “Ketika ditahan oleh Belanda, Soekarno ditawari makan gamau, minum gamau, rokok juga gamau, alasannya jika rakyatku diberi makan aku akan makan, jika rakyatku tidak diberi makan aku tidak akan makan.”

Baginya sosok Soekarno sangat besar perjuangannya demi memerdekakan negara Indonesia. Kecintaannya terhadap Soekarno dapat terlihat dari banyaknya poster Soekarno yang ia pajang di dinding warung mie kocoknya. Menurutnya, tampa Soekarno, Indonesia tidak akan merdeka.

Ir. Soekarno

(Ani Dwi Utami – Indah Afif Khairunnisa – Sri Oktika Amran)

Leave a Reply